Zina Mencabut Keimanan Seorang Hamba

Zina-Mencabut-Keimanan-Seorang-Hamba.jpg

Rasulullah ﷺ bersabda,

لاَ يَزْنِى الزَّانِى حِينَ يَزْنِى وَهُوَ مُؤْمِنٌ

Tidaklah berzina orang yang berzina ketika ia berzina sementara ia dalam keadaan beriman.  (HR. Abu Dawud, No. 4691, Ibnu Majah, No. 3936, dan at-Tirmidzi, 2625).

Dalam riwayat lain dengan redaksi,

لا يزني العبد حين يزني وهو مؤمن

Tidaklah seorang hamba berzina ketika ia berzina sementara dia dalam keadaan beriman (HR. An-Nasai, No. 4869)

Dalam riwayat lain dengan redaksi,

لا يزني الزاني وهو مؤمن

Tidaklah seorang pezina berzina sementara ia dalam keadaan sebagai seorang yang beriman (HR. Ibnu Hibban, No. 5172 )

Beliau-shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,

إِذَا زَنَى الرَّجُلُ خَرَجَ مِنْهُ الإِيمَانُ كَانَ عَلَيْهِ كَالظُّلَّةِ فَإِذَا انْقَطَعَ رَجَعَ إِلَيْهِ الإِيمَانُ

Jika seorang laki-laki berzina maka iman yang ada pada dirinya keluar darinya seperti bayangan, jika dia berhenti maka iman kembali kepadanya.  (HR. Abu Dawud, No. 4692)

Ath-Thabriy menyeluarkan riwayat dari Ibnu Abbas secara marfu’,

 من زنى نزع الله منه نور الإيمان من قلبه ، فإن شاء أن يرد إليه رده

Barang siapa berzina niscaya Allah mencabut cahaya keimanan dari hati pelakunya. Maka, bila Dia menghendaki untuk mengembalikan (keimanan) tersebut niscaya Dia mengembalikannya.

Faedah :

Zhahir hadis ini merupakan dalil yang menunjukkan bahwa pelaku dosa besar bukanlah termasuk orang yang beriman. Dan para sahabat kami mentakwilnya dengan mengatakan bahwa yang dimaksud adalah “seorang mukmin yang sempurna keimanannya” atau orang yang akan aman dari siksa Allah ta’ala. Atau, yang dimaksud adalah seorang mukmin yang taat kepada Allah Allah di mana Allah akan memberikan keamanan kepadanya bila ia patuh dan taat (kepadaNya).

Atau, maknanya adalah ancaman atau peringatan atas pelaku dosa besar ini bahwa ia akan mendapatkan akibat buruk di mana pelakunya tidak mendapatkan keamanan dari terjatuh ke dalam kekufuran yang mana kekufuran merupakan lawan dari iman. Atau, bahwa iman itu akan keluar jika seseorang berzina di mana di atas kepalanya ada seperti bayangan. Kemudian, bila ia berhenti dari melakukan perbuatan tersebut maka iman itu akan kembali kepadanya.

Dan ada yang berpendapat, makna “Mukmin” adalah  yang merasa malu kepada Allah ta’ala, karena rasa malu itu cabang dari iman, kalaulah ia merasa malu kepada Allah dan yakin bahwa Allah melihat apa yang dilakukannya niscaya ia tak akan melakukan perbutan keji tersebut. (Mirqaat al-Mafaa-tiih Syarh Misykaatu al-Mashaabiih, 1/294).

Semoga Allah memberikan keimanan yang kokoh kepada kita, menghiasi hati kita dengannya, tidak mencabutnya darinya, dan semoga pula Allah memalingkan kita dari segala bentuk keburukan dan penyimpangan. Amiin

Penulis : Amar Abdullah

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: