Perumpamaan Orang-orang yang Nahi Mungkar dan Yang Tidak

kapal-tenggelam.jpg

Dari AnNu’man bin Basyir rahiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihiwasallam bersabda:

مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللَّهِ وَالْوَاقِعِ فِيهَا كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ ، فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلاَهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا ، فَكَانَ الَّذِينَ فِى أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنَ الْمَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ فَقَالُوا لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِى نَصِيبِنَا خَرْقًا ، وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا . فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا ، وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيعًا

Perumpamaan orang yang mengingkari kemungkaran dan orang yang terjerumus dalam kemungkaran adalah bagaikan suatu kaum yang berundi dalam sebuah kapal.Nantinya ada sebagian berada di bagian atas dan sebagiannya lagi di bagian bawah kapal tersebut. Yang berada di bagian bawah kalaingin mengambil air, tentu ia harus melewati orang-orang di atasnya. Mereka berkata, “Andai kata kita membuat lubang saja sehingga tidak mengganggu orang yang berada di atas kita.”Seandainya yang berada di bagian atas membiarkan orang-orang bawah menuruti kehendaknya, niscaya semuanya akan binasa. Namun, jika orang bagian atas melarang orang bagian bawah berbuat demikian, niscaya mereka selamat dan selamat pula semua penumpang kapal itu.” (HR. Bukhari no. 2493).

Rasulullah shallallahualaihiwasallam sangat cerdas dalam berdakwah, beliau memakai bermacam-macam metode agar risalah yang beliau sampaikan mudahditangkap oleh umatnya, salah satu metode beliau dalam berdakwah adalah dengan menggunakan perumpamaan-perumpamaan yang cocok sehingga dapat ditangkap dengan mudah oleh kita. Dalam hadits ini Rasulullah shallallahualaihi wasallam memberikan gambaran tentang tiga golongan manusia; pertama golongan yang terjerumus kepada perbuatan mungkar, kedua golongan yang menegur orang-orang yang melakukan kemungkaran, ketiga golongan yang membiarkan adanya kemungkaran dan tidak mempedulikannya.

Golongan pertama adalah orang-orang yang melakukan maksiat dan kemungkaran.Nabi mengumpamakan mereka dengan orang-orang yang bertempat dibagian bawah kapal, lalu mereka ingin mengambil air laut dengan melobangi dinding bawah kapal dengan alasan agar tidak mengganggu dan mendesak orang-orang yang berada di atas mereka!?

Demikianlah logika orang-orang yang melakukan maksiat dan kemungkaran, seringkali mereka beralasan bahwa mereka tidak menganggu orang lain, padahal jika cobaan dari Allah turun kepada suatu masyarakat disebabkan segelintir orang yang melakukan maksiat, mereka tidak akan bias menolak cobaan tersebut dari masyarakat. Di beberapa ayat Al-Qur’an yang menyebutkan kisah umat-umat terdahulu yang diadzab,menjelaskan bahwasanya tidak semua mereka melakukan maksiat, tetapi ketika adzab Allah turun ia akan mengenai semuanya baik yang melakukan atau tidak kecuali mereka yang mengingkari kemungkaran seperti kisah Ashhabussabt.

Golongan kedua adalah mereka yang taat terhadap perintah dan larangan Allah disertai rasa cemburu terhadap agama islam dan ketidak relaan jika syariat Allah dilanggar, mereka senantiasa mengharap ridho Allah dan takut bilamana Allah murka dikarenakan segelintir orang disekitarnya berbuat maksiat sedang ia berdiam diri. Mereka berusaha untuk memperbaiki diri dan juga orang-orang sekitar mereka. Golongan ini diumpamakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan golongan yang melarang orang-orang yang ingin melobangi kapal dari bawah u ntuk menjaga keselamatan bersama, karena jika mereka ditinggalkan seluruh penghuni kapal akan tenggelam.

Golongan ketiga adalah mereka yang taat kepada syariat Allah namun tidak peduli terhadap maksiat disekitar mereka. Mereka diumpamakan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam dengan orang-orang yang membiarkan kapal dilobangi karena mereka merasa tidak ikut-ikutan. Mereka sama dengan orang-orang Bani Israel yang membiarkan maksiat merajalela dengan alasan tidakikut-ikutan, akibatnya ketika adzab Allah turun menimpa semua yang dihampirinya baik yang berbuat maksiat atau yang membiarkannya.

Allah subahanahu wata’alaber firman tentang Bani Israel:

لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِن بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوا وَّكَانُوا يَعْتَدُونَ (78) كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَن مُّنكَرٍ فَعَلُوهُ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ (79)

Telah dila’nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam.yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan Munkar yang  mereka perbuat. Sesungguhnya Amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (QS. Al-Maidah: 78-79).

Imam Al-Qurthubi menafsirkan ayat ini dengan menyebutkan suatu riwayat dari ‘Abdullâhibnu Mas’ûdradhiyallahu’anhu,  Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda :

” إِنَّ أَوَّلَ مَا دَخَلَ النَّقْصُ عَلَى بَنِى إِسْرَآئِيْلَ كَانَ الرَّجُلُ يَلْقَى الرَّجُلَ فَيَقُوْلُ : ” يَا هَذَا ! اتَّقِ اللهَ وَدَعْ مَا تَصْنَعُ فَإِنَّهُ لاَ يَحِلُّ لَكَ ” ثُمَّ يَلْقَاهُ مِنَ الغَد فَلاَ يَمْنَعُهُ , ذَلِكَ أَنْ يَكُونَ أَكِيْلَهُ وَ شَرِيْبَهُ وَ قَعِيْدَهُ , فَلَمَّا فَعَلُوْا ذَلِكَ ضَرَبَ الله قُلُوْبَ بَعْضِهِمْ بِبَعْضٍ “.

Sesungguhnya awal mula masuknya kekurangan (terjadinya kesalahan) dalam Bani Isrâil adalah dahulu seseorang (yang baik) bertemu dengan orang lain (yang berbuat buruk) seraya berkata : ‘Hei takutlah kamu kepada Allah, dan tinggalkan apa yang kau lakukan, sesungguhnya itu tidak halal bagimu’. Kemudian esoknya ia bertemu lagi dengan orang itu namun tidak lagi ia melarangnya, bahkan ia justru menjadi teman makan, minum dan duduknya. Maka tatkala mereka lakukan itu Allah pun menghitamkan hati sebagian mereka (yang baik) dengan sebab sebagian mereka (yang buruk)”.Lalu beliau membaca ayat ini, kemudian bersabda kembali :

” كَلاَّ وَاللَّهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ وَلَتَأْخُذُنَّ عَلَى يَدَيِ الظَّالِمِ وَلَتَأْطُرُنَّهُ عَلَى الْحَقِّ أَطْرًا وَلَتَقْصُرُنَّهُ عَلَى الْحَقِّ قَصْرًا ”

Sungguh, Demi Allah, Hendaknya engkau benar-benar menyerukan yang ma’ruf, dan benar-benar mencegah yang munkar, dan sungguh-sungguh menentang tangan-tangan orang Zhâlim, dengan benar-benar mengembalikannya kejalan yang Haq, dan benar-benar menjaganya di jalan yang Haq”.(HR. Abu Dawud&Tirmidzi).

Perumpamaan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam ini memberikan pelajaran bagi kita bahwa suatu masyarakat tidak akan ditimpa adzab selama masih ada orang-orang baik diantara mereka yang melarang dan mengingatkan dari perbuatan maksiat. Tapi ketika semuanya diam sedang maksiat merajalela dimana-mana maka disitulah murka Allah turun baik kepada yang melakukan maksiat atau tidak.Wallahulmusta’an

Marilah kita mengambil pelajaran dan berinteropeksi diri dari setiap kejadian bencana alam, wabah, dan musibah yang terjadi di sebagiantempat di Indonesia, mungkin kita kurang memiliki rasa cemburu terhadap syariat Allah subhanahu wata’ala. Semoga Allah senantiasa melindungi keluarga kita dan masyarakat kita dari segalamusibah dan adzab, sesungguhnya Ialah sebaik-baik tempat berlindung.

Wallahuta’alaa’lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: