Seorang yang Mengajarkan Ilmu Seperti Tanah yang Subur

Seorang-Yang-Mengajarkan-Ilmu-Seperti-Tanah-Yang-Subur.jpg

Ilmu adalah amanah dan rezeki maknawi yang Allah berikan kepada hamba-hambanya yang dikehendakinya, oleh karena itu orang yang berilmu patut bersyukur atas ilmu yang dimilikinya karena ia adalah rezeki yang tidak semua orang memilikinya.

Namun rezeki yang lebih dari sekedar memiliki ilmu adalah mengamalkan ilmu tersebut dan mengajarkannya kepada orang lain, dan hal tersebut tidak mungkin dilakukan kecuali oleh orang-orang yang diberi taufik oleh Allah subahanahu wa ta’ala. Oleh karena itu Agama islam mengajarkan umatnya untuk selalu berbagi ilmu yang bermanfaat dan tidak membiarkannya berhenti pada diri sendiri tanpa menyampaikannya kepada orang lain.

Dalam suatu hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa salam mengumpamakan seseorang yang menuntut ilmu lalu mengajarkannya kepada orang lain seperti tanah subur yang mengambil manfaat dari air hujan lalu memberikan manfaat kepada makhluk-makhluk sekitarnya dengan menumbuhkan beraneka ragam tumbuhan.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَثَلُ مَا بَعَثَنِيَ اللهُ مِنَ الْـهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ الْغَيْثِ الْكَثِيْرِ أَصَابَ أَرْضًا، فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ قَبِلَتِ الْـمَاءَ فَأَنْبَتَتِ الْكَلَأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيْرَ وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتِ الْـمَاءَ فَنَفَعَ اللهُ بِهَا النَّاسَ فَشَرِبُوْا وَسَقَوْا وَزَرَعُوْا وَأَصَابَ مِنْهَا طَائِفَةً أُخْرَى إِنَّمَا هِيَ قِيْعَانٌ لَا تُمْسِكُ مَاءً وَلَا تُنْبِتُ كَلَأً فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِيْ دِيْنِ اللهِ وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِيَ اللهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ وَمَثَلُ مَنْ لَـمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا وَلَـمْ يَقْبَلْ هُدَى اللهِ الَّذِيْ أُرْسِلْتُ بِهِ.

Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah mengutusku dengannya laksana hujan deras yang menimpa tanah. Di antara tanah itu ada yang subur. Ia menerima air lalu menumbuhkan tanaman dan rerumputan yang banyak.

Di antaranya juga ada tanah kering yang menyimpan air. Lalu Allah memberi manusia manfaat darinya sehingga mereka meminumnya, mengairi tanaman, dan berladang dengannya. Hujan itu juga mengenai jenis (tanah yang) lain yaitu yang tandus, yang tidak menyimpan air, tidak pula menumbuhkan tanaman. Itulah perumpamaan orang yang memahami agama Allah, lalu ia mendapat manfaat dari apa yang Allah mengutus aku dengannya. Juga perumpamaan atas orang yang tidak menaruh perhatian terhadapnya. Ia tidak menerima petunjuk Allah yang dengannya aku diutus.” [HR. Bukhari & Muslim]

Dalam menjelaskan hadits ini Imam Ibnu Hajar menukil dari Imam Al-Qurthubi beliau berkata, “Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengumpamakan agama islam yang dibawanya seperti hujan yang mengenai semua makhluk dan sampai kepada seluruh manusia dikala mereka memerlukannya,  kemudian mengumpamakan orang-orang yang mendengar seruan agama islam seperti tanah yang bermacam-macam ketika menerima siraman air hujan, diantara orang-orang tersebut adalah orang yang berilmu dan mengamalkan ilmunya lalu mengajarkannya kepada orang lain, orang yang seperti ini kedudukannya sama seperti tanah yang subur, ia menerima manfaat air hujan untuk dirinya dan menumbuhkan berbagai tumbuhan sehingga ia juga memberi manfaat kepada makhluq lainnya.” (Fathul Bari 1/177)

Hadits ini juga dijadikan dalil Oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam menyebutkan kemuliaan orang-orang yang menggabung antara menuntut, mengamalkan, dan mengajarkan ilmu atau berdakwah. Beliau berkata, “Nabi shallallahu alaihi wa sallam membagi manusia menurut hidayah dan ilmu mereka menjadi tiga tingkatan, tingkatan pertama adalah pewaris-pewaris para rasul dan penerus para nabi alaihimussholatu was salam, dan mereka adalah orang-orang yang beriman terhadap agama islam secara ilmu, amal dan dakwah.

Merekalah pengikut para rasul yang sebenarnya, dan mereka kedudukannya sama dengan kelompok yang baik, mereka bagaikan tanah yang menerima air sehingga menumbuhkan tanaman dan dan rumput yang banyak sehingga ia suci dalam dirinya dan menyucikan orang lain dengan ilmu tersebut. Merekalah orang-orang yang menggabung antara pengetahuan yang dalam terhadap agama dan kekuatan dalam berdakwah, dengan demikian maka pantaslah mereka menjadi pewaris para nabi yang Allah firmankan:

وَٱذكُر عِبَٰدَنَا إِبرَٰهِيمَ وَإِسحَٰقَ وَيَعقُوبَ أُوْلِي ٱلأَيدِي وَٱلأَبصَٰرِ

Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya´qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi.” (QS. Shad: 45).

Ibnul Qayyim berkata, “maksudnya adalah ilmu yang tinggi dalam hal agama, yang dengan ilmu tersebut seseorang dapat mengetahui yang haq, dan dengan kekuatan seseorang dapat mengamalkan dan mengajarkan ilmu agama yang ia miliki.” (Al-Wabillus Shoyb hal. 73)

Wallahu a’lam bisshowab

Diterjemahkan oleh Arinal haq dari kitab ‘Fadhludda’wati Ilallah’ karya DR. Fadhl Ilahi Dzahir hal. 25-27

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: