Petunjuk Nabi dalam Mengisi 10 Hari Terakhir Bulan Romadhan

perahu-kuning.jpg

Pembaca yang budiman…

Pertama, hendaklah kita ketahui dan menyadari bahwa sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk nabi kita Muhammad shallallohu ‘alaihi wasallam, ini berdasarkan sabda beliau –shalalllohu ‘alaihi wasallam– ,

فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ  صحيح مسلم – (3 / 11 )

Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah kitab Alloh dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad-shallallohu ‘alaihi wasallam. Seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan dan setiap bid’ah adalah sesat (HR. Muslim, 3/11).

Adapun  petunjuk beliau-shallallohu ‘alaihi wasallam dapat berupa perkataan beliau, atau tindakan/perbuatan beliau, atau persetujuan beliau.

 

Pembaca yang budiman…

Kedua, terkadang beliau menyampaikan petunjukkan berkaitan dengan momen-momen tertentu, sepeti 10 terakhir dari bulan romadhan. Dan, inilah pokok bahasan singkat kita dalam tulisan ini.

 

Pembaca yang budiman…

Bila kita telah memasuki sepuluh terakhir dari bulan romadhan hendaklah kita berusaha mengikuti petunjuk beliau-shallallohu ‘alaihi wasallam. Adapun di antara petunjuk beliau adalah :

Beliau semakin bersungguh-sungguh dalam melakukan amal lebih dari kesungguhan beliau dalam mengisi hari-hari  sebelumnya. Di dalam Shohih Muslim,  ‘Aisyah –semoga Alloh meridhoinya- meriwayatkan,

أنَّ النبيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كان يجتهدُ في العَشْرِ الأواخِرِ ما لا يجتهدُ في غيره.

bahwa nabi shallallohu ‘alaihi wasallam biasanya bersungguh-sungguh pada 10 akhir ( romadhan-ed) tidak seperti kesungguhan beliau pada selainnya.

Dan di dalam shohihain dari ‘aisyah juga, ia berkata,

كان النبيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذا دخلَ العَشرُ شَدَّ مِئزره وأحيا ليلَه وأيقظ أهلَه

Adalah nabi shalallohu ‘alaihi wasallam bila 10 terakhir romadhan telah tiba, beliau mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.

Dan, di dalam al-Musnad, (disebutkan hadis) dari ‘Aisyah, ia berkata,

كان النبيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْلِطُ العِشْرين بصلاةٍ ونومٍ فإذا كان العشرُ شمَّر وشدَّ المِئزرَ

Adalah nabi shallallohu ‘alaihi waslalam biasa menggabungkan antara sholat (malam) dan tidur. Lalu, bila telah tiba 10 ( malam terakhir-ed), beliau bergadang dan mengencangkan ikat pinggang.

 

Pembaca yang budiman…

Kesungguhan beliau meliputi segala macam bentuk peribadatan, baik berupa sholat, membaca al-Qur’an, berdzikir, bersedekah dan lainnya. Karena nabi shallallohu ‘alaihi wasallam mengencangkan ikat pinggangnya, yakni : beliau menjauhkan diri dari istri-istri untuk menlaksanakan sholat, dan Dikir, disamping karena beliau menghidupkan malamnya dengan melakukan qiyamullail, membaca al-qur’an, berdzikir dengan hati dan lisannya serta dengan anggota badannya karena mulianya malam-malam ini dan juga dalam rangka mencari lailatul qodr yang mana bila seseorang melakukan qiyamullail saat itu karena keimanan dan mengharapkan pahala dari Alloh, niscaya Alloh mengampuni dosanya yang telah lalu.

 

Pembaca yang budiman…

Zhohir hadis tersebut, bahwa beliau shallallohu ‘alaihi wasallam menghidupankan malam seluruhnya untuk beribadah kepada robnya baik dengan berdzikir, membaca al-Qur’an, Sholat, makan sahur dan yang lainnya. Dengan ini, diperolehlah penggabungan antara hadis ini dengan hadis yang diriwayatkan oleh imam Muslim bersumber dari ‘Aisyah, ia mengatakan,

ما أعْلَمُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ ليلةً حتى الصباحِ

Aku tidak mengetahui beliau shallallohu ‘alaihi wasallam melakukan qiyamullail pada suatu malam hingga tiba waktu subuh.

Karena, menghidupkan malam merupakan perkara yang valid dilakukan pada 10 terakhir dari bulan romadhan dengan melakukan sholat, dan ibadah yang lainnya. Wallohu a’lam

 

Pembaca yang budiman…

Beliau shallallohu ‘alaihi wasallam “ membanngunkan keluarganya “ pada malam-malam ini agar mereka menunaikan sholat, berdzikir dan lainnya sebagai bentuk ketamakan beliau terhadap pemanfaatan malam-malam yang penuh keberkahan ini dengan melakukan berbagai macam bentuk ibadah, karena malam-malam ini merupkan kesempatan umur, dan merupakan ghonimah bagi siapa saja yang diberi taufiq oleh Alloh azza wajalla-semoga Alloh memberikan taufiq kepada kita. Maka, tidaklah selayaknya seorang mukmin yang berakal sehat kehilangan kesempatan yang berharga ini, baik untuk dirinya sendiri maupun keluarganya  sementara malam-malam ini hanya sebentar, siapa tahu ia mendapatkan lailatul qodr sehingga hal tersebut menjadi sebab kebahagiaan baginya di dunia dan akhirat.

 

Pembaca yang budiman…

Di antara petunjuk beliau dalam mengisi 10 hari terakhir dari bulan romadhan ini adalah beliau “ beri’tikaf”, yakni : menetapi masjid untuk konsentrasi melakukan ketaatan kepada Alloh azza wajallam.

Abu Sa’id al-Kudriy –semoga Alloh meridhoinya- meriwayatkan bahwa nabi shallallohu ‘alaihi wasallam beri’tikaf pada 10 hari pertama dari bulan romadhan, kemudian beri’tikaf pada 10 hari pertengahan(kedua), kemudian, beliau bersabda,

«إني اعتكِفُ العشرَ الأوَّل الْتَمِسُ هذه الليلةَ، ثم أعْتكِفُ العشرَ الأوسطَ، ثم أُتِيْتُ فقيل لي: إنها في العشرِ الأواخرِ، فمن أحبَّ منكم أنْ يعتكِفَ فَلْيَعْتكفْ» (الحديث) رواه مسلم

Sesungguhnya aku beri’tikaf pada 10 hari pertama mencari malam ini (yakni : lailatul qodr-ed), lalu aku beri’tikaf pada 10 hari pertengahan(kedua), kemudian aku didatangi (malaikat-ed) lalu dikatakan kepadaku, sesungguhnya lailatul qodr itu terdapat pada 10 malam yang terakhir, oleh karena itu maka barang siapa diantara kalian yang suka untuk beri’tikaf hendaklah ia beri’tikaf ( yakni : di 10 terakhir dari bulan romadhan-ed) (HR. Muslim)

Di dalam Shohihain, dari ‘Aisyah, ia berkata,

كان النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يعتكفُ العشرَ الأواخرِ مِنْ رمضانَ حتى توفاه الله عزَّ وجلَّ. ثم اعتكف أزواجُه مِن بعدِه

Adalah nabi shallallohu ‘alaihi wasallam biasa beri’tikaf pada 10 hari terakhir dari bulan romadhan hingga Alloh azza wajalla mewafatkan beliau. Kemudian para istri beliau beri’tikaf sepeninggal beliau.

Dan, di dalam Shohih al-Bukhori, dari Aisyah juga, ia berkata,

كان النبيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يعتكفُ في كلِّ رمضانَ عشرةَ أيامٍ. فلما كان العامُ الذي قُبِضَ فيه اعتكفَ عشرين يوماً

 Adalah nabi shalllallohu ‘alaihi wasallam biasa beri’tikaf pada setiap bulan romadhan selama sepuluh hari. Lalu, pada tahun di mana beliau diwafatkan beliau beri’tikaf 20 hari.

Dan, dari Anas –semoga Alloh meridhoinya, ia berkata,

كان النبيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يعتكِف العشرَ الأواخرَ مِن رمضانَ، فلم يعتكفْ عاماً، فلما كان العامُ المقبلُ اعتكفَ عشرينَ، رواه أحمد والترمذي وصححه

 Adalah nabi shallallohu ‘alaihi wasllam beri’tikaf pada 10 hari terakhir dari bulan romadhan. Beliau tidak melakukan I’tikaf pada suatu tahun. Maka pada tahun berikutnya beliau beri’tikaf selama 20 hari(HR. Ahmad dan at Tirmidzi, dan beliau menshohihkannya)  Wallohu a’lam

Semoga Alloh memberikaan taufiq kepada kita. Aamiin. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada nabi kita Muhammad beserta segenap keluarga dan para sahabatnya.  (Abu Umair)

 

Sumber Rujukan :

Diringkas dengan sedikit gubahan dan tambahan dari kitab “ Majalis Syahru Romadhan, karya : Syaikh Muhammad bin Sholih bin Muhammad al-Utsaimin (wafat : 1421 H), penerbit : al-Jami’ah al-Islamiyyah,  Madinah al-Munawwaroh, Cet.IV, th.1408 H  , lihat : Maktabah Syamilah

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: