Wanita dan Shalat (Bagian 1)

wanita-dan-shalat.jpg

Tidak ada perbedaan antara tata cara shalat laki-laki dan shalat wanita :

Perbedaan tata cara shalat laki-laki dan shalat wanita yang dikemukakan sebagian fuqaha (ahli fiqih) tidak memiliki dalil dan pernyataan yang terdapat dalam hadis adalah bersifat umum, yaitu, “shalatlah kamu sebagaimana kamu melihatku shalat”.

Sunnah Nabi menyatakan bahwa hendaklah kaum wanita menunaikan shalat sebagaimana halnya kaum laki-laki menunaikannya baik dalam rukuk, sujud, dan mengeraskan bacaan. Jika seorang wanita menunaikan shalat, kemudian terlihat darinya sebagian auratnya, seperti : betis, kaki, kepala atau sebagian kepalanya, maka shalatnya tidak sah.

Tubuh seorang wanita seluruhnya ialah aurat dalam shalat kecuali mukanya dan kedua telapak tangannya. Tetapi jika di hadapannya terdapat orang laki-laki lain yang bukan mahramnya, maka ia waijb menutupi kedua anggota badannya tersebut.

Mengeraskan bacaan shalat

Disunnahkan bagi wanita mengeraskan bacaan shalat baik shalat wajib ataupun shalat sunnah pada bacaan yang memang harus dibaca keras seperti bacaan shalat sunnah malam hari selama tidak ada orang laki-laki lain yang bukan mahramnya yang dapat tergoda oleh suaranya, atau hal itu dapat mengganggu orang lain.

Berkenaan dengan bacaan shalat yang dilaksanakan siang hari, maka seorang wanita wajib merendahkan suaranya dalam membaca bacaannya, karena shalat siang adalah shalat yang bacaannya dibaca dengan suara yang rendah (pelan), dan ukuran suara keras dalam membaca bacaannya adalah sekiranya bacaan itu terdengar oleh dirinya sendiri.

Seorang wanita haram memakai pakaian bergambar atau bersalib, di mana meski shalatnya adalah sah, tetapi ia dihukumi berdosa.

Bersin ketika shalat :

Jika seorang wanita bersin ketika shalat, boleh membaca hamdalah dengan suara rendah yang hanya terdengar oleh dirinya, dan ia tidak boleh mengeraskan suaranya dalam membacanya.

Memberi isyarat ketika shalat :

Sahalat tidak batal kerena memberi isyarat, misalnya : seseorang bertanya kepadamu, sementara kamu sedang menunaikan shalat dan kamu memberi isyarat dengan menganggukkan kepalamu yang menunjukkan persetujuan, maka hal itu tidaklah menjadi masalah, baik isyarat tersebut dilakukan dengan kepala atau tangan

Banyak bergerak ketika shalat :

Jika orang yang shalat menyakini bahwa dalam shalatnya ia banyak melakukan (gerakan) sia-sia dan dilakukan terus-menerus maka ia wajib mengulangi shalat jika shalat tersebut adalah shalat wajib dan wajib bertaubat dari perbuatan tersebut.

Adapun pendapat yang menerapkan batasan gerakan hanya tiga kali maka pendapat itu adalah lemah dan tidak memiliki dalil.

Bagaimana seorang wanita menunaikan shalat di depan cermin atau menghadap lukisan?

Seorang wanita wajib menjauhi hal-hal yang menyibukkan dirinya dari kekhusyu’an shalat dan hal-hal yang mengganggunya, sehingga tidak semestinya ia mengerjakan shalat di suatu tempat yang di dalamnya terdap gambar yang dipajang sebagai hiasan, berupa gambar pemandangan yang menarik yang mengganggu orang yang shalat.

Meletakkan kedua siku di atas tempat shalat saat sujud

Yang disunnahkan bagi seorang wanita yang sedang shalat hendaknya mengangkat kedua sikunya, baik saat shalat wajib atau shalat sunnah serta bertumpu kepada kedua telapak tangannya saat sujud.

Bagaimana jika darah keluar dari hidung wanita yang sedang menunaikan shalat ?

Jika darah itu sedikit, maka hal itu dapat ditolelir dan boleh menyekanya dengan sapu tangan (tissue) atau sejenisnya. Sedangkan jika darah itu banyak, maka ia harus membatalkan shalat dan membersihkan darah itu. Setelah itu, ia memulai shalat dari awal.

Jika bel pintu rumah berbunyi, sementara seorang wanita (penghuninya) sedang menunaikan shalat (apa yang dilakukannya ?)

Jika hal itu terjadi saat ia sedang menunaikan shalat sunnah maka terdapat beberapa pilihan, tidak dilarang baginya membatalkan shalatnya serta mencari tahu orang yang mengetuk pintu atau membunyikan bel.

Sedangkan jika hal itu terjadi saat ia sedang menunaikan shalat wajib, maka ia tidak boleh terburu-buru membatalkan shalat kecuali terdapat sesuatu yang penting yang khawatir terabaikan. Jika dimungkinkan baginya memberitahukan dengan dzikir atau tepuk tangan maka cukup baginya dengan melakukan hal tersebut.

Sumber :

Dinukil oleh Amar Abdullah bin Syakir dari “Aktsar Min Alf  Jawab Lil Mar’ah”, penyusun : Khalid al-Husainan, Edisi Indonesia : Fikih Wanita, Menjawab 1001 Problem Wanita, Penerbit : Darul Haq, Jakarta. Hal, 73-75

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: