Yakin Terhadap Allah dan RahmatNya

yakin-thd-Allah-1.jpg

Ada beberapa peristiwa yang sangat mulia pada para shahabiyat  di mana tampak sifat luhur yang agung padanya, yaitu, yakin kepada Allah, serta rahmatNya, keyakinan bahwasanya Allah tidak akan menelantarkan hambaNya (laki-laki ataupun perempuan) ketika kesusahan datang dan berbagai cobaan muncul bertubi-tubi.

Hal itu karena mereka selalu bermunajat kepada Allah, Rabb sekalian alam, Yang Maha Mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi dan yang tanpak, Maha Mengetahui apa saja yang ada di dalam hati orang-orang Mukmin, berupa cinta dan rasa mengagungkanNya, serta mengetahui apa saja yang ada dalam hati orang-orang kafir dan orang-orang munafik, serta segala sesuatu yang dirahasiakan mereka berupa iri, rasa dengki dan benci mereka.

Maka dari itu, para shahabiyat (demikian pula para sahabat) berada pada kedudukan yang tinggi dalam menyakini Allah –subhanahu wa ta’ala, serta meyakini bahwa bersama setiap kesusahan, pasti ada jalan keluarnya.

Sikap Aisyah

Sikap Aisyah –semoga Allah meridhainya-, sebagai contohnya, dalam peristiwa haditsatu al-Ifki (di mana beliau dituduh berzina) merupakan sikap yang mulia. Hal ini tampak sekali bagi kita.

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam kitab at-Tafsir, bahwa Aisyah –semoga Allah meridhainya- setelah mendengar dan tersebarnya tuduhan dusta ini di tengah masyarakat dia berkata, “Kemudian aku beranjak, lalu berbaring di atas tempat tidur “. Aisyah mengatakan, “pada saat itu aku yakin bahwa aku terbebas dari tuduhan ini, dan aku yakin bahwa Allah pasti akan menyatakan kebebasanku dari tuduhan ini. Akan tetapi, aku tidak menyangka sebelumnya kalau Allah akan menurunkan wahyu yang dibaca tentang permasalahanku ini. Sebab, menurutku, diriku ini terlalu hina untuk difirmankan Allah dalam sebuah wahyu yang dibaca. Pada saat itu, aku hanya berharap agar Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bermimpi dengan sebuah mimpi, yang dengan mimpi itu Allah menetapkan kebebasanku (dari tuduhan ini).

Ibnu Hajar –semoga Allah merahmatinya- dalam penjelasannya tentang keutamaan Aisyah dalam keyakinannya kepada Allah dan kepasrahannya dalam masalah tersebut berkata, “ Hadis tadi menjelaskan keutamaan orang yang menyerahkan segala urusannya kepada Rabbnya, dan bahwa siapa saja mampu melakukan hal seperti itu, niscaya kesedihan dan kegelisahannya akan menjadi ringan baginya (Fath al-Bari, 8/481)

Sikap Zinnirah

Sikap Zinnirah adalah contoh lainnya yang mencerminkan sebuah keyakinan kepada Allah dan rahmatNya yang menakjubkan. Perhatikanlah sikapnya berikut ini,

Di dalam al-Ishabah (4/311, 312) diriwayatkan bahwa Zinnirah adalah seorang shahabiyah yang sebelumnya adalah seorang budak yang disiksa oleh Abu Jahal, kemudian Abu Bakar membelinya dan menyelamatkannya dari siksaan. Budak muslimah ini dulunya beragama Romawi(Kristen) lantas masuk Islam, kemudian matanya buta. Oleh karenanya, orang-orang musyrik mengatakan,”Dia telah dibutakan oleh al-Lata dan al-Uzza. Beliau –semoga Allah meridhoinya- dengan ucapan yang penuh keyakinan kepada Allah berkata,”Aku kafir (tidak meyakini) al-Lata dan al-Uzzza”. Kemudian Allah menghilangkan penglihatannya.

Pembaca yang budiman,

Ini adalah benar-benar cerminan kekuatan akidah yang ada di dalam hati yang beriman kepada Allah ta’ala, yang yakin akan pertolongan-Nya. Hati semacam ini sama sekali tidak ragu akan rahmat Allah kepadanya dan juga tidak ragu akan kebersamaanNya dengannya.

Hati tersebut meresa tenang dan tentram walaupun segala permasalahan dunia menumpuk padanya, karena dia mengetahui bahwa semua permasalahan diatur oleh Allah ta’ala. Dialah yang mengaturnya dan bukan manusia, dan Dialah yang memuliakan orang-orang yang taat dan bermunajat kepadaNya dalam keadaan yang paling sempit dan susah. Hal ini hanya akan diketahui oleh orang-orang yang beriman dan yakin kepada Rabbnya semisal para shabiyat yang mulia ini, karena kitab suci Allah –subhanahu wa ta ‘ala– telah mantap terpatri dalam hati mereka, di mana Dia berfirman di dalamnya,

حَتَّى إِذَا اسْتَيْأَسَ الرُّسُلُ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ قَدْ كُذِبُوا جَاءَهُمْ نَصْرُنَا فَنُجِّيَ مَنْ نَشَاءُ وَلَا يُرَدُّ بَأْسُنَا عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِينَ [يوسف : 110]

“Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan mereka) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada para rasul itu pertolongan Kami, lalu diselamatkan orang-orang yang Kami kehendaki. Dan tidak dapat ditolak siksa Kami daripada orang-orang berdosa” (Qs. Yusuf : 110)

Menutup tulisan singkat ini, kita berdoa kepada Allah semoga Allah mengaruniakan kepada kita keyakinan yang benar lagi kokoh kepadaNya. Amin

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya.

Penulis : Amar Abdullah bin Syakir

Sumber : Disarikan dari “ Durusun Min Hayati ash-Shahabiyat”, Dr. Abdul Hamid as-Suhaibani, Pelajaran ke-5, dengan gubahan.

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: