Seni Melindungi Anak Dari Kebiasaan Buruk

Anak.jpg
Seorang wanita muslimah seketika ia menjadi istri dari seorang lelaki saat itu pula ia harus bersiap-siap untuk menjadi seorang ibu. dua tugas berat yang memenuhi kedua pundaknya. bagaimana ia harus menjadi istri yang shalihah bagi suaminya dan ibu yang madrasah bagi anak-anaknya. dua tugas yang mana jika tidak dipahami dengan baik hakekat keduanya, maka akan sangat memberatkan hati seorang wanita yang sebelumnya bebas untuk dirinya sendiri. namun tugas-tugas tersebut bagi yang memahaminya, maka ia adalah sebuah keberkahan tersendiri bagi seorang wanita, bagaimana ia harus melayani suaminya sebagai surga dan nerakanya, dan bagaimana ia mendidik keturunannya sebagai aset yang berharga di akhirat kelak, anak saleh yang mendoakan.Pada kesempatan kali ini, kita kembali membahas bagian kedua dari tugas seorang wanita yang sudah menikah, yaitu kewajiban untuk menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya. kenapa menjadi ibu yang baik adalah sebuah kewajiban? karena disebabkan oleh suatu hal yang diketahui oleh kita semua, salah satunya adalah anak sebagai sumber kebahagiaan atau kesengsaraan kita dimasa tua dan diakhirat kelak.

Mendidik buah hati memang butuh kesabaran yang lebih, memerlukan keterampilan yang mumpuni, karena tak jarang perilaku anak jika tak dilihat dengan mata hati maka ia hanyalah sumber kejengkelan ditengah menumpuknya kerjaan rumah. maka dari itu, berikut ada beberapa tips dari tuntutan islami dalam membiasakan kebaikan bagi anak dan bagaimana cara menyikapi tingkah laku anak yang tak sesuai dengan apa yang sudah diajarkan padanya:

 

  1. Fase Pengenalan

Pada fase ini sang buah hati yang sudah mulai mengerti diperkenalkan dan diberitahukan beberapa hal mendasar dalam islam, apa-apa yang harus ia ketahui dari masalah aqidah, seperti keesaan Allah Ta’ala dan kemahakuasaan-Nya dll, juga apa-apa yang tak boleh ia lakukan, seperti mencuri, berkata buruk dll dimulai dari yang sederhana dan secara umum tidak detail. ini sesuai dengan sunnah Nabi Muhammad yang mana suatu hari pernah mengajari keponakannya Ibnu Abbas beberapa perkara aqidah seperti tidak bolehnya meminta kepada selain Allah dan tak memohon pertolongan dari selain-Nya.

Untuk fase ini, gunakanlah metode yang lemah lembut, penuh kasih sayang dsbg untuk menarik simpatik dan kemauan anak untuk melakukan arahan kita, karena ini adalah fase pengenalan, dari yang sebelumnya belum tahu apa-apa, maka tidak seyogyanya sang buah hati langsung dihardik dll.

 

  1. Fase Teguran

Ketika dirasa sang buah hati telah mendapatkan penjelasan yang cukup tentang apa-apa yang bunda ajarkan, ketika ia keliru atau terlalu coba ingat kan, jangan biarkan lagi. namun tegurlah dengan lemah lembut juga, baik-baik bukan langsung menghardik saja, karena anak kecil sejatinya belum wajib untuk hal-hal tersebut, namun hanya bagian dari pembiasaan saja yang mana ini ada kewajiban dari orang tua, maka gunakanlah cara yang baik pula untuk mendapatkan hasil yang baik pula. salah satu contohnya adalah ketika Nabi menegur cucunya Hasan ketika hendak memakan korma sedekah, Nabi terangkan bagi cucu tercintanya tersebut bahwa Nabi dan keluarganya tidak memakan dari yang sifatnya sedekah.

 

  1. Fase menggunakan tangan

Metode ini hanya digunakan pada kebutuhan mendesak saja, untuk memberikan efek jerah. bukan tiap kali melihat kesalahan maka harus ditindak lanjuti dengan tangan.

seperti dahulu para sahabat dengan tegas merobek pakaian-pakaian anak lelaki mereka yang terbuat dari sutra, karena perkara tersebut sudahlah mafhum.

 

  1. Dengan pukulan

Inilah metode yang menempati salah satu level terakhir dalam mendidik anak-anak, yang juga hanya digunakan sesekali untuk memberikan efek lebih ketika isyarat, kata-kata tak lagi dihiraukan oleh anak-anak. namun perlu digaris bawahi juga bahwa jangan sampai pukulan tersebut sangat menyakiti, karena dikhawatirkan hanya akan meninggalkan sebuah luka pada psikis sang buah hati, dengan pukulan yang pedih mungkin iya sang anak akan berhenti seketika itu juga, namun ia hanya akan menjadi mengumpat didalam hati dan mencari-cari kesempatan selanjutnya untuk melanggar lagi. pada metode ini salah satunya yang dicontohkan Nabi adalah perintah membiasakan anak-anak menegakkan shalat, pukul seperlunya ketika mereka mangkir dan menolak.

 

  1. Sesekali jangan hiraukan

Sesekali tak mengapa bagi bunda untuk mencuekkan dan sedikit menghiraukan sang buah hati ketika ia meminta sesuatu, ini sebagai pelajaran baginya bahwa jika ia menginginkan sesuatu maka sebagai gantinya ia harus meninggalkan kebiasaan buruk tersebut dst.

Inilah 5 fase yang mana para orangtua harus mendalaminya dan menguasainya, kenapa? agar tak terjadi dua hal yang sering sekali terjadi, antara terlalu sayang anak hingga kadar berlebihan memanjakannya, dan antara terlalu keras dalam mendidik anak-anak hingga kadang tak memperdulikan lagi hak-hak mereka sebagai anak kecil, seperti perlunya mereka mendengar kata-kata sayang dari orang tuanya, jam bermain yang cukup, dll.

Semoga artikel yang singkat ini dapat memberi manfaat bagi kaum muslimah sekalian, sekaligus penulis ingin kembali mengingatkan bahwa ibu-ibu sekalian adalah tonggak harapan tercetaknya generasi penerus yang berguna bagi Agama dan Bangsa, jangan sepelekan hal ini.

Wassalamu’alaikum.

 

Penulis: Muhammad Hadhrami Bin Ibrahim

Rujukan:

الاحتساب على الأطفال ص ٧٣-٧٤ بالتصرف

تأليف: د. فضل إلهي

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: