Segera Menjawab dan Membenarkan Seruan Nabi

Segera-Menjawab-dan-Membenarkan-Seruan-Nabi.jpg

Jika diibaratkan sebuah perlombaan pada saat para shahabiyat berlomba-lomba masuk Islam dan membenarkan risalah Muhammad-shallallahu ‘alaihi wasallam-, maka Khadijahlah orang yang pertama di antara mereka.

Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanad yang bagus, sebagaimana yang telah dikatakan Ibnu Katsir, dari Aisyah, bahwa Aisyah telah berkata, “Apabila Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam– ingat kepada Khadijah beliau memujinya dengan sebaik-baik pujian.” Selanjutnya beliau berkata, “ Suatu hari aku merasa cemburu, aku berkata kepada beliau,’Betapa seringnya engkau menyebut wanita yang berpipi merah itu. Allah ta’ala telah menggantikan untukmu dengan yang lebih baik darinya’”. Beliau bersabda, “ Allah tidak memberiku ganti yang lebih baik darinya. Dia beriman kepadaku pada saat orang-orang kafir kepadaku, dia telah membenarkanku pada saat orang-orang mendustakanku, dia telah membantuku dengan hartanya pada saat orang-orang mengusirku, Allah telah memberikan anak kepadaku melalui dirinya pada saat Allah tidak aku anak dari istri-istri yang lain.

Perhatikan sabda beliau, “ Dia beriman kepadaku pada saat orang-orang kafir kepadaku “ dan perkataan beliau, “Dia membenarkan diriku pada saat orang-orang mendustakanku.” Ini merupakan pengakuan dari seorang pemegang risalah penutup untuk seluruh manusia akan kedudukan tinggi yang diperoleh seorang wanita beriman yang dimaksud, sebagai balasan atas sikap bersegera membenarkan serta beriman kepada Allah dan RasulNya.

Maka dari itu, disebutkan dalam riwayat yang lain, riwayat imam Ahmad dengan sanad yang bagus, sebagaimana yang telah disebutkan oleh Imam Ibnu Katsir (di dalam al-Bidayah wa an-Nihayah, 3/128), bahwa ketika Aisyah cemburu sebagaimana cemburunya para wanita, pada waktu itu Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah..! Allah telah mengganti untukmu dari seorang perempuan tua suku Quraisy berpipi merah itu.” Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- sangat marah (mendengarnya). Riwayat tersebut menyebutkan, “Wajah Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- berubah dengan raut muka yang belum pernah aku lihat sebelumnya seperti ini, kecuali pada saat turunnya wahyu sehingga dia mengetahui rahmat atau azab”.

Kemudian, perhatikanlah apa yang telah dilakukan oleh seorang shahabiayat yang mulia, Khalidah binti al-Harits –semoga Allah meridhainya- engakau akan mendapatkan sebuah contoh yang baik dari seorang shahabiyat yang segera masuk agama Islam ketika mengetahui kebenaran ini.

Abdullah bin Salam –semoga Allah meridhainya- berkata, “ pada saat aku mendengar Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- dan mengetahui tanda-tanda, nama, serta waktu (kedatangannya) yang telah kami tunggu-tunggu, maka ketika beliau datang ke Madinah, ada seorang yang memberitahukan kedatangannya, sedangkan saat itu aku berada di atas pohon kurma yang aku miliki, maka akupun bertakbir.

Bibiku, Khalidah bin al-Harits yang pada waktu itu duduk di bawahku berkata kepadaku,’Demi Allah, seandainya aku mendengar kedatangan Musa bin Imran –‘alaihissalam- aku tidak akan berubah.’ Aku katakan kepadanya, ‘Wahai bibiku, demi Allah, dia adalah saudara Musa, dia diutus sebagaimana Musa telah diutus.’ Dia berkata,’Wahai anak saudaraku, apakah dia Nabi yang telah diberitakan kepada kita bahwa dia akan diutus persis pada saat itu?’ aku menjawab, “Ya’. Selanjutnya dia berkata, ‘berarti dialah orangnya”.

Abdullah berkata, “Aku masuk agama islam kemudian kembali kepada keluargaku, dan merekapun masuk Islam”. Diujung hadits disebutkan ,”Adapun bibiku, Khalidah binti al-Harits juga masuk Islam”. Demikianlah yang disebutkan di dalam al-Ishabah (7/598)

Di dalam as-Sirah an-Nabawiyah disebutkan, Abdullah berkata, “Bibiku Khalidah juga masuk agama Islam dan dia pun taat dalam beragama. “Demikianlah yang kita lihat, ketika Khalidah mengetahui kebenaran dan yakin akan kebenaran tersebut, dia tidak menyombongkan diri dan juga tidak menentangnya. Sebaliknya, dia berserah diri serta tunduk kepada kebenaran tersebut.

Wallah A’lam

Sumber :

Dinukil dari, “ Duruusun Min Hayati ash-Shahabiyaat”, Dr. Abdul Hamid as-Suhaibani (Edisi Indonesia, hal. 45-47)

Amar Abdullah bin Syakir

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: