Rasulullah Sebagai Teladan Bagi Para Da’i

perahu-kuning.jpg

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di berikan amanah oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk menyampaikan risalah kepada umatnya, oleh karena itu tugas utama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah berdakwah. Lika-liku kehidupan beliau semenjak diutus sampai sepeninggal beliau adalah berdakwah, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنْ عَلَيْكَ إِلَّا الْبَلَاغُ

“…Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah)…” (QS. Asy-Syura: 48).

Terkadang beliau berdakwah sendiri dan terkadang mengutus salah seorang sahabatnya untuk berdakwah ke suatu tempat, seperti ketika beliau mengutus Ali radhiyallahu’anhu untuk berdakwah kepada orang-orang yahudi pada peristiwa perang khaibar dan ketika mengutus Mu’adz radhiyallahu’anhu kepada penduduk negeri Yaman. Hematnya, dakwah adalah panji yang dikobarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan diteruskan oleh para penerusnya walau dengan menghadapi berbagai rintangan berat, sehingga terkadang beliau dan para sahabat perlu untuk mengangkat senjata guna untuk melawan musuh-musuh islam yang menghambat dakwah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Dalam kehidupannya sehari-hari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tak henti-hentinya berdakwah dalam setiap keadaan yang beliau lalui, beliau tak akan membiarkan seseorang melakukan kesalahan atau meninggalkan suatu perintah dan beliau mengetahuinya tanpa menasehatinya. Hati beliau yang penuh kasih sayang kepada umatnya tak rela jika umatnya terluput dari suatu kebaikan atau terjerumus kepada suatu kemungkaran.

Metode dakwah beliau yang lemah lembut namun tegas dan mengena adalah teladan bagi kita setiap yang ingin berdakwah kepada jalan yang benar. Dalam berdakwah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tak memperlakukan semua orang dengan perlakuan yang sama, beliau selalu menghadapi berbagai macam manusia dengan perlakuan yang sesuai, sehingga dakwah beliau mudah diterima oleh mereka. Terkadang seseorang menolak kebenaran bukan karena ia tidak tahu akan kebenaran hal tersebut, tetapi karena ia tidak bisa menerima orang yang menyampaikan kebenaran tersebut kepadanya. Metode Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang dihiasi dengan akhlaqul karimah adalah metode terbaik dalam berdakwah. Dakwah yang beliau laksanakan dengan metode yang baik dan cara yang tepat, telah memberikan hasil yang sangat cemerlang dimana penganut agama islam didunia saat ini sudah mencapai miliaran jiwa.

Terkadang Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengajari dengan lemah lembut seperti saat mengajari Umar bin Abu Salamah yang saat itu masih anak-anak cara makan yang baik, yaitu dengan membaca ‘Bismillah’ terlebih dahulu kemudian makan dengan tangan kanan dan seterusnya. Beliau juga pernah mengajarkan beberapa nasehat kepada Abdullah bin Abbas rahiyallahu’anhuma yang tak lain adalah sepupunya, beliau bersabda yang artinya, “…Wahai ananda, saya akan mengajarkan kepadamu beberapa perkara: Jagalah Allah, niscaya dia akan menjagamu, Jagalah Allah niscaya Dia akan selalu berada dihadapanmu...” dan seterusnya. Beliau juga bersikap lemah lembut ketika seorang badui masuk masuk masjid dan buang air di salah satu sudut masjid, sebagian para sahabat yang melihat perbuatan yang tidak pantas tersebut langsung naik pitam dan menghardiknya dengan keras, namun Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menenangkan para sahabat dan menyuruh mereka untuk membiarkannya menyelesaikan hajatnya lalu menyiram kotorannya dengan seember air sampai bersih. Rupanya akhlaq rasul yang bergitu mulia tersebut telah menarik hati si orang badui sehingga ia mendoakan rasul dan mendengarkan nasehat dari beliau.

Terkadang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menggunakan cara yang tegas, Imam Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah melihat cincin emas pada tangan seorang lelaki, maka beliau mencabutnya lalu membuangnya kemudian bersabda:

يَعْمِدُ أَحَدُكُمْ إِلَى جَمْرَةٍ مِنْ نَارٍ فَيَضُعَهَا فِي يَدِهِ؟

Apakah Salah seorang kalian sengaja mengambil bara api dari neraka lalu meletakkannya di tangannya?”.

Setelah itu lelaki tersebut membiarkan cincin emas tersebut dan tidak mau memungutnya kembali walau terbuat dari emas, salah seorang bertanya kepadanya setelah kepergian Rasulullah, “ambillah cincinmu itu, mungkin engkau bisa memanfaatkannya.” Lelaki tersebut menjawab, “demi Allah selamanya saya tidak akan pernah mengambilnya, karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sudah membuangnya.”

Terkadang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga marah ketika batas-batas Allah subhanahu wa ta’ala dilanggar. Beliau pernah memarahi Usamah bin Zaid radhiyallahu’anhuma yang membunuh seseorang yang telah bersyahadat dalam suatu peperangan dengan alasan orang tersebut mengucapkan kalimat syahadat semata-mata karena takut dari pedang dan bukan karena masuk islam, maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memarahinya dan bersabda yang artinya, “apakah engkau telah membelah hatinya?” maksudnya apakah engkau telah membelah hatinya  sehingga engkau bisa tahu atas dasar apa ia mengucakan kalimat syahadat?

Demikianlah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam berdakwah sebagai teladan bagi kita, beliau selalu memperhatikan keadaan orang yang yang akan beliau nasehati dan keadaan apa yang ia alami. Beliau tidak menyamakan antara menasehati anak-anak dengan menasehati orang dewasa, antara menasehati para sahabat yang mengerti agama dengan menasehati orang badui yang sama sekali belum mengerti tentang agama, beliau selalu memberikan obat yang sesuai bagi masing-masing penyakit, dan tidak menggunakan satu obat untuk semua penyakit.

Ditulis oleh: Arinal Haq

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: