3 Sikap Yang Mesti Dihindari Suami Istri

3-Sikap-Yang-Mesti-Dihindari-Suami-Istri.jpg

Pembahasan bagaimana seorang suami mempergauli istri dengan baik dan sebaliknya, merupakan satu perkara penting yang sangat pantas mendapatkan perhatian besar. Sebab, penerapan hal itu di dalam pergaulan mereka sehari-hati termasuk bagian dari akhlak Islam, menguatkan kecintaan antara mereka berdua yang pada gilirannya mendatangkan kehiduapn yang bahagia bagi mereka.

Saat seorang lelaki bermuamalah dengan istrinya, hendaknya ia membayangkan seorang lelaki yang menikahi putrinya. Apakah ia akan ridha bila suami putranya itu memperlakukan putrinya dengan kasar dan keras ?. Jawabannya, tentu ia tidak akan ridha bila putrinya diperlakukan demikian. Maka, begitu pula, anak perempuan orang lain tidak akan mau diperlakukan dengan perlakuan yang anak perempuan kita pun tidak mau diperlakukan dengannya. Ini sebuah kaedah yang sepatutnya diketahui dan dimengerti oleh setiap orang.

Itu sebuah parameter logis yang sangat jelas. Orang pasti tidak ridha bila putrinya berada dalam perlakuan seorang lelaki yang kurang memperhatikan haknya, menghinanya, atau memperlakukannya layaknya budak perempuan dengan dipukuli dan dianiaya. Demikian pula, istrinya pun tidak sudi mengalami hal-hal seperti itu ketika mengarungi bahtera rumah tangga bersamanya.

Tentang kewajiban memperlakukan istri dengan baik, Allah berfirman,

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

Dan bergaullah dengan mereka secara patut (Qs. An-Nisa : 19)

Kewajiban berlaku yang baik-baik juga mengikat seorang istri, sehingga ia mesti mempergauli suaminya dengan cara-cara yang baik, bahkan cara-cara yang lebih baik daripada yang dilakukan suami kepadanya. Sebab, Allah berfirman,

وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِى ذٰلِكَ إِنْ أَرَادُوٓا۟ إِصْلٰحًا ۚ وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِى عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ

Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki ishlah. Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya (Qs. Al-BAqarah : 228)

Maka, sudah menjadi kewajiban seseorang bila menginginkan hidup tanang dan tentram, untuk mempergauli istrinya dengan cara-cara yang baik. Begitu pula sebaliknya, istri bermuamalah dengan suaminya dengan cara-cara yang patut. Jika tdak maka urusan-urusan akan mengalami kekacauan dan kehidupan rumah tangga menuju ke keadaan yang celaka.

Selanjutnya, situasi tersebut akan berdampak pada anak-anak. Bila menyaksikan masalah terjadi antara ayah dan ibu mereka, akan merasa sedih dan goncang. Namun sebaliknya, jika mereka menyaksikan keakraban antara kedua orang tua mereka, mereka akan ceria.

Karena itu, tidak sepantasnya suami-istri menunda-nunda untuk melakukan hal-hal yang menjadi kewajibannya terhadap pasangan. Misalnya, istri membutuhkan pakaian, lalu sang suami menjanjikannya dengan berkata, in sya Allah. Akan tetapi hari demi hari telah beralu, suami tidak membawakan apa yang dibutuhkan istrinya. Sementara istrinya sangat membutuhkannya. Sikap ini haram dilakukan, sebab suami wjib memenuhi kebutuhan istrinya. Sesuatu yang benar-benar diperlukan, suami mesti bersegera memenuhinya, tidak menunda-nundanya.

Jika suami ternyata benar-benar tidak memberi apa yang dibutuhkan istri sama sekali, maka lebih dilarang dalam kacamata syariat. Sebab, bila menundanya saja haram, apalagi tidak memberinya sama sekali.

Istri pun tidak boleh menunda-nunda untuk memenuhi hak suaminya. Jika suaminya memerintahkan suatu perkara yang wajib maka istri tidak boleh lambat untuk memenuhinya. Oleh sebab itu disebutkan dalam hadis :

إِذَا دَعَا الرَّجُلُ زَوْجَتَهُ فَأَبَتْ لَعَنَتْهَا الْمَلَائِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ

Jika seorang lelaki meminta istri (untuk berhubungan badan), lalu ia menolak , maka malaikat akan melaknatnya hingga pagi hari  (HR. al-Bukhari, no. 3237 dan Muslim, no. 1436)

Semoga Allah melindungi kita dari hal tersebut. Masalah di atas bukanlah masalah yang sederhana.

Demikian pula, tidak boleh memberikan hak pasangan hidup dengan terpaksa, muka masam, wajah yang tidak ceria. Jadi, tiga hal yang mesti dihindari suami dan istri dalam mengarungi kehidupan rumah tangga mereka adalah ;

  1. Menahan sesuatu yang wajib diberikan
  2. Menunda-nunda memenuhi kewajiban
  3. Merasa terpaksa untuk berbuat baik

Sebab, hak-hak itu mesti ditunaikan kepada pemiliknya tanpa ditunda-tunda.

Semoga Allah memberikan taufik kepada keluarga muslim untuk mewujudkan hal-hal yang mendatangkan kebaikan bagi mereka di tengah keluarga. Amin

Diringkas dari Asy-Syarhul Mumti’ ‘ala Zadil Mustaqni’ Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin, Dar Ibnul Jauzi, cet.1, Thn 1427m 12/381-387

Sumber :

Dinukil dari Majallah as-Sunnah, Baituna 03/XXII, Dzul Qa’dah 1439-Juli 2018, hal. 10-11

Amar Abdullah bin Syakir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: