Segala Bentuk Pengesaaan adalah Milik Allah

tauhid-for-Allah.jpg

Dengan menyebut nama Allah, Yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang

Tidak ada daya dan kekuatan kecuali atas pertolongan Allah Dzat yang Mahatinggi lagi Mahaagung.

Abu Dzar meriwayatkan dari Rasullullah yang beliau riwayatkan dari Allah tabaraka wa ta’ala, bahwa Dia berfirman,

يا عِبَادِي إِنِّى حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِى وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوا يَا عِبَادِى إِنَّكُمُ الَّذِينَ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا الَّذِى أَغْفِرُ الذُّنُوبَ فَلاَ أُبَالِى فَاسْتَغْفِرُونِى أَغْفِرْ لَكُمْ يَا عِبَادِى كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلاَّ مَنْ أَطْعَمْتُ فَاسْتَطْعِمُونِى أُطْعِمْكُمْ يَا عِبَادِى كُلُّكُمْ عَارٍ إِلاَّ مَنْ كَسَوْتُهُ فَاسْتَكْسُونِى أَكْسُكُمْ يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ مِنْكُمْ لَمْ يَنْقُصْ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِى شَيْئًا يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ مِنْكُمْ لَمْ يَزِدْ ذَلِكَ فِى مُلْكِى شَيْئًا يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا فِى صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِى ثُمَّ أَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مِنْهُمْ لَمْ يَنْقُصْ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِى شَيْئًا إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْبَحْرُ يُغْمَسَ الْمِخْيَطُ غَمْسَةً يَا عِبَادِى إِنَّمَا هِىَ أَعْمَالُكُمْ أَحْفَظُهَا عَلَيْكُمْ فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلاَ يَلُومَنَّ إِلاَّ نَفْسَهُ

“Wahai hamba-hambaKu, sesungguhnya aku telah mengharamkan kezhaliman atas diriKu, dan aku telah menjadikannya haram di antara kalian. Oleh karena itu, janganlah kalian saling menzhalimi. Wahai hamba-hambaKu, sesungguhnya kalianlah yang melakukan kesalahan di malam dan siang hari dan Akulah yang mengampuni dosa, maka Aku tak memperdulikan. Mintalah ampun kepadaKu niscaya Aku memberikan ampun kepadamu. Wahai hamba-hambaKu sesungguhnya kalian semua lapar melainkan yang Aku beri makan. Oleh karena itu, mintalah makan kepadaKu niscaya Aku akan memberimu makan. Wahai hamba-hambaKu kalian semua telanjang kecuali siapa yang aku beri dia pakaian. Oleh karena itu, mintalah pakaian kepadaKu niscaya akan Aku beri kalian pakaian. Wahai hamba-hambaKu, Kalaulah saja semua orang yang hidup sebelum kalian dan orang hidup setelah kalian, dari kalangn jin dan manusia  semuanya melakukan kemaksiatan, niscaya hal itu tidak akan mengurangi kekuasaanku sedikitpun. Wahai hamba-hambaKu,    Kalaulah saja semua orang yang hidup sebelum kalian dan yang hidup setelah kalian, dari kalangn jin dan manusia  semuanya bertakwa, hal itu tak akan menambah kekuasaanku sedikitpun. Wahai hamba-hambaKu, kalaulah saja semua orang yang hidup sebelum kalian dan orang yang hidup setelah kalian, dari kalangn jin dan manusia  semuanya berada di satu tempat, lalu mereka meminta kepadaKu, lalu aku memberikan kepada setiap orang apa yang dimintanya, niscaya hal tersebut tidak akan mengurangi kekuasaanKu kecuali seperti berkurangnya lautan yang dicelupkan ke dalamnya jarum, lalu jarum tersebut diangkat. Wahai hamba-hambaKu itu kesemuanya hanyalah amal-amalMu, Aku menyimpan(balasan)nya. Oleh kerena itu, barangsiapa yang mendapati kebaikan hendaklah ia memuji Allah dan barangsiapa mendapati selain itu maka hendaknya ia tidak mencela melainkan dirinya sendiri.” (Hadits ini Shahih, diriwayatkan Imam Muslim)

عن أبي هريرة قال: قال رسول الله: (أَصْدَقُ كَلِمَةٍ قَالَهَا الشَّاعِرُ كَلِمَةُ لَبِيدٍ أَلَا كُلُّ شَيْءٍ مَا خَلَا اللَّهَ بَاطِلٌ) صحيح متفق عليه

Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah bersabda, “Ungkapan kata yang paling jujur/benar yang dikatakan oleh seorang penyair, yaitu ungkapan kata yang diucapkan oleh Labiid, ‘Ketahuilah, segala sesuatu selain Allah adalah batil’.” (Shahih, disepakati keshahihannya oleh Imam al-Bukhari dan Muslim)

عن أبي هريرة قال قال رسول الله يعني (يَقُوْلُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ كَذَّبَنِي عَبْدِي وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ وَشَتَمَنِي وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ أَمَّا تَكْذِيبُهُ إِيَّايَ قُولُهُ لَنْ يُعِيدَنَا كَمَا بَدَأَنَا وَأَمَّا شَتْمُهُ إِيَّايَ أَنْ يَقُولُ اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا وَأَنَا الأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِي لَمْ أَلِدْ وَلَمْ أُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لِي كُفُوًا أَحَدٌ) صحيح رواه البخاري

Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah bersabda, “Yakni Allah azza wajalla berfirman, ‘HambaKu telah mendustai Aku sementara hal tersebut tidak layak dilakukannya, hambaKu telah mencaci-maki diriKu sementara hal tersebut tidak layak dilakukannya. Adapun kedustaan hambaKu kepadaKu adalah perkataan hambaKu, Tak akan pernah Dia mengembalikan kita sebagaimana kondisi kita pertama kali. Sedangkan canciannya kepadaKu yaitu ia mengucapkan, Allah mempunyai anak sementara Aku adalah Mahaesa, tempat bergantung segala sesuatu, tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Aku’.” (Shahih, diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari)

عن أبي موسى قال قال رسول الله : (مَا أَحَدٌ أَصْبَرُ عَلَى أَذًى سَمِعَهُ مِنْ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ إِنَّهُ يُشْرَكُ بِهِ وَهُوَ يَرْزُقُهُمْ) هذا حديث أبي يعلى

وحديث القاسم: (لاَ أَحَدٌ أَصْبَرُ عَلَى أَذًى سَمِعَهُ مِنْ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ إِنَّهُ يُشْرَكُ بِهِوَيُجْعَلُ لَهُ نِدٌّوَهُوَ يُعَافِيهِمْ وَيَرْزُقُهُمْ وَيَدْفَعُ عَنْهُمْ) صحيح رواه البخاري

Dari Abu Musa, ia berkata, Rasulullah bersabda, “Tak seorangpun yang lebih dapat bersabar atas suatu gangguan yang didengarnya daripada Allah ‘azza wajalla, bahwasanya Dia disekutukan (dengan yang lainnya) sementarara Dia terus saja memberikan rizki kepada mereka (orang-orang yang menyekutukanNya).” Ini adalah hadis Abi Ya’la.

Dan Hadis al-Qasim, dengan redaksi, “Tak ada seorang pun yang lebih dapat bersabar atas gangguan yang didengarnya daripada Allah azza wajalla, bahwasanya Dia disekutukan (dengan yang lainnya), dijadikan sekutu-sekutu bagiNya sementara Dia terus saja memberikan maaf kepada mereka, memberikan rizki kepada mereka dan mengelakkan mereka dari perkara yang membahayakan mereka.” (Shahih, diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari)


Sumber : Kitab at-Tauhiid Lillahi Azza Wajalla, karya : Abu Muhammad ‘Abdul Ghani bin Abdul Wahid al-Maqdisi, pent. Darul Muslim, Riyadh, Cet. I, 1998, Tahqiiq : Mush’ab bin Athallah Al-Hayik.

Penyusun: Amar Abdullah bin Syakir

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel Hisbah di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: