Runungan Ayat Amar Ma’ruf Nahi Mungkar (3)

Renungan-Ayat-Amar-Maruf-Nahi-Mungkar-3.jpg

Amar ma’ruf nahi mungkar bukanlah perintah yang baru ditetapkan ketika Nabi saw diutus, perintah ini sudah ada dari sejak zaman para nabi dan ummat-ummat terdahulu. Allah mencela sebagian ahlul kitab (yahudi & nasrani) yang tidak mengajak kepada kebaikan dan mencegah akan terjadinya kemunkaran, sebaliknya Ia memuji mereka yang senantiasa peduli terhadap batas-batas yang telah digariskan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Marilah kita mengkaji ayat yang memuji sebagian dari ahlul kitab terdahulu karena mereka melaksanakan kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar, Allah berfirman:

لَيسُواْ سَوَاء مِّن أَهلِ ٱلكِتَٰبِ أُمَّة قَائِمَة يَتلُونَ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ ءَانَاءَ ٱلَّيلِ وَهُم يَسجُدُونَ.  يُؤمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱليَومِ ٱلأخِرِ وَيَأمُرُونَ بِٱلمَعرُوفِ وَيَنهَونَ عَنِ ٱلمُنكَرِ وَيُسَٰرِعُونَ فِي ٱلخَيرَٰتِ وَأُوْلَٰئِكَ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ .

Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sembahyang). Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang ma´ruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Ali-Imran: 113-114)

Imam Al-Baghawi menyebutkan dalam tafsirnya mengenai ayat ini, “Ibnu Abbas dan Muqatil berkata: ketika Abdullah bin Salam radhiyallahu’anhu dan teman-temannya masuk islam pendeta-pendeta Yahudi berkata: ‘tidaklah beriman kepada Muhammad kecuali orang-orang terburuk dari kita, kalau bukan karena itu mereka tidak akan meninggalkan agama nenek moyang mereka.’ Maka setelah itu Allah menurunkan ayat ini.”

Imam Ibnu Katsir berkata, “ayat yang mengatakan لَيْسُوا سَواءً  (Mereka itu tidak sama) maksudnya adalah mereka (yahudi & nasrani) tidak semua sama, diantara mereka ada yang beriman dan ada pula yang tetap kafir, oleh karena itu Allah berfirman setelah itu مِنْ أَهْلِ الْكِتابِ أُمَّةٌ قائِمَةٌ (di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus) maksudnya adalah lurus dengan melaksanakan perintah Allah dan taat terhadap syariat-syariatnya serta mengikuti Nabi Allah.”

Beberapa pelajaran yang dapat kita petik dari ayat diatas:

Pertama, Dalam ayat ini Allah memuji Ahlul  kitab yang sudah beriman dengan enam perkara; (1) Membaca ayat-ayat Allah, (2) Bersujud (sembahyang). (3) Beriman kepada Allah dan hari akhir, (4) Menyeru kepada yang ma´ruf, (5) Mencegah dari yang munkar, (6) Bersegera mengerjakan kebaikan.

Setelah menyebutkan sifat-sifat diatas Allah mengabarkan bahwa mereka termasuk orang-orang yang shaleh. Ini adalah kedudukan yang sangat tinggi karena Allah langsung yang memberikan mereka rekomendasi sebagai orang-orang shaleh.

Al-Alusi berkata, “Firman Allah yang berbunyi وَأُوْلَٰئِكَ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ (mereka itu termasuk orang-orang yang saleh) maksudnya adalah mereka tergolong kedalam golongan orang-orang yang posisinya di sisi Allah sudah baik. Dan ini adalah bantahan bagi orang-orang yahudi yang mengatakan: tidaklah beriman kepada Muhammad kecuali orang-orang terburuk dari kita.”

Kedua, Sebagian orang menggunakan ayat diatas sebagai dalil untuk mengatakan bahwa orang yahudi atau nasrani zaman sekarang jika berbuat baik dan beramal shaleh akan masuk surga sebagaimana orang islam, sehingga setiap orang bebas memilih agama yang disukai karena semuanya menuju surga. Padahal ayat diatas tidak ada kaitannya dengan ahlul kitab yang hidup di zaman sekarang, ayat ini berbicara tentang mereka yang dahulunya beragama yahudi kemudian masuk islam dan beriman kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihib wa sallam seperti Abdullah bin Salam dan beberapa sahabat lainnya. Sedangkan mereka yang tetap dalam agama selain islam setelah diutusnya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam maka tergolong orang kafir dan amalan mereka tidak diterima kecuali setelah masuk agama islam.

Ketiga, ayat ini menyebutkan enam ciri orang-orang shaleh, dan salah satunya adalah amar ma’ruf nahi mungkar.

Imam Ghozali berkata, “Allah tidak memberikan stempel kepada mereka sebagai orang shaleh dengan sekedar beriman kepada Allah dan hari akhir sampai mereka melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar.”

Keempat, dengan firman Allah yang mengatakan وَأُوْلَٰئِكَ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ (mereka itu termasuk orang-orang yang saleh) maka mereka telah keluar dari golongan Ahlul Kitab yang Allah cela dalam ayat-ayat sebelumnya dan masuk kedalam barisan orang-orang shaleh.

Wallahua’lam bisshowab

Referensi:

  1. Tafsir Al-Baghowi.
  2. Tafsir Ibnu Katsir.
  3. Ruuhul Ma’aniy.
  4. Ihya’ Ulumiddin.

Penulis: Arinal Haq

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: