Setiap Anggota Tubuh Berpotensi Melakukan Zina

Untitled-1-1.jpg

عَن أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم : لِكُلِّ ابْنِ آدَمَ حَظُّهُ مِنَ الزِّنَا ، فَالْعَيْنَانِ تَزْنِيَانِ، وَزِنَاهُمَا النَّظَرُ ، وَالْيَدَانِ تَزْنِيَانِ وَزِنَاهُمَا الْبَطْشُ ، وَالرِّجْلانِ تَزْنِيَانِ وَزِنَاهُمَا الْمَشْي ، وَالْفَمُ يَزْنِي وَزِنَاهُ الْقُبَلُ، وَالْقَلْبُ يَهِمُّ أَوْ يَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرَجُ أَوْ يُكَذِّبُهُ  ( السنن الصغرى, أحمد بن الحسين بن علي بن موسى أبو بكر البيهقي)

Dari Abu Huroiroh, ia berkata, Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasalllam bersabda, setiap (Anggota tubuh ) anak adam memiliki peluang untuk melakukan Zina; mata, mempunyai peluang untuk zina, dan zinanya yaitu : melihat atau memandang. Kedua tangan berpeluang melakukan zina, dan zinanya yaitu menyentuh. Dan, kedua kaki berpeluang melakukan zina, dan zinanya yaitu melangkah. Mulut berpeluang melakukan zina, dan zinanya yaitu ciuman. Hati berkeinginan kuat atau berangan-angan dan kemaluan membenarkan hal itu atau mendustakannya(HR. al-Baihaqi di dalam as Sunan ash Shugro)

Sabda beliau, حَظُّهُ مِنَ الزِّنَا , yakni : bahwa Allah menciptakan untuk akan adam beberapa indra yang mana dengannya seseorang akan memperoleh kelezatan saat melakukan zina, dan bahwa Allah memberikan kekuatan kepada manusia yang dengan kekuatan itu ia mampu melakukannya dan memusatkan syahwat dalam tubuhnya. (at Taisiir bisyarkhi al-Jami’ ass Shoghiir, alMunawiy)

Sabda beliau, فَالْعَيْنَانِ تَزْنِيَانِ (mata, mempunyai peluang untuk zina, dan zinanya yaitu : melihat/ memandang), yakni : memandang sesuatu yang tidak halal baginya untuk memandangnya. Seperti ; memandang aurat orang lain dan lainnya.

Sabda beliau, وَالْيَدَانِ تَزْنِيَانِ وَزِنَاهُمَا الْبَطْشُ Kedua tangan berpeluang melakukan zina, dan zinanya yaitu ‘ al-Bathsyu ‘, yaitu : menyentuh dengan tangannya sesuatu yang haram disentuh, misalnya menyentuh wanita yang bukan mahram, baik berupa berjabat tangan atau yang lainnya.

Sabda beliau, وَالرِّجْلانِ تَزْنِيَانِ وَزِنَاهُمَا الْمَشْي (Dan, kedua kaki berpeluang melakukan zina, dan zinanya yaitu melangkah), yakni : melangkah menuju zina.

Sabda beliau,   وَالْفَمُ يَزْنِي وَزِنَاهُ الْقُبَلُ (Mulut berpeluang melakukan zina, dan zinanya yaitu ciuman ), yakni : berciuman dengan orang yang bukan mahramnya. Dalam riwayat imam Muslim (وَاللِّسَان زِنَاهُ الْكَلَام, dan lisan zinanya adalah ucapan, dalam riwayat lain, dengan lafazh : وَزِنَا اللِّسَان النُّطْق, dan zina lisan yaitu mengucapkan), maknanya yakni : bercakap-cakap dengan ucapan-ucapan haram dengan wanita asing yang bukan mahramnya. Atau, ucapan yang akan menimbulkan dorongan syahwat dan lain sebagainya.

Sabda beliau, وَالْقَلْبُ يَهِمُّ أَوْ يَتَمَنَّى  (Hati berkeinginan kuat atau berangan-angan), yakni : zinanya hati berupa memikirkan, membayangkan, berkeinginan, berangan-angan yang mengarah kepada perzinaan,

Sabda beliau, وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرَجُ أَوْ يُكَذِّبُهُ (dan kemaluan membenarkan hal itu atau mendustakannya), yakni : kemaluan, jika kemudian kemaluan tersebut dimasukkan ke dalam kemaluan yang pada dasarnya haram baginya, maka berarti ia membenarkan keingingan, atau angan-angan, atau yang dibayangkan oleh hati. Dengan demikian, orang tersebut benar-benar melakukan perzinaan. Adapun, bila kemaluan tersebut tidak kemudian dimasukkan ke dalam kemaluan yang pada dasarnya adalah haram dimasukinya, maka berarti ia mendustakan angan-angan, atau pikiran atau keiinginan hatinya. Dengan demikian, dia tidak melakukan perzinaan.

Imam an Nawawi mengatakan, makna hadis ini adalah bahwa manusia ditakdirkan baginya bagian dari zina. Maka, sebagian mereka adalah yang benar-benar melakukan perzinaan sesungguhnya yaitu dengan memasukkan kemaluan ke dalam kemaluan yang haram.

Dan ada pula sebagiannya yang zinanya merupakan kiasan yaitu dengan memandang hal-hal yang haram, atau mendengarkan kepada hal-hal yang akan dapat mengantarkannya untuk melakukan perbuatan zina, atau melakukan segala hal yang dengan itu seseorang akan dapat melakukan perzinaan, atau dengan sentuhan menggunakan tangan, menyentuh wanita asing dengan tangannya, atau bahkan menciumnya, atau dengan berjalan dengan kaki menuju perbuatan zina, atau pandangan, atau sentuhan, atau ucapan haram dengan wanita asing dan yang lain-Nya. Atau dengan memikirkan dengan hati. Semua ini merupakan bentuk zina al-majaziy. Dan, kemaluan membenarkan itu semunya atau mendustakannya. Maknanya, bisa saja kemudian ia benar-benar melakukan perzinaan dengan kemaluan, bisa juga ia tidak melaksanakannya, yaitu tidak kemudian ia memasukkan kemaluannya ke dalam kemaluan yang haram baginya tersebut sekalipun hampar saja ia melakukannya. Wallahu a’lam. (Syarh an Nawawi ‘ala Muslim)

Al-‘allamah al-Qodhi Abu al-Fadhl ‘iyadh al-Yahshiy (554 H), mengatakan,

إن الفاحشة العظيمة والزنا التام الموجب للحد فى الدنيا وعقاب الزانى فى الاَخرة هو للفرج ، وغيره له حظه من الإثم

(yakni) bahwa perbuatan keji yang besar dan perzinaan yang sempurna yang mewajibkan ditegakkannya hukum had (bagi pelakunya) di dunia dan berhaknya pelakunya mendapatkan hukuman yang berat di akhirat adalah (perzinaan yang dilakukan) dengan kemaluan, sedangkan anggota tubuh yang lainnya berhak menadapatkan bagiannya berupa dosa. ( Ikmal al-Mu’allam Syarh Shohih Muslim) Wallohu a’lam ( Abu Umair )

 


Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: