Tauhid yang Murni Sebab Ampunan Allah

rumput-hijau.jpg

Anas bin Malik berkata,

سَمِعْتُ رَسُولَ اللهيقول: قال الله تعالى: يا ابنَ آدَمَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الأرْضِ خَطَايَا ثُمّ لَقِيتَنِي لاَ تُشْرِكُ بي شَيْئاً لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

“Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, Allah ta’ala berfirman, wahai anak Adam kalau seandainya engkau mendatangiKu dengan membawa dosa sepenuh bumi kemudian engkau bertemu denganKu, engkau tidak menyekutukan Aku dengan sesuatu apapun niscaya aku akan memberikan ampunan sekadar itu pula.” (HR. at-Tirmidzi)

Sabda nabi, لاَ تُشْرِكُ بي شَيْئاً, engkau tidak menyekutukan Aku dengan sesuatu apapun, ini berarti atau mengisyaratkan hidup seseorang yang mentauhidkan Allah secara murni. Bila ini yang dilakukan, Allah akan memberikan pengampunan atas dosa-dosa yang dilakukan orang tersebut mengampuni dosa-dosa yang dilakukannya semasa hidupnya di dunia.

Apa itu tauhid yang murni?

Tauhid yang murni yaitu, Iman kepada Allah dan RasulNya -dibuktikan dengan melaksanakan syariatNya- dan tidak  mencampurinya dengan kesyirikan, kecil maupun besar. Allah berfirman,

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُوْلَئِكَ لَهُمْ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

Tentang ayat ini, ahli tafsir berkata,

الذين صدَّقوا الله ورسوله وعملوا بشرعه ولم يخلطوا إيمانهم بشرك، أولئك لهم الطمأنينة والسلامة، وهم الموفقون إلى طريق الحق.

Yakni, orang-orang yang membenarkan Allah dan RasulNya dan menjalankan syariatNya dan tidak mencampuri keimanannya dengan kesyirikan, maka mereka itu mendapatkan ketenangan (keamanan) dan keselamatan dan mereka adalah orang-orang yang mendapatkan taufiq dari Allah untuk meniti jalan yang benar. (at-Tafsir al-Muyassar)

Allah memerintahkan seluruh manusia tanpa terkecuali, agar mereka mentauhidkanNya dengan semurni murninya, Dia berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (21) الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ (22)

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa, Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. al-Baqarah : 21-22)

Ini adalah seruan dari Allah untuk seluruh manusia, hendaknya mereka menyembah Allah Dzat yang telah mendidik kalian melalui nikmat-nikmat yang dikaruniakanNya, hendaknya mereka takut kepadaNya dan tidak menyelisihi (ajaran) agamaNya, sungguh Dia telah mengadakan mereka yang sebelumnya mereka tidak ada, begitu juga mengadakan orang-orang sebelum mereka, yang dengan itu mereka termasuk orang-orang yang bertakwa kepadaNya yang mana Allah meridhoi mereka dan mereka juga ridha kepadaNya.

Rabb mereka adalah Dzat yang telah menjadikan untuk mereka bumi sebagai hamparan agar kalian mudah dalam menjalani kehidupan di atasnya, Dia pula yang telah menjadikan langit sebagai atap yang kokoh, Dia pula yang telah menurukan hujan dari awan yang berada di langit bagi mereka, yang dengan air hujan yang diturunkanNya itu tumbuhlah berbagai macam tetumbuhan dan buah-buahan yang kesemuanya itu diperuntukkan bagi mereka. Oleh karena itu tidak sepantasnya mereka kemudian -setelah mendapatkan berbagai kenikmatan tersebut- malah membuat sekutu tandangan-tandingan bagi Allah dalam aktivitas peribadatan mereka kepadaNya sementara mereka mengetahui keesaan Allah rabb mereka dalam hal menciptakan, memberikan rizki dan bahwa hanya Dialah yang berhak untuk diibadahi.

Allah ta’ala juga menegaskan,

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.” (QS. an-Nisa : 36), yakni, sembahlah Allah saja, jangan kalian menjadikan sekutu baginya dalam rububiyyah dan uluhiyyahNya.

Allah ta’ala juga berfirman,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.” (QS. al-Bayyinah : 5)

Yakni, tidaklah mereka -para manusia- diperintahkan dalam seluruh syariat melainkan agar mereka beribadah kepadaNya, menyembahNya semata, tidak kepada yang lainnya, mereka hendaknya memaksudkan dari peribadatannya tersebut hanya mengharapkan wajah Allah, hedaknya mereka berpaling dari segala bentuk kesyirikan kepada keimanan yang murni, hendaknya mereka mendirikan shalat, mengerkannya pada waktunya, melakukannya dengan memenuhhi syarat-syaratnya, melakukan sesuatu yang menjadi rukun-rukunya, wajib-wajibnya dan sunnah-sunnahnya, melakukannya dengan penuh kekhususan dan ketundukkan kepada Allah ‘azza wajalla, rabbnya. Hedaknya mereka menunaikan zakat, di mana demikian itulah agama yang lurus yaitu Islam.

Allah ta’ala juga berfirman,

هُوَ الْحَيُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (65) قُلْ إِنِّي نُهِيتُ أَنْ أَعْبُدَ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَمَّا جَاءَنِيَ الْبَيِّنَاتُ مِنْ رَبِّي وَأُمِرْتُ أَنْ أُسْلِمَ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ (66)

“Dialah yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan dia; Maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadat kepada-Nya. segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Katakanlah (ya Muhammad): “Sesungguhnya aku dilarang menyembah sembahan yang kamu sembah selain Allah setelah datang kepadaku keterangan-keterangan dari Tuhanku; dan aku diperintahkan supaya tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam.” (QS. Ghafir/Mukmin : 65-66)

Yakni, Dialah Allah Dzat yang Mahasuci, dzat yang Mahahidup, yang hidup, yang memiliki kehidupan yang sempurna, tidak ada sesembahan yang hak melainkan Dia. Oleh kerena itu, mintalah kepadaNya dan palingkanlah seluruh ibadahamu kepadaNya saja, lakukanlah dengan semurni-murninya dalam menjalankan ketaatan kepadaNya, maka segala puji dan sanjungan yang sempurna bagiNya rabb semua makhluk. Dan, Rasulullah-utusanNya diperintahkan oleh Dzat yang mengutusNya yaitu Allah ‘azza wajalla untuk mengatakan kepada orang-orang musyrik di antara kaumnya, “Sungguh, benar-benar aku dilarang untuk menyembah sesuatu yang kalian sebah selain Allah, setelah datang kepadaku ayat-ayat (keterangan-keterangan/bukti-bukti) yang jelas dari rabb ku, dan Dia memerintahkan kepadaku untuk tundak dan taat kepadaNya dengan semurni-murninya ketundukan dan ketaatan, mahasuci Dia rabb semesta alam”. Maka, perintah Allah ini kepada rasulNya juga berlaku bagi kita sebagai ummatnya, maka kita diperintahkan untuk mentauhidkanNya dengan semurni-murninya.

Mengapa kita mentauhidkanNya?

Ya, karena kita diperintahkan Allah untuk melakukan hal tersebut. Maka, kita mendengar dan taat. Disamping itu karena memang hal tersebut hanyalah Allah yang berhak mendapatkannya. Dialah sesembahan satu-satunya yang hak, sebagaimana yang diberitakannya di dalam firmanNya kepada kita,

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

“Maka ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) yang haq selain Allah.” (QS. Muhammad : 19)

Adapun sesemhan selainNya adalah tidak haq, sehingga tidak berhak untuk mendapatkan penyembahan, sebagaimana yang Allah firmankan,

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

“Yang demikian itu, adalah karena Sesungguhnya Allah, Dialah (tuhan) yang haq dan Sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, Itulah yang batil, dan Sesungguhnya Allah, Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha besar.” (QS. al-Hajj : 62)

Yakni, yang demikian itu karena Allah Dialah sesembahan yang haq yang tidak layak untuk mendapatkan peribadatan selain Dia, dan bahwa apa yang disembah oleh orang-orang musyrik selainNya berupa berhala, patung dan yang lainnya adalah batil, tidak dapat memberikan manfaat dan tidak pula dapat mendatangkan madharat, dan bahwa Allah Dialah Dzat yang Mahatinggi atas makhlukNya baik secara DzatNya, ukuran dan kekuasaannya, mengungguli segala macam berhala atau yang diserupakan denganNya, Dia Mahabesar dalam Dzat dan nama-namaNya, maka Dia lebih agung dari segala sesuatu. Wallahu a’lam.

Semoga Allah mengaruniakan kepada kita taufiq untuk mentauhidkanNya. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya.


Penyusun: Amar Abdullah bin Syakir

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel Hisbah di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: