Keutamaan Menghafal Al-Qur’an

Al-quran.jpg

Al-Qur’an selain dibaca dan direnungkan juga perlu untuk dihafal. Dipindahkan dari tulisan ke dalam dada, karena hal ini merupakan ciri khas orang-orang yg diberi ilmu, juga sebagai tolak ukur keimanan dalam hati seseorang. Allah azza wa jalla berfirman:

بَلْ هُوَ ءَايَتٌ بَيِّنَتٌ فِي صُدُورِ الذِّيْنَ أُوتُوا الْعِلْمَ، وَمَا يَجْحَدُ بِئَايَاتِنَا إِلَّا الظَالِمُوْنَ

“Sebenarnya Al-Qur’an itu adalah ayat-ayat yang jelas di dalam dada-dada orang yang diberi ilmu, dan tidaklah mengingkari ayat-ayat kami kecuali orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Ankabut [29]: 49)

 

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 إِنَّ الذِّي لَيْسَ فِي جَوْفِهِ شَيْئٌ مِنَ القُرْآنِ كَالبَيْتِ الخَرِبِ

“Sesungguhnya orang yang di dalam dadanya tidak terdapat sebagian ayat daripada Al-Qur’an maka rumah yang tidak berpenghuni” (HR. Tirmidzi)

Pada hakikatnya tilawah bukanlah hal yang sederhana, namun dalambertilawah seorang pembaca dituntut untuk menjaga keaslian bacaan Al-Qur’an seperti yang diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui jibril. Allah azza wa jalla berfirman:

فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْءَانَهُ

Apabila kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaan itu. (QS. Al-Qiyamah [75]:18)

Karena itu Rasulpun menunjuk dan memberi kepercayaan kepada beberapa orang sahabat untuk mengajarkannya, di antara mereka adalah Muadz bin Jabal, Ubay bin Ka’ab, dan Salim Maula Abi Hudzaifah.

Para sahabat kemudian mengajarkannya kepada para tabi’in, dan demikian seterusnya Al-Qur’an diajarkan secara turun temurun dalam keadaan asli tanpa terkurangi huruf-hurufnya, kalimat-kalimatnya, bahkan sampai teknis membacanya. Untuk menjaga keaslian Al-Qur’an, ulama menjaga sanad Al-Qu’an (runtunan para pengajar Al-Qur’an sejak zaman Rasul hingga sekarng). Maka tidak heran kalau Imam Al-Jazari mewajibkan kepada setiap muslim untuk membaca dengan tajwid, karena hal ini merupakan penjaga terhadap keaslian Al-Qur’an. Beliau mengatakan dalam Mandzumah Al-Jazariyah,

وَ الْأَخْذُ بِاتَجْوِيْدِ حَتْمٌ لَازِمٌ  *    مَنْ لَمْ يُجَوِّدِ الْقُرْآنَ آثِمٌ

لِأَنَهُ بِهِ الإِلَاهُ أَنْزَلَا        *    وَ هَكَذَا مِنْهُ إِلَيْنَا وَصَلَا

Membaca Al-Qur’an dengan tajwid hukumnya wajib. Siapa yang tidak membacanya dengan tajwid, maka ia berdosa, karena dengan tajwidlah Allah menurunkan Al-Qur’an,dan dengan demikian pula ia sampai kepada kita dari-Nya.

Karena itulah, metode yang asasi dan asli dalam mempelajari Al-Qur’an adalah metode Talaqqi yaitu mempelajari Al-Qur’an melalui seorang guru secara langsung atau berhadap-hadapan, dimulai dari surat Al-Fatihah sampai An-Naas.

Mengingat terbatasnya jumlah orang-orang yang menguasai  Al-Qur’an terutama dalam hal tilawah, maka ulama ahli qira’at meletakkan kaidah-kaidah cara membaca yang baik dan benar yang disebut dengan tajwid.

Dikutip dari: Pedoman Dauroh Al-Qur’an: 9-10   


Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel Hisbah di Fans Page Hisbah
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

743 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: