Seni Memperbaiki Kesalahan Orang Yang Masih Awam/Jahil

card4047.jpg

     Dalam kehidupan sehari-hari, tentu kita tidak hanya bermuamalah dengan satu tipe manusia saja, namun banyak. baik itu dari jenis kelamin atau faktor usia. namun dalam kesempatan ini kita akan lebih membahas tentang cara bermuamalah dengan orang-orang yang dilihat dari segi keilmuan agamanya, ada yang alim ulama, penuntut ilmu, atau yang masih awam, dan yang awam inipun bertingkat-tingkat, ada yang sudah mendingan lebih dekat dengan majelis-majelis ilmu dan masih banyak yang betul-betul masih awam akan syariat agamanya sendiri, dan pada golongan yang terakhir inilah kita akan sedikit perdalam pembahasan tentangnya dari sisi kewajiban kita sebagai umat islam untuk menegakkan Amar Makruf Nahi Munkar.       Dakwah sebagai salah satu tugas individu muslim yang disesuaikan dengan level keilmuannya masing-masing tidaklah mengenal tempat, waktu dan targetnya, selama seruan itu tidak menimbulkan mudharat yang besarnya melebihi kebaikan yang diharapkan dan memungkinkan.

Seringkali tampak oleh kita orang-orang yang menyelisihi perintah Allah dan Rasul-Nya, apakah itu melakukan suatu keharaman atau melanggar suatu ketentuan yang sudah diatur dalam sebuah praktik ibadah, seperti misalnya anak-anak, para pemuda, bahkan terkadang bapak-bapak yang ketika shalat meninggalkan salah satu rukun shalat tersebut yaitu thuma’ninah, tenang tidak tergesa-gesa. atau misalkan juga para perokok, anak-anak muda yang pacaran, dsbg. maka dalam hal ini, cara yang kita pakai tentu tidak sama dengan cara kita ketika menegur teman atau anggota keluarga yang sudah faham hukumnya, yang mana bisa saja kita langsung menegur dengan tegas mereka tanpa rasa khawatir, karena bisa jadi mereka sedang alpa atau tidak sengaja, sehingga teguran yang tegas langsung mengena dan mereka segera tersadar kembali akan perbuatannya. nah tentu cara seperti ini tidak mungkin langsung kita terapkan terhadap oknum yang masih awam, yang memang belum mengetahui hukumnya apalagi faham akan konsekuensinya, tentu mereka akan ‘lari’ dari hidayah jika cara hidayah yang menyapa mereka itu sangat sulit untuk diterima.

Seseorang yang melakukan suatu kemungkaran karena dirinya jahil atau awam jikalau sekiranya mereka mengetahui bahwa apa yang mereka lakukan tidak boleh hukumnya tentu mereka tidak akan melakukannya, maka mereka yang seperti ini bukan dipakai cara teguran langsung, namun diajarkan dengan halus dan sopan, tidak dengan kasar apalagi terburu-buru.  dan yang penting juga adalah memakai strategi, apa maksudnya?  Kita sebenarnya dapat mengukur tingkat keberhasilan kita dalam mendakwahi si fulan misalnya, apakah kira-kira masukan kita langsung ia terima, tidak digubris atau malah ditolak mentah-mentah. Maka untuk kemungkinan-kemungkinan tersebut kita ukur diri kita sebelum maju, jika yakin diterima maka bismillah lanjutkan, jika dirasa tidak atau sulit, maka lihatlah ke sekeliling sekiranya ada sesosok yang lebih pas untuk mengingatkan fulan tersebut, apakah itu seorang tokoh agama, yang di tua kan, teman dekat atau keluarganya. hal ini dikarenakan bisa jadi kapasitas kita belum memadai pada situasi tersebut, bisa jadi masih dianggap terlalu muda, kurang berilmu atau tidak berpengaruh. maka inti dari amanat Amar Makruf Nahi Munkar itu adalah berubahnya sosok yang melanggar ketentuan tersebut, apakah ia berubah ditangan kita langsung atau ditangan orang lain, yang penting intinya ia berubah walhamdulillah.

Salah satu contoh terbaik dalam masalah ini adalah kisah seorang arab pedalaman yang buang air di masjid nabawi, sebuah kisah yang sudah sangat familiar bagi kita semua. kita mengingat kembali betapa bijaksananya Nabi menyikapi lelaki badui tersebut, bukan Nabi menyepelekan tentang kenajisan air seni apalagi dimasjidnya yang mulia, namun beliau shalallahu alaihi wasallam lebih melihat ke pelakunya ketimbang perilakunya, karena beliau dapat memperkirakan bahwa memang rata-rata arab badui minim pemahaman agamanya. maka dari itu cara yang beliau ambil sesuai dengan kebutuhan keadaan, yaitu mengajarkan sang badui agar mengetahui bahwa perilakunya salah sehingga ia faham dan tidak mengulanginya. maka sikap yang beliau ambil terhadapnya berbeda dengan kebanyakan para sahabat yang bersama beliau disaat itu, dikala mereka rata-rata emosi dengan sang badui karena bisa-bisa nya ia mengotori masjid, Nabi memilih menghadapinya dengan lembut lagi beretika, beliau terangkan untuknya hukum kebersihan masjid dan kenajisan najisnya, dan memerintahkan sahabat untuk menuangkan seember air diatas bekas buang airnya agar tanahnya suci kembali. walhasil apa yang terjadi? sang badui terharu dengan perilaku Nabi kepadanya dibandingkan perilaku orang-orang lain yang menghardiknya, maka ia berkata: “Ya Allah rahmatilah aku dan Muhammad! selainnya jangan!”. Perhatikan! bisa kita lihat bersama hasilnya bukan?

Sebagai penutup, sekali kita tekankan tentang pentingnya memahami kondisi target dakwah kita, sehingga kita dapat memilih cara yang pas untuk digunakan. dan dalam pembahasan ini tentang menyikapi kesalahan seorang yang masih jahil atau awam, maka seyogyanya setiap kita kembali melihat ke dirinya masing-masing ketika dahulu hidayah belum menghampiri, bukankah bisa jadi diri kita juga seperti mereka yang sedang berbuat salah tersebut? atau malah bisa jadi lebih buruk lagi? Maka dari itu, sebagaimana dahulu kita menerima hidayah dengan cara yang indah dan bersahabat, maka begitu juga lah perlakukan saudaramu, ia butuh nasehat dan arahan yang halus lagi bersahabat, suasana yang merangkul dan wajah yang bersimpati.

Wabillahi At Taufiq, Wallahu A’lam.

 

Rujukan:

حديث (من رأى منكم منكراً فليغيره بيده) دراسة تأصيلية لملامح التغيير وضوابطه في الإسلام ص ١٣٢-١٣٣.

Muhammad Hadhrami Bin Ibrahim

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: