Peringatan Terhadap Bentuk Loyalitas kepada Orang Kafir

jabat-tangan.jpg

Peringatan Terhadap Bentuk-Bentuk Perilaku Loyalitas Kepada Orang-orang Kafir

1). Saudaraku yang muslim, berhati-hatilah dari tasyabbuh (mengikuti/menyerupai) orang-orang kafir dalam berpakaian dan lainnya yang merupakan ciri khas, adat dan ibadah mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Siapa saja yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk kaum tersebut.” (HR. Abu Dawud)

2). Waspadalah dari tasyabbuh (menyerupai) mereka seperti mencukur jenggot dan memanjangkan kumis, berbicara dengan bahasa mereka tanpa keperluan.

3). Jangan bepergian ke negara-negara kafir kecuali karena darurat, janganlah menetap di negara kafir, pindahlah dari negara tersebut kecuali jika engkau tidak sanggup untuk melakukannya.

4). Jangan sekali-kali Anda membantu orang kafir dan menolong mereka melawan orang Islam.

5). Janganlah Anda memuji-muji dan menyanjung orang kafir, karena membela dan takjub kepada mereka tanpa memperhatikan aqidah mereka yang batil (salah) termasuk wala (loyalitas) yang diharamkan.

6). Jangan memakai dan mencintai nama-nama mereka dan yang sejenisnya.

7). Jangan memintakan ampun untuk orang kafir, dan jangan mengasihi orang-orang kafir yang sudah meninggal.

8). Jangan ikut serta dalam perayaan hari raya mereka, (jangan) menolong mereka untuk melaksanakan perayaan tersebut, (jangan) mengucapkan selamat ataupun menghadirinya.

9). Haram hukumnya bagi seorang muslim menjadikan mereka sebagai teman dekat, atau memberikan wewenang kekuasaan kepada mereka (untuk mengatur) orang-orang Islam, (haram) meminta tolong kepada mereka dalam peperangan kecuali dalam kondisi darurat yang disertai adanya amanah dari orang (kafir) yang dimintai tolong tersebut.

10). Haram menggunakan penanggalan dengan tanggal mereka yang mencerminkan tentang ibadah dan hari raya mereka seperti penanggalan dengan mesehi. Wallahu a’lam.


Sumber : Kitab Tauhid al-Ibadah, Syaikh Muhammad bin Syami bin Matha’in Syaibah, hal. 46.

Penyusun : Amar Abdullah Abu Umair

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel Hisbah di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: