Raih Ketentraman Jiwa dengan Jujur

Raih-Ketentraman-Jiwa-dengan-Jujur.jpg

Tahukah Anda mengapa jiwa seseorang terkadang mengalami gundah-gulana dan tidak nyaman? Barangkali ketidakjujuran itulah salah satu sebabnya. Cobalah perhatikan diri Anda, ketika misalnya Anda mengatakan perkataan yang berbeda dengan kenyataan, alias berdusta, atau melakukan tindakan dusta dalam berbagai bentuknya, apa yang kemudian Anda rasakan dalam hati kecil Anda? Gundah gulana tidak nyaman dan seterusnya. Hal demikian itu karena, hati Anda sesungguhnya bercahaya sementara ketidak jujuran itu akan meredupkan cahaya yang bersinar pada hati Anda. Maka ketika Anda berdusta cahaya hati Anda berkedap kedip sebagai sinyal yang menunjukkan adanya masalah besar yang menghinggapinya.

Dengan demikian, kejujuran menjadi kunci yang akan dapat menenteramkan jiwa.

عَنْ أَبِي الْحَوْرَاءِ السَّعْدِيِّ قَالَ: قُلْتُ لِلْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ : مَا حَفِظْتَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ قَالَ: حَفِظْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لا يَرِيبُكَ فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ

Abu Al-Hawa-ri As-Sa’diy mengatakan, aku pernah bertanya kepada al-Hasan bin Ali, apa yang engaku hafal dari (sabda) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? ia menjawab: aku hafal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Tinggalkan apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu, sesungguhnya kejujuran itu adalah ketenangan dan sesungguhnya kedustaan itu membuat kegulandahan.” (HR. At-Tirmidzi, no. 2518)

Oleh karenanya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mewajibkan kepada setiap hamba Allah untuk jujur dalam berkata maupun dalam berbuat dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam melarang dusta baik dalam perkataan maupun dalam perbuatan.

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

“Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Muslim no. 6805)

Mengapa orang yang berdusta dengan lisannya cenderung untuk menyusul dengan tindakan yang tidak baik untuk menutupi kedustaan ucapannya? Karena, itu muncul atas pergolakan jiwa yang tidak tenang disebabkan oleh ucapan dustanya. sehingga melahirkan ketidaktenangan dalam tindakannya. Maka, ia senantiasa tidak mendapatkan ketenangan itu, ia sedemikian takut kedoknya akan tersingkap sehingga ia terus secara keras berusaha untuk menutupinya dengan melakukan serangkaian tindakan yang bertolak belakang dengan kata hatinya.

Sedangkan orang yang berkata jujur dengan lisannya cenderung untuk menyusulnya dengan tindakan yang baik, tindakan kejujuran pula. Hal tersebut muncul karena kuatnya pengaruh cahaya yang memancar dari dalam hingga dapat menembus ke luar jiwanya menerangi jalan, sehingga ia pun menyusuri jalan dengan kondisi yang terang benderang, mengetahui jalan mana yang harus dilewatinya dan jalan mana pula yang tidak patut dilewatinya. Cahaya itu membimbing anggota badannya untuk menempuh jalan keselamatan, sehingga tindakan kebaikanlah yang kemudian dilakukannya.

Semoga Allah azza wajalla memberikan kepada kita ketenangan jiwa melalui kejujuran ucapan dan tindakan kita. Amiin.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada nabi kita Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya.

Penulis : Amar Abdullah bin Syakir

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: