Sholat Tarawih Tercepat di Dunia; 23 Rakaat dalam 7 Menit

Sholat-Tarawih-Tercepat-di-Dunia-23-Rakaat-dalam-7-Menit.jpg

Jika ada rekor dunia untuk shalat tarawih tercepat, maka shalat tarawih di masjid ini akan menjadi pemecah rekornya. Bayangkan, tarawih 20 rakaat ditambah witir 3 rakaat hanya diselesaikan dalam waktu 7 menit. Fantastis.

Tarawih tercepat di dunia ini adanya di Masjid Pondok Pesantren Manba’ul Hikam di Desa Mantenan, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Menurut KH Dhiyauddin Azzamzami, shalat tarawih cepat ini telah dilakukan secara turun temurun sejak satu abad yang lalu.

Tarawih tercepat di dunia ini juga menyedot perhatian masyarakat sekitar hingga dihadiri sekitar 2000 jamaah dari Blitar dan daerah lain di sekitarnya.

Karena begitu cepatnya, shalat tarawih ini pun menimbulkan kontroversial, terutama setelah diliput dan masuk televisi beberapa tahun lalu. Tentu kita tidak setuju dengan tarawih yang sangat cepat ini karena tidak ada tuma’ninah dalam shalat tarawih tersebut. Dan juga menyelisihi sabda Rasulullah.

إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلَاتِكَ كُلِّهَا

“Jika engkau hendak mengerjakan shalat maka bertakbirlah, lalu bacalah ayat al Quran yang mudah bagimu. Kemudian rukuklah sampai benar-benar rukuk dengan tumakninah, lalu bangkitlah (dari rukuk) hingga engkau berdiri tegak, setelah itu sujudlah hingga benar-benar sujud dengan tumakninah, lalu angkat (kepalamu) untuk duduk sampai benar-benar duduk dengan tumakninah, setelah itu sujudlah sampai benar-benar sujud, Kemudian lakukan seperti itu pada seluruh shalatmu” (HR Bukhari dan Muslim)

Sumber: http://www.tarbiyah.net/

One thought on “Sholat Tarawih Tercepat di Dunia; 23 Rakaat dalam 7 Menit”

  1. anomabah berkata:

    “Amilatun Naashibah”
    Kita sering membaca alqur’an ayat ke 3 surah Al-Ghosyiyah. Mari kita perhatikan sisi lain dari penjelasan ayat yang sangat menggugah itu.

    Allah Ta’ala berfirman:
    عاملة ناصبة
    (‘aamilatun naashibah)
    Artinya:
    “Amal-amal yang hanya melelahkan.”

    Rangkaian ayat di awal surah ini bercerita tentang neraka dan para penghuninya.
    Ternyata salah satu penyebab orang dimasukkan ke neraka adalah amalan yang banyak dan beragam, tapi penuh cacat; baik motif dan niatnya, maupun kaifiyat (tata cara) yang *tidak sesuai dengan sunnah Rasulullah.*
    Astaghfirullah hal’adzim…

    Sahabat Umar bin Khathab ra selalu menangis ketika mendengar ayat ini dibacakan.

    Suatu hari Atha’ As-Salami ra, seorang Tabi`in yang mulia, bermaksud menjual kain yang telah ditenunnya kepada penjual kain di pasar. Setelah diamati dan diteliti secara seksama oleh sang penjual kain, sang penjual kain mengatakan..
    “Ya Atha’, sesungguhnya kain yang kau tenun ini cukup bagus, tetapi sayang ada cacatnya sehingga saya tidak dapat membelinya.”
    Begitu mendengar bahwa kain yang telah ditenunnya ada cacat, Atha’ termenung lalu menangis.
    Melihat Atha’ menangis, sang penjual kain berkata..
    “Atha’ sahabatku, aku mengatakan dengan sebenarnya bahwa memang kainmu ada cacatnya sehingga aku tidak dapat membelinya. Kalaulah karena sebab itu engkau menangis, maka biarkanlah aku tetap membeli kainmu dan membayarnya dengan harga yang pas.”
    Kemudian Atha’ menjawab tawaran itu..
    “Wahai sahabatku, engkau menyangka aku menangis disebabkan karena kainku ada cacatnya? ketahuilah, sesungguhnya yang menyebabkan aku menangis bukan karena kain itu. Aku menangis disebabkan karena aku menyangka bahwa kain yang telah kubuat selama berbulan-bulan ini tidak ada cacatnya, tetapi di mata engkau sebagai ahlinya, ternyata kain itu ada cacatnya. Begitulah aku menangis kepada Allah dikarenakan aku menyangka bahwa ibadah yang telah aku lakukan selama bertahun- tahun ini tidak ada cacatnya, bisa jadi mungkin di mata Allah ibadahku penuh cacat dan cela. Itulah yang menyebabkan aku menangis.”

    Semoga kita menyadari sedini mungkin tentang amal yang kita lakukan apakah sudah sesuai dengan tuntunan Rasulullah ataukah tidak. Hanya dengan ilmu-lah kita akan mengetahui dimana letak kekurangan amal kita.

    Maka, bukan hanya beramal dengan sebanyak-banyaknya, tapi juga beramal dengan sebenar-benarnya dan berkualitas.

    Karena syarat diterimanya amal ibadah adalah ketika amal itu ikhlas karena Allah dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam.

    Status fb imran Zamakhsyari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: