Tetangga Anda Non Muslim, Beginilah Islam Mengatur Hubungan Dengan Non Muslim

Untitled-1-1.jpg

(1) orang kafir yang menjadi tetangga seorang muslim : Harus berbuat baik kepadanya (sebagai tetangga dan tidak berbuat keburukan terhadapnya, tapi tidak perlu akrab dengannya dan tidak merasa tentram karenanya (Syaikh Ibn Fauzan)

(2) Tidak apa-apa bermuamalah dengan orang kafir selama masih dalam batas-batas yang dibolehkan oleh syariat, misalnya dalam hal jual beli dan sejenisnya

(3) Tidak boleh berkasih sayang dengan orang kafir : karena mereka adalah musuh-musuh Allah dan RasulNya. Bahkan (dalam hal keagamaan) wajib memusuhi mereka. (Syaikh Ibnu Fauzan)

(4) Seorang muslim tidak boleh toleran terhadap orang kafir dalam hal agamanya atau menyetujui (mendukung) perbuatan mereka (yang berkaitan dengan agama) (Syaikh Ibnu Fauzan)

(5) Tidak boleh mengucapkan selamat sehubungan dengan hari raya agama mereka: Karena sikap ini berarti mengakui kebatilan mereka.

(6) Memberi salam kepada orang kafir : Tidak boleh memulai salam. Jika orang kafir itu memulai salam, wajib bagi kita membalasnya dengan ucapan, “ “wa’alaikum”., setelah itu boleh menyapanya dengan ucapan, misalnya, “bagaimana kabar Anda dan anak-anak Anda ?

(7) ikut merayakan hari raya kaum nasrani :

Ini tidak boleh, karena barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, berarti ia termasuk golongan mereka , dan tidak boleh membantu mereka (dalam hal keagamaan) dengan apa pun. (syakih Ibnu Baz)

(8) Bagaimana berinteraksi dengan tetangga-tetangga yang Nasrani ?

Bersikap baiklah terhadap mereka yang bersikap baik terhadap Anda. Jika mereka memberi Anda hadiah yang mubah (yang tidak ada kaitannya dengan perayaan agama mereka, atau syiar-syiar mereka), maka balaslah hadiah mereka. Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam pun pernah menerima hadiah dari pembesar Romawi yang Nasrani, dan beliaupun pernah menerima hadiah dari Seorang yahudi.

(9) Anda (Wanita Muslimah) boleh menampakkan diri kepada para wanita mereka (orang-orang kafir dengan penampilan yang dibolehkan sebagaimana di hadapan para wanita Muslimah, termasuk juga dengan perhiasan pakaian (Syaikh Ibnu Baz)

Sumber :

Dinukil dari, “Aktsar Min Alf Jawab li al-Mar’ah”, Khalid al-Husainan (Edisi Indonesia, hal. 307-308)

Amar Abdullah bin Syakir

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: