RIBA ANTARA HIDUP SENANG DAN HIDUP TENANG

HIDUP-MULIA-TANPA-RIBA.jpg

Hidup senang dalam artian mapan dan kaya tidak bisa dipungkiri adalah impian manusia, dan berbagai cara dilakukan untuk mendapatkannya. Namun sebab kebutuhan hidup yang semakin menekan menjadikan sebagian orang menghalalkan segala cara untuk mewujudkannya, dan salah satu cara haram yang mereka gunakan itu adalah jalan RIBA. Sebagaimana firman-Nya:

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS Al Baqarah: 275)

Islam mengajarkan anak adam untuk bersikap qana’ah dalam menjalani kehidupan ini, antara sabar dan syukur, dengan dibarengi usaha maksimal beriring tawakal kepada-Nya. Maka tindakan yang diambil sebagian saudara kita untuk mendapatkan hidup senang dengan pinjaman riba sejatinya mereka sedang melupakan bahwa selain hidup senang, manusia juga butuh hidup tenang.

Untuk itu, bagi mereka yang tergesa-gesa mengejar kehidupan mewah, pada akhirnya mereka lelah sendiri karena konsekuensi kehidupan mewah tersebut berbalik mengejar-ngejarnya. Cicilan rumah di komplek elit, mobil mewah, pinjaman bank untuk usaha, dsb yang mana hal-hal itu hanyalah tuntutan rasa gengsi, bukan sebab nominal gaji yang memang sudah cukup untuk mendapatkannya. Jadilah mereka orang yang paling menderita di tanggal gajian sebab gaji mereka langsung habis untuk segala bentuk cicilan, hingga sampai pada titik tekanan yang tidak sehat tersebut melahirkan penyakit di jasmaninya. Belum lagi anak istri yang sudah terbiasa menerima tanpa peduli bagaimanapun caranya. Kesemuanya ini karena motto yang salah, hanya mencari hidup senang bukan hidup tenang. Maka apakah sebabnya?

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.” (QS Taha: 124)

 

Maka dari itu Allah Ta’ala dan Rasul-Nya telah memperingatkan tentang riba, bahwa keharamannya dapat menghancurkan segalanya: Martabat diri, Keluarga, Usaha, dan masa depan, yaitu Akhirat.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

«اجْتَنِبُوا السَّبْعَ المُوبِقَاتِ»، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ؟ قَالَ: «الشِّرْكُ بِاللَّهِ، وَالسِّحْرُ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالحَقِّ، وَأَكْلُ الرِّبَا، وَأَكْلُ مَالِ اليَتِيمِ، وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ، وَقَذْفُ المُحْصَنَاتِ المُؤْمِنَاتِ الغَافِلاَتِ». (رواه الشيخان، وأبو داود، والنسائي)

“Hindarilah oleh kalian tujuh perkara penghancur!”, Para sahabat bertanya: “Apakah itu wahai Rasulullah?”, Beliau menjawab: “Menyekutukan Allah, Sihir, Membunuh jiwa tanpa alasan yang benar, DAN MEMAKAN RIBA, memakan harta anak yatim, kabur dari peperangan, dan menuduh wanita baik-baik sebagai pezina”. (HR Bukhari-Muslim, Abu Dawud dan An Nasa’i)

Jadi, silahkan pilih jalan hidup anda: sekedar hidup senang atau ingin tenang juga?

 

Ditulis oleh: Muhammad Hadhrami Achmadi, Mahasiswa Fak Syari’ah LIPIA JAKARTA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: