Seni Berdakwah Rasulullah SAW (Bagian 2)

Seni-Berdakwah-Rasulullah-1.jpg

Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling berpengaruh didunia sepanjang masa, beliau berjuang dan berdakwah selama kurang lebih 23 tahun dari semenjak diutus menjadi rasul sampai meninggal. Namun dengan masa berdakwah yang singkat itu beliau mampu memberi perubahan besar kepada perputaran roda kehidupan manusia didunia.

Dakwah yang Rasulullah ﷺ bawa dengan penuh kasih sayang kini telah membuahkan hasil yang cemerlang. Dari dakwah tauhid yang dimulai kepada beberapa orang terdekat beliau kini telah dianut oleh miliaran manusia didunia, bahkan nanti dia akhirat beliaulah nabi dengan umat terbanyak. Itu karena dakwah yang beliau bawa tidak berhenti dengan meninggalnya beliau, senantiasa ada dari umat beliau di setiap masa yang membawa panji dakwah sehingga ajaran islam akan senantiasa tersebar dan mendunia.

Apa rahasia dakwah beliau sehingga bisa diterima bahkan diteruskan oleh pengikutnya padahal beliau menebar biji-biji dakwah ditengah-tengah kaum quraisy yang notabene menganut penyembahan terhadap berhala? Rahasianya adalah karena beliau memiliki seni dan etika dalam berdakwah yang sebagian sudah kami paparkan pada artikel yang berjudul ‘Seni Berdakwah Rasulullah SAW (Bagian 1) .’ Apasaja kah seni-seni berikutnya?

Mengetahui keadaan orang yang didakwahi dan bersikap lemah lembut terhadap orang yang tidak tahu

Sayyiduna Anas bin Malik radhiyallahu anhu, pernah bercerita, Seorang Arab Badui pernah memasuki masjid, kemudian dia kencing di salah satu sisi masjid, lalu para sahabat menghardik orang tersebut, namun Nabi shallallahu alaihi wa sallam melarang tindakan para sahabat tersebut. Tatkala orang tadi telah menyelesaikan hajatnya, Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintah para sahabat untuk mengambil air, kemudian bekas kencing itu pun disirami. (HR. Bukhari No. 221 dan Muslim No. 284).

Arab Badui adalah pengembara yang ada di Jazirah Arab. Sebagaimana pengembara lainnya, Badui berpindah dari satu tempat ke tempat lain sembari mengggembalakan kambing. Mereka terbiasa hidup keras dan jauh dari ilmu agama, sehingga wajar saja jika ia tidak bisa membedakan antara masjid dan tempat lainnya, oleh karena itu dia kencing di sudut masjid. Keadaannya yang demikian dipahami betul oleh Rasulullah ﷺ sehingga beliau melarang para sahabat tatkala mereka menghardiknya. Kelembutan beliau yang demikian telah memberi bekas dan mencuri hati orang badui tersebut, bayangkan jika Nabi ﷺ ikut menghardikanya, mungkin dia akan membenci beliau dan tidak mau mendengarkan nasehat apapun dari beliau.

Begitu juga seorang dai harus mengetahui keadaan orang yang didakwahi, tidak langsung menghardik ketika oranng tersebut tidak tahu, tetapi mengajarinya dengan lemah lembut, berusaha untuk menarik hatinya dulu sebelum menasehatinya sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ.

Bertahap dalam berdakwah dan memulai dakwah dari yang terpenting

Ibnu ‘Abbas –rodhiallohu ‘anhuma– mneceritakan bahwa Rasulullah ﷺ tatkala mengutus Mu’adz ke negeri Yaman beliau berpesan:

Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari ahli kitab, maka hendaklah pertama yang engkau dakwahkan mereka kepadanya ialah syahadat (persaksian) bahwa tidak sesembahan (yang haq) kecuali Alloh – dalam sebuah riwayat: hingga mereka mentauhidkan Alloh – dan jika mereka mentaati engkau untuk itu, maka ajarkan mereka bahwa Alloh telah mewajibkan atas mereka sholat 5 waktu di setiap hari dan malam, dan jika mereka mentaati engkau untuk itu maka ajarkan mereka bahwa Alloh telah mewajibkan atas kalian sedekah yang diambil dari orang-orang kaya mereka dan akan dikembalikan kepada orang-orang miskin mereka...” (HR. Bukhari & Muslim).

Demikianlah pesan Nabi ﷺ kepada Sayyiduna Mu’adz bin Jabal ra tatkala mengutusnya ke Yaman untuk berdakwah. Beliau memerintahkannya untuk mulai dari terpenting yaitu bersyahadat, setelah mereka bersyahadat dan masuk islam baru mengajari mereka shalat, zakat dan seterusnya.

Ini adalah pelajaran bagi kita jika ingin berdakwah kepada orang lain, yaitu memulai dari yang terpenting dahulu kemudian yang berikutnya kemudian yang berikutnya dan demikianlah seterusnya. Jika kita ingin menasehati orang yang melakukan berbagai macam maksiat atau meninggalkan beberapa kewajiban dalam agama, maka hendaknya kita memulainya dari yang terpenting dahulu, misalnya jika ia memiliki kebiasaan mencuri sekaligus meminum minuman keras, maka kita mencegahnya mencuri dulu sebelum mencegahnya minum minuman keras, karena perbuatan mencuri dapat merugikan orang lain, sedang minum minuman keras hanya merugikan dirinya sendiri.

Inilah beberapa seni Rasulullah ﷺ dalam berdakwah. Jika kita pelajari perjuangan dakwah beliau, maka banyak sekali pelajaran yang akan dapat kita ambil, perjuangan dakwah beliau bagaikan laut tak bertepi. Marilah kita ikut andil berperan dalam menyebarkan dakwah yang beliau bawa, dakwah tak harus dengan memberi ceramah, memberi teladan yang baik, menasehati orang yang salah dengan baik dan bijaksana, mengajak kepada kebaikan itu semua salah satu bentuk dakwah. Marilah kita ikut mengamalkan firman Allah SWT:

وَلتَكُن مِّنكُم أُمَّة يَدعُونَ إِلَى ٱلخَيرِ وَيَأمُرُونَ بِٱلمَعرُوفِ وَيَنهَونَ عَنِ ٱلمُنكَرِ وَأُوْلَٰئِكَ هُمُ ٱلمُفلِحُونَ

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma´ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali-Imran: 104).

Ditulis oleh Arinal Haq

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: