ZINA (BAG 1)

stop-zina.jpg

Agama-agama samawi datang silih berganti, dibawa oleh para utusan ilahi dari kalangan manusia, dari Adam ‘Alaihissalaam dan ditutup oleh rahmat bagi sekalian alam, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,dan kesemua dari hamba-hamba Allah yang mulia itu datang membawa risalah yang satu, Mengesakan Allah Ta’ala dalam rububiyyah, uluhiyyan dan asma wa shifatnya.

Para rasul terkhusus Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pembawa risalah yang sempurna menyempurnakan, menyampaikan pesan ilahi, bahwa untuk mendapat hakekat keimanan itu dengan takwa, dan takwa secara sederhana yaitu melaksanakan seluruh perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, dan menjauhi segala larangan-Nya.

Para Ulama menyimpulkan dengan bahwa perintah-Nya yang paling utama adalah syahadat, dan larangan-Nya yang paling tegas adalah untuk menjauhi kesyirikan, dan dibawah masing-masing dari keduanya terdapat amalan-amalan dan pelanggaran-pelanggaran lainnya, yaitu seperti taubat sebagai perintah-Nya, dan ZINA sebagai larangan-Nya, bahkan zina dikategorikan didalam agama kita sebagai salah satu dosa besar yang paling besar.

Maka melalui tulisan ini, kita akan mengangkat tema ZINA, semoga menjadi sarana hidayah taubat bagi sesiapa saja dari kita yang pernah, hampir atau terlintas niat dikepalanya untuk mencobanya.

Pertama-tama kita ingin menyampaikan bahwa tidak ada satupun hal yang dihalalkan ataupun diharamkan didalam islam kecuali perkaranya kembali untuk kebaikan manusia sendiri, baik kebaikan itu tampak hingga dapat diketahui atau menjadi hikmah-Nya untuk kita taati, dan zina adalah salah satu dari sekian hal yang diharamkan karena kerusakan yang akan ditimbulkannya, bukan islam bermaksud untuk mengkebiri hak seseorang untuk mendapatkan kenikmatan yang ia inginkan, akan tetapi memberikan rambu yang jelas untuk itu, buktinya apa? Yaitu pernikahan, apa yang dicari dari zina itu hal yang sama dilakukan dalam pernikahan, akan tetapi pernikahan telah mendapatkan legalitasnya, sah dan halal karena telah mematuhi prosedur agama, bukan seperti zina yang melakukan tabiat hewani, melakukannya kapan ia mau dan dengan siapa ia mau tanpa ada aturannya. Bahkan bagi seorang lelaki yang sudah menikah jika ia merasa mampu dipersilahkan untuk berpoligami, sehingga kehormatannya terjaga dan keinginannya tetap terpenuhi, sedangkan zina, semua sepakat bahwa bagi pezina semakin ia sering melakukannya dengan banyak orang, semakin ia dekat dengan penyakit kelamin mematikan. Maka sekali lagi kita ulang, bahwa semuanya ini untuk kebaikan kita sendiri. Dan apa yang sudah kita bahas tentang maksud dari pengharaman dan penghalalan, tersurat didalam firman-Nya:

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ

“(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.” (QS Al A’raf 157)

Maka renungilah olehmu sebagai orang yang berpikir…

 

Bersambung…

Muhammad Hadhrami Achmadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: