Seni Menasehati Dengan Cara Tidak Langsung

seni-menasehati.jpg

Nasehat adalah suatu amalan yang sangat mulia dalam islam, bahkan agama islam sulit untuk berdiri kokoh tanpa ada saling nasehat-menasehati atau saling mengingatkan diantara kaum muslimin, oleh karena itu Nabi bersabda:

الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ

Agama adalah nasehat” (HR. Bukhari & Muslim)

Perintah untuk saling menasehati lebih kuat lagi pada Firman Allah ta’ala yang berbunyi:

إِنَّ ٱلإِنسَٰنَ لَفِي خُسرٍ  إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَواْ بِٱلحَقِّ وَتَوَاصَواْ بِٱلصَّبرِ

Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-Ashr: 2-3).

Tinggal sekarang bagaimana kita menasehati, kepada siapakah nasehat tersebut akan kita sampaikan, cara apakah yang paling cocok untuk digunakan agar nasehat kita dapat diterima dengan mudah.? Cara untuk menyampaikan nasehat sangatlah banyak tergantung kepada siapa pada keadaan bagaimana dan masalah apa yang perlu kita luruskan, namun sebelumnya marilah kita mengingat selalu Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

فَإِن أَعرَضُواْ فَمَا أَرسَلنَٰكَ عَلَيهِم حَفِيظًا إِن عَلَيكَ إِلَّا ٱلبَلَٰغُ

Jika mereka berpaling maka Kami tidak mengutus kamu sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah)…” (QS. Asy-Syura: 48).

Jadi kewajiban kita hanyalah menyampaikan nasehat dengan cara sebaik mungkin, sedangkan mereka menerima atau tidak adalah urusan mereka dengan Allah.

Namun bukan berati kita bebas menyampaikan nasehat semau kita, karena nasehat yang disampaikan tanpa memperhatikan tata cara yang baik dan santun hanyalah akan merusak, bahkan membuat orang yang mendengar nasehat kita menjadi semakin anti dan gengsi untuk menerimanya.

Salah satu cara yang baik untuk menyampaikan nasehat adalah menyampaikannya dengan cara tidak langsung namun dapat ditangkap dan dipahami oleh orang yang kita tuju. Dengan demikian pesan yang ingin kita sampaikan bisa diterima tanpa harus membuatnya merasa bahwa kita menasehatinya, dan ini akan lebih menjauhkannya dari rasa gengsi untuk menerima nasehat.

Cara ini sangat cocok untuk kita gunakan jika ingin menasehati orang yang lebih tua dari kita atau lebih memiliki kedudukan, karena posisinya yang berada diatas kita membuatnya mudah atau cenderung merasa gengsi untuk menerima nasehat kita, maka cara yang tepat untuk menyampaikan pesan nasehat yang akan kita sampaikan adalah dengan pesan tidak langsung. Cara ini pernah dicontohkan oleh kedua cucu Rasulullah Hasan & Husein radhiyallahu’anhuma ketika ingin mengajari seorang kakek cara berwudhu yang benar.

Suatu ketika, Hasan dan Husein, kedua cucu kesayangan Nabi, melihat seorang kakek yang sedang berwudhu yang nampaknya belum mengetahui cara berwudhu yang benar. Mereka masih sangat belia. Namun kewajiban agama mengharuskan mereka membimbing dan mengajari kakek tersebut cara berwudhu yang baik.

“Bagaimana cara menegurnya? Apakah harus dikatakan terus terang bahwa cara berwudhunya tidak benar? Apakah cara ini tidak akan menimbulkan salah paham? Jangan-jangan kakek itu menganggapnya suatu penghinaan sehingga ia tidak mau memperbaiki wudhunya,” begitu pikir keduanya. Mereka berpikir sejenak hingga sampai mendapatkan ide bahwa kesalahan kakek tersebut sebaiknya diperbaiki dengan cara tak langsung.

Mereka berdua pura-pura berselisih pendapat mengenai cara berwudhu dan saling menuduh, “Kamu salah!” Kemudian, mereka bersepakat meminta kakek tersebut sebagai hakim diantara mereka, dan kakek itu setuju. Mulailah mereka berwudhu di hadapan sang kakek, kemudian bertanya, “Siapa diantara kami yang lebih benar cara berwudhunya?,” “Semua benar!” jawab kakek, “Akulah yang tidak benar. Aku ingin belajar dari kalian cara berwudhu yang benar.”

Demikianlah cara cerdas Hasan dan Husein dalam mengajari seorang kakek cara berwudhu yang benar, andai mereka menegur kakek tersebut secara langsung mungkin sang kakek akan merasa gengsi untuk menerima nasehat dari anak kecil, tapi dengan cara demikian kakek tersebut dapat menerima pesan keduanya tanpa merasa digurui.

Dan seperti itulah yang seharusnya seorang dai lakukan, yaitu melihat kepada siapa dan dalam keadaan apa nasehat itu disampaikan, kemudian memilih cara yang paling baik dan tepat untuk menyampaikannya. Jika ia bisa menasehati dengan cara tidak langsung dan bisa dimengerti seperti diatas maka itu lebih utama daripada dengan cara langsung, tapi jika memang orang yang dinasehati tidak bisa menerima kode teguran secara tidak langsung yang kita berikan maka barulah kita menasehatinya langsung namun dengan cara dan etika yang santun, tentunya dengan ilmu dan tauladan yang baik.

Penulis: Arinal Haq

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: