Takbir Pada Hari Raya ‘ied

takbir-hari-raya.jpg

Allah azza wajalla berfirman,

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ [البقرة : 185]

Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjukNya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur (QS. Al-Baqarah : 185)

Telah diriwayatkan bahwasanya Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- biasa berangkat melaksanakan shalat pada hari raya ‘ied, lalu beliau bertakbir hingga tiba di tempat pelaksanaan shalat, bahkan hingga shalat akan dilaksanakan. Kemudian, jika shalat akan dilaksanakan, beliaupun menghentikan bacaan takbir

(HR. Ibnu Abi Syaibah di dalam kitab al-Mushannaf dan al-Mahamilidi dalam kitab Shalatul idain dengan sanad yang shahih, tetapi berstatus mursal . meskipun demikian, ia memiliki beberapa syahid (penguat) yang memperkuatnya. Lihat di dalam kitab Silsilatul Ahaadiits ash-Shahihah (170). Adapun permulaan takbir pada hari ied adalah pada waktu berangkat ke tempat pelaksanaan Shalat (tanah lapang)

Syaikh al-Albani, seorang ahli hadis,menjelaskan : “ Hadits di atas mengandung dalil yang menunjukkan disyariatkannya apa yang dikerjakan oleh kaum muslimin, berupa takbir dengan suara lantang selama dalam perjalanan menuju ke tempat pelaksanaan shalat (tanah lapang), meskipun banyak dari mereka mulai meremehkan sunnah ini.

Pada kesempatan yang baik ini, perlu juga diingatkan bahwa tidaklah disyariatkan bertakbir dengan suara keras secara bersama-sama dengan satu suara (koor), sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang. Demikian juga setiap dzikir yang disyariatkan untuk membacanya dengan suara keras maupun tidak, maka tidak disyariatkan pula melakukannya dengan bersama-sama seperti yang telah disebutkan tadi. Hendaklah kita berhati-hati supaya tidak melakukan hal tersebut (Silsilatul Ahaadiits ash-Shahihah I/121)

Hendaklah kita senantiasa mengarahkan pandangan kepada keyakinan bahwa sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad-shallallahu ‘alaihi wasallam-.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –semoga Allah merahmatinya- pernah ditanya tentang waktu pelaksanaan takbir pada shalat ‘iedul Fithri dan iedul Adha, dia memberikan jawaban,’ segala puji hanya bagi Allah, pendapat yang benar mengenai pelaksanaan takbir ini, dan yang menjadi pendapat jumhur (mayoritas) ulama Salaf, dan fuqaha (para ahli fiqih) dari kalangan sahabat dan Tabi’in, adalah bertakbir dari waktu fajar pada hari ‘Arafah sampai dengan akhir hari tasyriq, yaitu, setiap kali selesai shalat. Disyariatkan pula bagi setiap orang untuk membaca takbir dengan suara lantang pada saat berangkat menuju tempat shalat ‘ied. Yang demikian itu dengan kesepakatan empat imam madzhab (Majmu’ al-Fataawaa (XXIV/220, Lihat juga kitab “ Subulus Salaam (II/71-72)

Penulis (Syaikh Ali Hasan) berkata : “ Pendapat Ibnu taimiyah –semoga Allah merahmatinya- yang menyebutkan : ‘ setiap kali selesai shalat’ secara khusus tidak berdasarkan dalil sama sekali . Yang benar adalah setiap waktu, tanpa ada pengkhususan”.

Hal tersebut diperkuat oleh apa yang dikemukakan oleh Imam al-Bukhari di dalam kitab al-‘iidain dari kitab Shahihnya (II/461), Bab “Bertakbir Pada Hari Mina dan Ketika Bertolak ke Arafah.

Umar –semoga Allah meridhainya- biasa bertakbir di kemahnya di Mina sampai terdengar oleh orang-orang yang hadir di mesjid sehingga merekapun bertakbir. Begitu pula orng-orang yang sedang berada di pasar, mereka ikut bertakbir sehingga mina bergemuruh oleh bacaan takbir.

Ibnu Umar juga bertakbir di Mina pada har-hari tersebut, setelah selesai shalat, di atas tempat tidur, lantai tempat duduk, dan dalam perjalanannya selama hari-hari tersebut.

Maimunah bertakbir bertakbir pada hari raya kurban. Kaum wanita pun ikut bertakbir di belakang Abban bin Utsman dan Umar bin Abdil Aziz selama malam-malam hari Tasyrik bersama kaum pria di masjid.

Apabila Ibnu Umar berangkat ke tanah lapang pada hari raya ‘iedul Fithri dan Iedul Adha, beliau bertakbir dengan suara lantang sampai tiba di tempat pelaksanaan shalat, kemudian tetap bertakbir hingga imam datang

(HR. Ad-Daruquthni, Ibnu Abi Syaibah, dan yang lainnya dengan sanad shahih. Lihat juga kitab Irwaa-ul Ghalil, 650)

Menurut pengetahuan saya (penulis), tidak ada satu hadis pun yang shahih terkait lafazh takbir ini. Akan tetapi, ada riwayat dari sebagian shahabat Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam-, seperti Ibnu Mas’ud –semoga Allah meridhainya-, beliau pernah mengucapkan :

الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله والله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali hanya Allah semata. Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, dan segala puji hanya bagi Allah (HR. Ibnu Abi Syaibah (II/168, dengan sanad shahih)

Ibnu Abbas juga pernah mengucapkan :

الله أكبر الله أكبر , الله أكبر ولله الحمد , الله أكبر وأجل, الله أكبر على ما هدانا

Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, segala puji hanya bagi Allah. Allah Mahabesar lagi Mahaagung. Allah Mahabesar atas petunjuk yang telah diberikan kepada kita (HR. Al-Baihaqi (III/315) dengan sanad shahih

Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq yang diantara jalurnya terdapt pada al-Baihaqi di dalam kitab as-Sunan al-kubra (III/316), dengan sanad shahih dari Salman al-Khair –semoga Allah meridhainya-, dia berkata,

كبروا الله : الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر كبيرا

Agungkanlah Allah dengan menyebut : ‘Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar dengan sebesar besarnya,’

Banyak orang awam yang menyalahi lafazh dzikir yang bersumber dari kaum salaf. Mereka membaca dzikir-dzikir lain, melakukan penambahan, serta membuat lafazh-lafaz baru yang tidak memiliki dasar sama sekali. Sampai-sampai, al-Hafizh Ibnu Hajar berkata di dalam kitabnya, Fat-hul Baari (II/536) : “pada zaman sekarang terlah terjadi penambahan dalam hal bacaan takbir tersebut yang tidak memilki dasar sama sekali.

Wallahu a’lam

Sumber :

Dinukil dari, “ Ahkamul ‘iedain Fii as-Sunnah al-Muthahharah”, Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi, Edisi Bahasa Indonesia : Meneladani Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- dalam Berhari Raya, hal.193-197

Penulis : Amar Abdullah bin Syakir

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet,

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: