Sunnah-Sunnah Shalat

sujud2.jpg

 

Shalat mempunyai beberapa sunnah yang dianjurkan untuk kita kerjakan sehingga menambah pahala kita menjadi banyak. Di antaranya:

1. Mengangkat kedua tangan sejajar dengan bahu atau sejajar dengan kuping pada keadaan sebagai berikut:

a. Ketika ber-takbiratul ihram.

b. Ketika ruku’.

c. Ketika bangkit dari ruku’.

d. Ketika berdiri setelah rakaat kedua ke rakaat ketiga.

Hal ini berdasarkan hadits Ibnu Umar radhiyallahu anhu:

“Bahwasanya Nabi shallallaahu alaihi wasallam apabila beliau melaksanakan shalat, beliau mengangkat kedua tangannya sampai sejajar dengan kedua bahu beliau, kemudian membaca takbir. Apabila beliau ingin ruku’ beliau pun mengangkat kedua tangannya seperti itu, dan begitu pula kalau beliau bangkit dari ruku’.” (Muttafaq ‘alaih)

Adapun ketika berdiri untuk rakaat ketiga, hal ini berdasarkan apa yang dilakukan Ibnu Umar, dimana beliau apabila berdiri dari rakaat kedua beliau mengangkat kedua tangannya. (HR. Al-Bukhari secara mauquf, Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: Dan riwayat ini dihukumi marfu’). Dan Ibnu Umar menisbatkan hal tersebut kepada Nabi shallallaahu alaihi wasallam.

2. Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di atas dada atau di bawah dada dan di atas pusar. Hal ini berdasarkan perkataan Sahl bin Sa’d radhiyallahu anhu:

“Orang-orang (di masa Nabi shallallaahu alaihi wasallam) disuruh untuk meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dalam shalat.” (HR. Al-Bukhari secara mauquf. Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: ‘Riwayat ini dihukumi marfu’)
Dan berdasarkan hadits Wail bin Hijr radhiyallahu anhu:
“Saya pernah shalat bersama Nabi shallallaahu alaihi wasallam, kemudian beliau meletakkan tangan kanannya di atas tangan kiri di atas dadanya.” (HR. Ibnu Huzaimah, shahih)

3. Membaca do’a iftitah. Ada beberapa contoh do’a iftitah, di antaranya:

اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ

Artinya : “Ya Allah, jauhkanlah jarak antara aku dan dosa-dosaku sebagaimana Engkau jauhkan jarak antara timur dan barat. Ya Allah bersihkanlah aku dari segala dosa-dosaku sebagaimana pakaian yang putih dibersihkan dari noda. Ya Allah, basuhlah dosa-dosaku dengan air, es dan embun.” (Muttafaq ‘alaih)

4. Membaca isti’adzah pada rakaat pertama dan membaca basmalah dengan suara pelan pada tiap-tiap rakaat. Hal ini berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

 “Maka apabila kamu membaca Al-Qur’an, maka hendaklah kamu memohon perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.” (An-Nahl: 98)

5. Membaca aamiin setelah membaca surat Al-Fatihah.

Hal ini disunnahkan kepada setiap orang yang shalat, baik sebagai imam maupun makmum atau shalat sendirian. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam:

إِذَا قَالَ الْإِمَامُ{غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ}فَقُولُوا آمِينَ فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ قَوْلُهُ قَوْلَ الْمَلَائِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Apabila imam membaca “

غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

“ maka bacalah aamiin. Maka sesungguhnya barangsiapa yang bacaan aamiin-nya berbarengan dengan aamiin-nya malaikat, maka akan diampuni segala dosa-dosanya yang terdahulu.” (HR. Al-Bukhari )

Juga dikarenakan apabila Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam membaca:

غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

beliau membaca aamiin dan beliau pun memanjangkan suaranya. (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi dari sahabat Wa’il bin Hijr dengan sanad shahih).

6. Membaca ayat setelah membaca surat Al-Fatihah.

Dalam hal ini cukup dengan satu surat atau beberapa ayat Al-Qur’an pada dua rakaat shalat Subuh dan dua rakaat pertama pada shalat Dhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam:
“Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam ketika shalat dzuhur membaca Ummul Kitab (Al-Fatihah) dan dua surat pada dua rakaat pertama, dan beliau membaca Ummul Kitab saja pada dua rakaat berikutnya dan terkadang beliau perdengarkan ayat (yang dibacanya) kepada para sahabat.” (Muttafaq ‘alaih)

7. Mengeraskan bacaan Al-Fatihah dan surat pada waktu shalat jahriah (yang dikeraskan bacaannya) dan merendahkan suara pada shalat sirriah (yang dipelankan bacaannya).

Yaitu mengeraskan suara pada dua rakaat yang pertama pada shalat Maghrib dan Isya dan pada kedua rakaat shalat Subuh. Dan merendahkan suara pada yang lainnya. Ini semuanya dalam pelaksanaan shalat fardhu, dan ini tsabit (dicontohkan) dan populer dari Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, baik secara perkataan maupun perbuatan. Adapun pada shalat sunnah, maka dianjurkan untuk merendahkan suara apabila dilaksanakan pada siang hari dan disunnahkan mengeraskan suara jika shalat sunnah itu dilaksanakan pada waktu malam hari, terkecuali apabila takut mengganggu orang lain dengan bacaannya itu, maka disunnahkan baginya untuk merendahkan suara ketika itu.

8. Memanjangkan bacaan pada shalat Subuh, membaca dengan bacaan yang sedang pada shalat Dzuhur, Ashar dan Isya’, dan disunnahkan memendekkan bacaan pada shalat Maghrib.

Hal ini berdasarkan hadits berikut: “Dari Sulaiman bin Yasar, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, beliau berkata, ‘Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih mirip shalatnya dengan shalat Rasulullah daripada si Fulan -seorang imam di Madinah-.’ Sulaiman berkata, ‘Kemudian aku shalat di belakang orang tersebut, dia memperpanjang bacaan pada dua rakaat pertama shalat Dzuhur dan mempercepat pada dua rakaat berikutnya. Mempercepat bacaan surat dalam shalat Ashar. Dan pada dua rakaat pertama shalat Maghrib ia membaca surat mufashshal yang pendek, sedang pada dua rakaat pertama shalat Isya’ ia membaca surat mufashshal yang sedang, selanjutnya pada shalat Subuh ia membaca surat-surat mufashshal yang panjang’.” (HR. Ahmad dan An-Nasai, shahih)

9. Berdo’a pada waktu sujud. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam:

أَلاَ وَإِنِّى نُهِيتُ أَنْ أَقْرَأَ الْقُرْآنَ رَاكِعًا أَوْ سَاجِدًا فَأَمَّا الرُّكُوعُ فَعَظِّمُوا فِيهِ الرَّبَّ عَزَّ وَجَلَّ وَأَمَّا السُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِى الدُّعَاءِ فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ ».

Ketahuilah sesungguhnya aku dilarang membaca al Qur’an tatkala Ruku’ atau sujud. Adapun saat ruku’ maka agungkanlah di dalamnya Robb azza wajalla. Adapun yang dilakukan pada waktu sujud maka hendaklah kamu bersungguh-sungguh berdoa, niscaya dikabulkan do’a-mu.” (HR. Muslim)

10. Membaca shalawat untuk Nabi shallallaahu alaihi wasallam pada waktu tasyahhud akhir, yaitu setelah membaca tasyahhud:

التحيات لله والصلوات والطيبات السلام عليك أيها النبي ورحمة الله وبركاته السلام علينا وعلى عباد الله الصالحين أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله

Lalu membaca:

« اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِى الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Artinya : “Ya Allah, bershalawatlah Engkau untuk Nabi Muhammad dan juga keluarganya sebagaimana Engkau bershalawat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Dan berkatilah Nabi Muhammad beserta keluarganya sebagaimana Engkau telah memberkati Nabi Ibrahim dan juga keluarganya. Pada sekalian alam, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia). (HR. Muslim)

11. Berdo’a setelah selesai dari membaca tasyahhud dan membaca shalawat untuk Nabi dengan do’a yang dicontohkan Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam. Beliau bersabda:

« إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنْ أَرْبَعٍ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ »

“Apabila salah seorang di antara kalian selesai membaca tasyahhud, maka hendaklah ia berdo’a untuk meminta perlindungan dari empat hal : hendaknya ia berdoa : Ya Alloh sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari siksa Jahannam, dari siksa kubur, dari fitnah hidup dan mati dan dari kejahatan fitnah al Masih Ad Dajjal (HR.Muslim)

12. Salam kedua ke kiri.

Hal ini berdasarkan hadits riwayat Muslim “Bahwasanya Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam melakukan salam ke kanan dan ke kiri sehingga terlihat putihnya pipi beliau.”

Allahu a’lam (Abu Umair)


Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel Hisbah.net di Fans Page Hisbah.net
Twitter @hisbahnet, Google+ Hisbahnet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: