Teladan Nabi dalam Mengajari Anak Kecil

Teladan-Nabi-SAW-Dalam-Mengajari-Anak-Kecil.jpg

Munculnya Rasulullah ﷺ ke dunia adalah suatu bentuk kasih sayang Allah SWT kepada alam semesta. Kedatangan beliau meluruskan roda perputaran sejarah manusia yang kelam dan semakin jauh dari kebenaran karena mereka telah jauh dari ajaran para nabi dahulu. Kehadiran beliau telah merubah penyembahan terhadap batu -yang tak lain adalah benda mati- kepada penyembahan Allah SWT pemilik dan pencipta alam semesta. Kedatangan beliau membawa kedamaian bagi jin, manusia, bahkan hewan dan tumbuhan karena agama islam yang beliau bawa mengajarkan kedamaian, andai ada segelintir orang yang mengaku pengikut beliau lalu berbuat keonaran maka itu adalah kesalahan orang tersebut dan dia sama sekali tidak mewakili agama islam yang damai yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ.

Rasulullah ﷺ datang dengan akhlaqul karimah dan sopan santun. Akhlaq baik beliau menjadikan daya tarik tesendiri bagi setiap orang yang berinteraksi dengan beliau sehingga merekapun tunduk dan menurut dengan apa yang beliau ajarkan, sikap beliau dalam berinteraksi dengan manusia begitu menarik sehingga hati orang yang bersamanya akan mencintai beliau sejak bertemu dengan beliau pertama kali. Oleh karena itu Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَق

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak-akhlak mulia.” (HR. Ahmad)

Akhlaq mulia beliau tak hanya kepada orang dewasa tetapi juga kepada anak kecil, beliau begitu baik dalam berinteraksi dengan anak-anak muda disekitar beliau sehingga mereka merasa dihargai walaupun dengan orang yang jauh lebih tua darinya.

Sayyidina Anas bin Malik ra berkata:

ولقد خدمت رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عشر سنين، فما قال لي قط((أف)) ولا قال لشيء فعلته: ((لم فعلته؟)) ولا لشيء لم أفعله: ((ألا فعلت كذا ؟!)). مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.

Sungguh aku telah melayani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selama sepuluh tahun, tidak pernah beliau berkata kepadaku: “ah,” dan tidak pernah mengatakan terhadap sesuatu yang telah aku kerjakan: “Kenapa engkau lakukan? Dan tidak pula terhadap sesuatu yang tidak aku lakukan: “Kenapa engkau tidak melakukan hal ini?.” Muttafaq ’alaih.

Inilah yang sangat perlu diperhatikan oleh seorang dai ketika mengajari anak-anak, yaitu berinteraksi dengan mereka dengan baik, menarik hati mereka dahulu sebelum menyampaikan nasehat. Dengan demikian merekapun akan menerima nasehat dengan mudah. Sayang sekali sebagian orang tua memandang anak kecil dengan sebelah mata, ketika melihat anak kecil berbuat salah mereka langsung menghardiknya tanpa menarik hatinya terlebih dahulu.

Mari kita melihat bagaimana Nabi ﷺ mengajarkan anak tirinya yang bernama Umar bin Abi Salamah ra akhlaq makan yang baik.

‘Umar bin Abi Salamah berkata, “Waktu aku masih kecil dan berada di bawah asuhan Rasulullah ﷺ, tanganku bersileweran di nampan saat makan. Maka Rasulullah ﷺ bersabda,

« يَا غُلاَمُ سَمِّ اللَّهَ ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ » . فَمَا زَالَتْ تِلْكَ طِعْمَتِى بَعْدُ

‘Nak, bacalah ‘bismilillah’, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang ada di hadapanmu. Maka seperti itulah gaya makanku untuk seterusnya.” (HR. Bukhari no. 5376 dan Muslim no. 2022)

‘Umar bin Abi Salamah ra bercerita masa kecilnya saat beliau makan bersama Rasulullah ﷺ sedang beliau langsung makan tanpa  membaca bismillah dan tangan beliau kesana kemari mengambil bagian makanan yang disukainya, ketika melihat itu Rasulullah ﷺ mengajarinya dengan kata-kata yang sangat halus dan mengena sehinggga perkataan beliau diterima oleh Umar bin Abi Salamah ra bahkan dijadikannya sebagai pegangan sampai ia besar.

Inilah cara Nabi ﷺ mengajari anak kecil, tinggal kita bagaimana akan mencontoh beliau. Jika kita berhasil menarik hati anak kecil lalu mengajarinya suatu hal yang baik baginya, maka jika ia menurut dan mengamalkan nasehat kita sampai ia besar, itu akan menjadi pahala yang mengalir bagi kita, dan pastinya menasehati anak kecil termasuk salah satu bentuk amar ma’ruf nahi mungkar.

Dan yang tak kalah penting agar nasehat kita dapat diterima oleh mereka adalah memberikan teladan yang baik sebelum memberi nasehat, karena dampak dari perbuatan kita yang mereka lihat lebih berpengaruh daripada nasehat kita yang mereka dengar.

Wallahua’lam

Arinal Haq

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: