Tahapan Nabi Musa as Dalam Berdakwah Kepada Fir’aun

Screenshot_7.png
Jalan dakwah adalah jalan berliku penuh rintangan, hanya orang-orang yang Allah beri ketegaran yang bisa bertahan dijalan tersebut sampai maut menjemputnya. Mereka adalah orang-orang yang melewati jalan yang telah dilewati para rasul, sehingga tak heran jika rintangan yang dialami para rasul dalam berdakwah juga dialami oleh mereka. Dan untuk melewati rintangan-rintangan tersebut, kita harus belajar dari perjalanan dakwah para rasul dan meniru mereka dengan cara yang sesuai dengan zaman dan komunitas masyarakat sekarang.Allah subahanhu wa ta’ala memerintahkan para rasul untuk berdakwah, dan Ia mengajarkan mereka bagaimana cara berdakwah. Nabi Musa alaihissalam adalah salah satu rasul utusanNya yang diutus untuk berdakwah kepada Fir’aun, Raja yang kafir dan kejam. Allah memberi petunjuk kepada Nabi Musa alaihissalam bagaimana ia hendak berdakwah. Dalam Surah An-Nazi’at Allah berfirman:

اذْهَبْ إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ، فَقُلْ هَل لَّكَ إِلَىٰ أَن تَزَكَّىٰ، وَأَهْدِيَكَ إِلَىٰ رَبِّكَ فَتَخْشَىٰ

Pergilah kamu kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Dan katakanlah (kepada Fir’aun): “Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)”. Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepada-Nya?.” (QS. An-Naziat: 17-19).

Dalam ayat lain Allah ta’ala berfirman kepada Nabi Musa dan Harun alaihimassalam:

فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS. Thaha: 44).

Allah subhanahu wa ta’ala mengajari Nabi Musa alihissalam agar berkata-kata lembut ketika berdakwah kepada Fir’aun. Mari kita baca sekali lagi ayat diatas, ayat pertama memberikan contoh kata-kata yang sangat lembut dalam berdakwah, yang makna bebasnya adalah; “Wahai firaun, maukah engkau aku tunjukkan kepada pribadi yang lebih baik? Menjadi pribadi yang lebih mulia dan  jauh dari kesesatan? Maukah engkau aku arahkan kepada jalan yang benar yang diridhai oleh Allah sehingga jika engkau sudah mendapatkan hidayah engkau takut jikalau Allah mengembalikanmu kepada kesesatan lalu mengadzabmu.?”

Di ayat keduapun Allah subhanahu wa ta’ala juga mengajarkan kepada kedua Rasulnya Musa dan Harun agar berkata-kata lembut supaya hati fir’aun luluh dan kembali ingat kepada Allah.

Cara ini adalah cara yang digunakan oleh Nabi Musa alaihissalam ketika pertama kali hendak bertemu dengan Fir’aun, karena biasanya hati manusia akan luluh jika diperlakukan dengan cara yang lemah lembut. Sayangnya hati Fir’aun sudah terlalu keras bagaikan batu, sehingga tak mempan dengan kata-kata yang lembut tersebut. Mata hatinya telah buta oleh kesombongannya sampai-sampai ia mengaku dirinya sebagai tuhan!!!

Nabi Musa alaihissalam juga dibekali mu’juzat oleh Allah subahaanahu wa ta’ala yang berupa tongkat yang bisa berubah menjadi ular, dan tangan beliau yang bisa memancarkan cahaya. Itu semua adalah bukti kenabian Nabi Musa alaihissalam agar Fir’aun percaya dan beriman. Namun Fir’aun justru menjadi semakin ingkar dan menuduh Nabi Musa alaihissalam dengan tuduhan tukang sihir, Allah berfirman:

فَقَالَ لَهُ فِرْعَوْنُ إِنِّي لأظُنُّكَ يَا مُوسَى مَسْحُورًا (١٠١) قَالَ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا أَنْزَلَ هَؤُلاءِ إِلا رَبُّ السَّمَاوَ وَالأرْضِ بَصَائِرَ وَإِنِّي لأظُنُّكَ يَا فِرْعَوْنُ مَثْبُورًا (١٠٢)

“…Lalu Fir’aun berkata kepadanya: “Wahai Musa! Sesungguhnya aku benar-benar menduga engkau terkena sihir.”

Dia (Musa) menjawab: “Sungguh, engkau telah mengetahui, bahwa tidak ada yang menurunkan (mukjizat-mukjizat) itu kecuali Tuhan (yang memelihara) langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata[8]; dan sungguh, aku benar-benar menduga engkau akan binasa, wahai Fir’aun.” (QS. Al-Israa’: 101-102).

Di saat itulah Nabi Musa tak lagi berkata-kata lembut seperti pada pertama kali bertemu. Tutur kata Nabi Musa alahissalam yang awalnya lembut berubah menjadi ancaman kepada Fir’aun akan adzab Allah dan kebinasaan yang akan menimpanya jika ia tetap bersikeras dan tidak mau bertaubat. Bukan karena Nabi Musa ingin  memenangkan diriya sendiri atau meluapkan kemarahan yang disebabkan oleh hal-hal yang berhubungan dengan beliau pribadi, tapi karena cara lembut memang sudah tidak cocok dengan Fir’aun, dan hanya tinggal cara tegas dengan mengingatkannya akan adzab Allah ta’ala yang pantas untuknya.

Demikianlah Nabi Musa alaihissalam berdakwah memulai dengan cara lembut sebagaimana yang Allah perintahkan, kemudian menunjukkan bukti-bukti tentang kebenaran yang beliau bawa berupa mukjizat-mukjizat yang tak terbantahkan dan tak bisa dipungkiri kecuali  oleh orang-rang yang tertutup mata hatinya. Namun ketika semuanya tak membuahkan hasil, dan Fir’aun semakin bertambah ingkar, beliau memakai kata-kata ancaman akan adzab Allah.

Dari sini kita dapat mengambil pelajaran bahwa dakwah harus dimulai dengan metode yang menarik dan membuat orang mencintai kebenaran. Jika tak banyak membuat perubahan maka dilihat cara yang paling sesuai dengan mereka baik dengan memakai cara tegas sebagainya tergantung kepada keadaan dan siapa objek yang kita tuju.

Semoga kita menjadi salah satu orang yang ikut andil berkhidmat dan mengabdi kepada umat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dengan segenap kemampuan yang kita miliki.

Wallahu a’lam bisshowab

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet,

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: