Ummu Salamah Menasehati Abdurrahman bin Auf

Ummu-salamah.jpg

Di antara para shahabiyat ada yang memiliki sikap agung hingga terhadap orang-orang shaleh dari kalangan orang yang beriman dalam memberikan nasehat, petunjuk, dan peringatan. Supaya mereka bertambah semangat dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah azza wajalla.Sikap seperti ini  telah dimiliki oleh Ummul Mukminin, Ummu Salamah Hindun binti Abu Umayyah, istri Nabishallallahu ‘alaihi wasallam-, Hal ini terdapat dalam riwayat Ahmad dan lainnya dengan sanad yang para perowinya tsiqat (terpercaya), bahwa Abdurrahman bin Auf mendatangi Ummu Salamah. Dia berkata: “Wahai Ummul Mukminin ! Aku khawatir akan celaka, aku termasuk orang yang paling kaya di kalangan Quraisy. Aku telah menjual tanahku dengan harga empat puluh ribu dinar. “

Ummu Salamah berkata: “Wahai anakku, berinfaklah, aku mendengar Rasulullah –shallalhu ‘alaihi wasallam– bersabda:

إِنَّ مِنْ أَصْحَابِي مَنْ لَا يَرَانِي بَعْدَ أَنْ أُفَارِقَهُ

“Sesungguhnya ada di antara para sahabatku yang tidak akan melihatku setelah aku meninggalkannya”

Selanjutnya Abdurrahman berkata: “Kemudian aku mendatangi Umar dan aku beritahukan kepadanya tentang hal ini, sehingga dia mendatangi Ummu Salamah dan berkata: “Demi Allah ! Apakah aku termasuk di antara mereka ?’ Ummu Salamah menjawab: ’Tidak, dan aku tidak menganggap bersih seorang pun setelah dirimu. “

Nasehat ini telah membekas pada Abdurrahman bin Auf, sehingga rasa takut yang membekas di dalam hatinya, dia segera pergi ke tampat Umar untuk memberitahukan hal ini kepadanya. Umar pun terkejut setelah mendengarnya, sehingga dia segera pergi ke tempat Ummu Salamah untuk bertanya kepadanya, apakah dia termasuk di antara orang-orang yang telah disebutkan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam– itu. Semoga Allah meridhaimu wahai Umar al-Faruq

Apabila yang bertanya seperti ini adalah orang yang jika setan melihatnya, setan tersebut akan lari, bagaimanakah dengan diri kita. Ya, Allah, selamatkanlah kami, selamatkanlah kami.

Amin

Wallahu a’lam

Sumber :

Duruusun Min Hayaati ash-Shahabiyaat, Dr. Abdul Hamid as-Suhaibani, hal. 75 (Edisi Bahasa Indonesia)

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: