RIBA: PENGHALANG REZEKI DAN PENGHAPUS KEBERKAHANNYA

say.jpg

Menolak untuk diatur seakan sudah menjadi tabi’at manusia, hingga sampai pada satu titik dimana ia merasakan dampak dari perbuatannya tersebut. Begitu sama  halnya dengan  riba, padahal sudah tegas pengharamannya didalam Al Qur’an dan Hadits, seperti firman-Nya:

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا ۗ وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا ۚ

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”. (QS Al Baqarah: 275)

Namun orang-orang tidak mengindahkan aturan ilahi ini, disatu sisi ia mengharap rezeki dari Allah Ta’ala, namun disisi lain ia tidak mengikuti prosedur yang dibuat oleh-Nya untuk mendapatkan rezeki itu.

Apakah mereka baru jera dari riba sampai mereka betul-betul bangkrut dan kehilangan semuanya?

Mereka tidak menyadari bahwa riba telah merusak semua yang mereka miliki tanpa terlihat oleh kasat mata. Dimata mereka semuanya baik-baik saja: Usaha mereka lancar, rumah dan kendaraan mereka bagus, Anak Istri mereka mendapatkan penghidupan yang layak. Namun sejatinya semua itu semu: tidakkah mereka merasa bahwa usaha mereka hanyalah pekerjaan yang membuat stress dan menambah penyakit? Gaji mereka yang langsung habis untuk cicilan rumah dan kendaraan? Istri pembangkang, atau suami bejat, anak-anak yang durhaka, yang hanya mementingkan diri sendiri? Dan hubungan keluarga besar yang semrawut, dan seterusnya. semuanya adalah efek negatif riba yang seperti kanker, baru terasa jika sudah stadium tinggi.

Hal yang seperti inilah yang dimaksudkan oleh Baginda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ اللهَ تَعَالَى طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّباً، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِيْنَ فَقَالَ تَعَالَى : ,يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحاً – وَقاَلَ تَعَالَى : , يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ – ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ ياَ رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِّيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لَهُ . [رواه مسلم]

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anha berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Wahai manusia, sesungguhnya Allah Maha Baik dan hanya menerima yang baik. Sesungguhnya Allah telah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk (melakukan) perintah yang disampaikan kepada para nabi. Kemudian beliau membaca firman Allah, ‘Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amalan yang shaleh. ’ Dan firman-Nya, ‘Hai orang-orang yang beriman, makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami anugerahkan kepadamu. ’ Kemudian beliau menceritakan seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh (lama), tubuhnya diliputi debu lagi kusut, ia menengadahkan tangannya ke langit seraya berdoa, ‘Ya Rabbku, ya Rabbku’. Akan tetapi makanannya haram, minumannya haram, dan ia diberi makan dengan yang haram. Maka bagaimana mungkin doanya dikabulkan.”  (HR. Muslim)

 

Bagaimana mendapatkan rezeki berkah dari usaha yang bermodalkan pinjaman haram? Bagaimana mendapatkan ketenangan dirumah yang dibeli dari uang haram? Bagaimana mendapatkan perjalanan yang menyenangkan dengan kendaraan yang ada dan jalan dengan biaya haram? Bagaimana mendapatkan keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah jika anak istri disuapi dengan makanan haram?

Jawabannya adalah:

فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَىٰ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَمَنْ عَادَ فَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Maka orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya’’. ( QS Al Baqarah:275)

 

Muhammad Hadhrami Achmadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: