Ummu Sulaim, Teladan dalam Kesabaran

Ummu-Sulaim-Teladan-dalam-Kesabaran.jpg

Ummu Sulaim, sang istri penyabar dengan kesabaran yang mengagumkan. Inilah sosok teladan yang yang akan penulis nukilkan sebagian cerita keteladanannya kepada Anda, semoga kita semuanya dapat mengambil pelajaran darinya.

Seorang sahabat mulia Anas bin Malik berkata, adalah anak dari Abu Thalhah sedang sakit, ketika Abu Thalhah pergi (untuk keperluannya), lalu anaknya diambil (meninggal dunia), maka Ummu Sulaim (ibu anak tersebut) berkata: “Kuburkan anak itu”, Ketika Abu Thalhah kembali dia bertanya: bagaimana keadaan anakku?” Ummu Sulaim berkata, Dia lebih tenang, yakni lebih baik dan lebih tentram keadaannya”. Kemudian Ummu Sulaim menghidangkan makan malam, setelah makan malam Abu Thalhah menggaulinya. Ketika pagi tiba Abu Thalhah menghadap kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam– dan dia menyampaikan kejadian itu kepada beliau, Rasulullah ﷺ bersabda, Semalam kalian menjadi pengantin? Abu Thalhah menjawab, “betul”, ya Rasulullah. Rasalullah ﷺ berkata, Ya Allah berilah keberkahan kepada keduanya”. Kemudian Ummu Sulaim melahirkan bayi laki-laki. Abu Thalhah berakta kepada Anas: Gendonglah Anak ini dan bawalah menghadap Rasulullah, sambil dibekali beberapa biji kurma. Rasulullah ﷺ bertanya, apakah dia dibekali sesuatu? Anas menjawab, Ya, beberapa biji kurma, maka Rasulullah mengambil dan mengunyahnya lalu beliau mengeluarkan dari mulutnya dan meletakkannya di mulut bayi tersebut lalu menggosok-gosokkannya di langit-langit mulutnya dan memberinya nama Abdullah (HR.al-Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat al-Bukhari, berkata Ibnu uyainah: salah seorang Anshar berkata, ”saya melihat sembilan anak semunya hafal al-Qur’an yakini anak-anak Abdullah tersebut.

Dan dalam riwayat muslim, Anas bin Malik berkata: Telah meninggal dunia anak Abu Thalhah hasil perkawinannya dengan ummu Sulaim, maka Ummu Sulaiam berkata kepada keluarganya: jangan beritahu Abu Thalhah tentang anaknya, biaralah nanti saya yang berbicara kepadanya, maka setelah Abu Thalha datang, Ummu Sulaim menghidangkan makan malam, lalu Abu Thalhah makan dan minum, sementara itu umu sulaim sudah berdandan dengan dandanan yang lebih baik dari sebelummhya, maka Abu Thalhah menggaulinya, ketika ummu Sualaim melihat sudah kenyang dan selesai dari hajatnya dia berkata: ‘wahai Abu Thalhah, bagimana menurutmu kalau ada orang yang meminjam barang kepada orang lain kemudian pemiliknya meminta, apakah si peminjam berhak untuk menahannya? Abu Thalhah menjawab, “tidak berhak”. Ummu Sualaim berkata ”Mohonlah balasan pahala kepada Allah karena anakmu. Anas berkata : Maka Abu Thalhah marah dan berkata, “Engkau biarkan aku sehingga aku merasa kotor (dengan menggaulimu) setelah itu baru engkau katakan kepadaku tentang anakku, maka Abu thalhah pergi menghadap Rasulullah ﷺ dan menceritakan peristiwa itu, lalu Rasulullah ﷺ bersabda, semoga Allah memberkahi kalian berdua pada malam itu. Anas berkata: ‘setelah itu Ummu Sulaim mengandung dan ketika Rasulullah ﷺ bepergian Ummu Sulaim menyertainya , dan adalah Rasulullah jika beliau kembali dari bepergian beliau tidak pernah masuk kota Madinah pada waktu malam, ketika mereka mendekati kota Madinah Ummu Sulaim merasakan datangnya tanda-tanda kelahiran, maka Abu thalhah tertahan di sisinya sementara Rasulullah ﷺ tetap melanjutkan untuk masuk kota Madinah.

Abu Thalhah berkata: “sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa bahwa saya menyukai keluar bersama Rasulullah apabila beliau pergi dan saya juga menyukai masuk (datang) apabila beliau datang sedangkan saat ini saya tertahan karena suatu hal yang Engkau ketahui”.

Ummu Sulaim berkata: “Wahai Abu Thalhah, yang sedang aku rasakan sudah menghilang , mari kita lanjutkan”.

Anas berkata: “Maka kami melanjutkan perjalanan, ketika keduanya sampai di kota Madinah tanda-tanda kelahiran datang lagi dan melahirkan bayi laki-laki, Ummu Sulaim berkata: Wahai Anas sebelum anak ini menyusu bahalah dia menghadap kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam

Maka ketika pagi tiba, aku membawa bayi itu kepada Rasulullah dan selanjutnya Rasulullah menyuapinya dan memberi nama kepadanya.

Renungkanlah teladan yang mengagumkan ini, engkau akan mendapati seorang wanita, dia adalah teladan para wanita, dia sabar, ia mengharap balasan pahala terhadap kematian anaknya maka Allah membalas kebaikan dengan kebaikan dan menganugerahinya anak baru sampai anak itu menikah dan dikaruniai sembilan orang anak semuanya hafal al-Qur’an.

Pelajaran apakah yang bisa saudari petik dari kisah ini?

 

Pertama, istri yang shalihah, dia mempunyai akal yang cerdas dan sikap yang cerdik.

Kedua, kelemah-lembutan dalam menyampaikan berita duka cita kematian atau musibah

Ketiga, lebih mementingkan ridha suami daripada kesedihannya dan ini termasuk berbaktinya seorang istri kepada suami.

Keempat, Kecintaan para sahabat yang mulia kepada Rasulullah ﷺ dan keinginan mereka untuk selalu berada di sisi beliau.

Kelima, pemilihan nama-nama yang bagus bagi anak-anak dan nama yang paling utama yaitu Abdullah dan Abdurrahman.

Keenam, Barangsiapa meninggalkan sesuatu karena semata-mata mencari wajah Allah niscaya Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.

Sumber :

Tuhfatun Nisa, Abu Maryam Majdi Fathi As-Sayyid. Edisi Indonesia: Bingkisan Istimewa Bagi Muslimah, hal. 18-21, penerbit: Darul Haq, Jakarta. Dengan gubahan

 Amar Abdullah

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: