Syarat Muhtasib Bersih dari Maksiat? (2)

Perahu.jpg

Syaikh Abdullah bin Jibrin rahimahullah pernah ditanya,

“Apakah mengingkari kemungkaran disyaratkan dari orang yang tidak melakukan kemungkaran tersebut?”

Beliau menjawab, “Terdapat banyak ancaman keras bagi orang-orang yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar sedang ia banyak melakukan kemungkaran, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

يُجَاءُ بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُهُ فِي النَّارِ فَيَدُورُ كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِرَحَاهُ فَيَجْتَمِعُ أَهْلُ النَّارِ عَلَيْهِ فَيَقُولُونَ أَيْ فُلَانُ مَا شَأْنُكَ أَلَيْسَ كُنْتَ تَأْمُرُنَا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَانَا عَنْ الْمُنْكَرِ قَالَ كُنْتُ آمُرُكُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَلَا آتِيهِ وَأَنْهَاكُمْ عَنْ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ

“Akan didatangkan seorang lelaki pada hari kiamat kemudian dia dilemparkan ke dalam neraka dan terburailah isi perutnya di neraka sebagaimana seekor keledai yang berputar mengelilingi penggilingan. Maka berkumpullah para penduduk neraka di sekitarnya. Mereka bertanya, “Wahai fulan, apa yang terjadi padamu, bukankah dahulu kamu memerintahkan kami kepada yang ma’ruf dan melarang kami dari kemungkaran?”. Lelaki itu menjawab, “Dahulu aku memerintahkan kalian mengerjakan yang ma’ruf sedangkan aku tidak melakukannya. Dan aku melarang kalian dari kemungkaran namun aku justru melakukannya.” (HR. Bukhari No. 3027)

Dikisahkan bahwa seseorang datang kepada Ibnu Abbas radhiyallahuanhuma lalu meminta izin untuk menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, maka Beliau menjawab, “Jika engkau tidak takut dipermalukan oleh tiga ayat dari Al-Qur’an maka lakukanlah!” kemudian beliau membaca:

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلا تَعْقِلُونَ

“Mengapa kamu memyuruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, Padahal kamu membaca Al kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?.” (QS. Al-Baqarah: 44)

Kemudian firman Allah subhanahu wata’ala tentang perkataan Nabi Syuaib kepada kaumnya:

…وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ إِنْ أُرِيدُ إِلا الإصْلاحَ مَا اسْتَطَعْتُ

Aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan.” (QS. Huud: 88)

Dan firman Allah:

كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لا تَفْعَلُونَ

“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Shaf: 3)

Itu semua karena orang umum akan lebih mengikuti perbuatan seorang da’i dibanding perkataannya.

Walaupun begitu, namun dibolehkan bagi seorang pelaku maksiat untuk berdakwah kejalan Allah, menasehati, dan memberi arahan. Karena orang yang selamat dari maksiat sangat sedikit, andaikata tidak boleh menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran kecuali orang-orang yang selamat dari seluruh jenis dosa maka amar ma’ruf nahi munkar tidak akan berjalan, karena orang yg bebas dari segala macam aib sangatlah sedikit dan yang ma’shum (bebas dari dosa) hanyalah para Rasul. Tetapi ketika seseorang menyeru kepada kebaikan, maka hendaknya ia bergegas melakukan hal tersebut, dan mendahului orang lain dalam melaksanakannya walaupun ia orang yg memiliki kelalaian dalam ibadah yang lain, begitu juga ketika mencegah suatu kemungkaran maka wajib atasnya untuk menjadi orang yang paling jauh dari perbuatan tersebut, walaupun ia masih terjatuh didalam kemungkaran yang lain. Selain menyembunyikannya, hendaklah ia bertaubat dan meninggalkan perbuatan dosa dan berantusias dalam berbuat kebajikan, agar ia menjadi teladan dalam perkataan dan perbuatannya. Wallahu a’lam.

Diterjemah dari Kitab “Kun Muhtasiban, Musabaqatun Ihtisabiyatun Wamulhaqaatuha”, Syaikh Abdullah bin ‘Ali bin Abdullah Al-Ghomidi, hal. 179-180.


Penerjemah : Arinal Haq

Artikel : www.hisbah.net

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: