Ummu Sulaim Mengajarkan Kalimat Thayyibah

Ummu-Sulaim-Mengajarkan-Kalimat-Thayyibah.jpg

Ketika Ummu Sulaim al-Anshariyah masuk Islam, suaminya, yaitu, Malik bin Nadhr tidak rela dengan tindakan istrinya nya tersebut. ia pun memperlihatkan ketidak sukaannya tersebut kepada istrinya. Namun, Ummu Sulaim tak peduli dengan ketidak sukaan suaminya tersebut. Bahkan, segera saja ia berusaha untuk mengajarkan kalimat thayyibah, dua kalimat syahadat: اشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا رسول الله    (aku bersaksi bahwa tidak ilah/sesembahan yang berhak untuk disembah kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah).

Al-Imam Ibnu Sa’ad telah meriwayatkan dari Ishak bin Abdullah dari bibinya Ummu Sulaim –semoga Allah meridhainya- bahwasanya ketika ia beriman kepada Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam-, ia berkata, tiba-tiba datanglah Abu Anas (yakni, suaminya) lalu berkata : apakah engkau telah menjadi gila? ia pun menjawab : aku tidak gila, namun aku telah beriman kepada lelaki ini (yakni, Muhammad-shallallahu ‘alaihi wasallam). Perawi berkata : ia pun mengajarkan kepada Anas (yakni, anaknya) seraya berkata, katakanlha oleh mu : لا إله إلا الله , katakanlah olehmu : أشهد أن محمدا رسول الله , aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.

Perawi berkata : maka Anas pun melakukannya (yakni, mengucapkan kaliamat tersebut yang diajarkan oleh ibunya). Perawi berkata, ketika sang ayah mendengarnya, maka ia pun berkata kepada Ummu Sulaim (istrinya) : Jangan rusak keyakinan anakku ! Mendengar hal tersebut maka Ummu Sulaim membantah perkataan suaminya tersebut, “ Sungguh, aku tidak merusak keyakinannya ! (justru aku meluruskan dan membenahinya)  (ath-Thabaqaat al-Kubra, 5/425, lihat juga Siyar A’lam an-Nubala, 2/305)

Pelajaran :

Di dalam sepenggal kisah ini banyak pelajaran berharga yang dapat kita ambil darinya, di antaranya  :

  1. Hidayah Allah diberikan kepada siapa saja dari hamba-Nya yang dikehendakinya. Maka, boleh jadi dalam sebuah keluarga, terdapat orang yang lurus keyakinannya dan terdapt pula sebaliknya.
  2. Ketika hidayah Allah itu masuk ke dalam hati seseorang, niscaya tak ada orang yang dapat memalingkannya. Betapapun Suami Ummu Sulaim berusaha untuk memalingkan istrinya dari petunjuk, tak akan mampu ia melakukannya selagi Allah telah menyinari hati istrinya dengan petunjuk-Nya.
  3. Wajibnya mendakwahkan kebenaran, mengajak orang lain ke jalan yang benar. Sebagaimana tindakan Ummu Sulaim yang mengajak anaknya kepada kebenaran.
  4. Wajibnya mengajarkan dan menamkan keyakinan yang benar kepada anggota keluarga, seperti anak-anak kita dan lain sebagainya, bahkan kepada orang lain sekalipun yang tidak memiliki hubungan keluarga. Ini jugalah yang tercermin dalam tindakan Ummu Sulaim
  5. Kebatilan wajib dibantah. Ketika dikatakan kepada Ummu Sulaim bahwa apa yang diajarkan kepada anaknya akan merusak keyakinannya, Ummu Sulaim membantahnya karena perkataan Suaminya merupakan kebatilan. Karena yang benar adalah justru hal itu akan meluruskan keyakinan anaknya sebagaimana yang telah diyakininya.
  6. Tidak ada kepatuhan dan ketaan kepada makhluk dalam kesalahan, keburukan dan kemaksiatan kepada Allah azza wajalla. Sekalipun Ummu Suliam dilarang oleh suaminya agar tidak mengajarkan apa yang ia ajarkan, Ummu Suliam enggan untuk patuh terhadap suaminya, karena tahu bahwa itu merupakan kesalahan dan kemaksiatan kepada Allah azza wajalla.

Semoga Allah memberikan hidayah-Nya kepada kita, menetapkannya turs berada di dalam hati kita hingga tiba waktunya nyawa meninggalkan jasad kita. Amin

Wallahu a’lam

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya

Amar Abdullah bin Syakir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: