Abu Tholib Wafat Pada Pertengahan Bulan Syawwal

perahu-kuning.jpg

Abu Tholib, Paman Nabi Shallallohu ‘alaihi wasallam Wafat pada Pertengahan bulan Syawwal?

Ya, ada pendapat yang mengatakan bahwa paman beliau tersebut wafat pada pertengahan bulan syawwal. Demikian seperti yang disebutkan oleh pengarang kitab “Usudul Ghobah“. Sang pengarang mengatakan, “ pada tahun ke-10 awal bulan Dzulqo’dah dan ada yang mengatakan, pertengahan dari bulan Syawwal, Abu Tholib meninggal dunia. Saat itu beliau berumur 83 tahunan… Wallohu a’lam bishowab

Pembaca yang budiman…

Yang menjadi perhatian kita dalam kasus wafatnya paman beliau ini bukanlah masalah kapan beliau wafat? dan dalam usia berapa beliau wafat? tapi, bagaimana beliau wafat? dan pelajaran apa yang dapat kita ambil dari peristiwa wafatnya?

Pembaca yang budiman…

Sa’id bin Al-Musayyab dari bapaknya,mengatakan, “Pada saat ajal Abu Thalib telah tiba maka Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam mendatanginya, beliau mendapatkannya bersama Abu Jahl dan Abdullah bin Abi Umayyah bin Al-Mughiroh. Maka Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya : Wahai pamanku katakan:

لا إله إلا الله

suatu kalimat yang bisa aku saksikan pada hari kiamat. Maka Abu Jahl dan Abdullah bin Abi Umayyah berkata: “Wahai Abu Thalib, apakah engkau benci terhadap agama Abdul Muththalib?. Maka Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam senantiasa mendakwahinya dan mengulangi permintaannya, sehingga Abu Thalib berkata di akhir ucapannya: Dia masih tetap berada pada millah (agama) Abdul Muththalib dan enggan mengucapkan: لا إله إلا الله, maka Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Demi Allah aku pasti akan memintakan ampun baginya selama aku tidak dilarang mengerjakannya”. Lalu Allah menurunkan firmanNya:

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabatnya, sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahanam”. (QS. Al-Taubah: 113)

Maka Allah ta’ala menurunkan sebuah firman-Nya tentang Abu Thalib di mana Dia berfirman kepada Nabi-Nya:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (Qs. Al-Qoshshos: 56)

Ikhwatal iman, saudaraku seiman

Itulah sekilas kisah bagaimana Abu Tholib paman Nabi Muhammad shallallohu ‘alaihi wasallam mengakhiri hidupnya di dunia.

Lalu, pelajaran apa yang bisa kita ambil dari peristiwa tersebut?

Maka berikut inilah di antaranya:

1.       Tidak boleh memintakan ampun bagi orang-orang yang musyrik, dan tidak boleh mendo’akannya agar mereka mendapat ampunan, rahmat, masuk surga dan selamat dari neraka. Sebagaimana ditunjukkan dalam ayat 113 surat at Taubah di atas.

               Dari Abi Hurairah –semoga Alloh meridhoinya-, ia berkata, “Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam mengunjungi kubur ibunya lalu beliau menangis dan membuat para shahabat yang lainpun menjadi menangis, dan beliau bersabda, “Aku meminta izin kepada Robb-ku agar aku memintakan ampun bagi ibuku namun Dia tidak mengizinkan aku, dan aku meminta izin untuk berziarah ke kuburnya maka Dia mengizinkan aku, bezairahlah ke kubur sebab dia mengingatkan kalian kepada akhirat”. (HR. Muslim, 976)

2.       Kesyirikan tidak memberikan manfaat apapun bersama ketaatan, Allah tidak akan menerima dari orang yang musyrik perbuatan ketaatan apapun baik yang wajib atau yang sunnah, bahkan kesyirikan tersebut menghapuskan seluruh amal kebaikan baik yang kecil atau yang besar, inilah hukum Allah yang diturunkan oleh Allah di dalam kitabNya dan pada lisan Rasul-Nya shalallohu ‘alaihi wasallam. Allah ta’ala berfirman:

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan”. (QS. Al-Furqon: 23)

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

 “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”. (QS. Al-Zumar: 65)

Dia berfirman tentang para Nabi-Nya:

وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.”(QS. Al-An’am: 88)

Dari Abi Hurairah  -semoga Alloh meridhoinya- bahwa Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah Yang Maha Tinggi Berfirman: Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu,  maka barangsiapa yang mempersekutukan aku dengan sesuatu yang lain maka Aku meninggalkannya dan sekutunya” (HR. Muslim, no. 2985)

3.       Syafa’at orang yang memberi syafa’at tidak akan bermanfaat bagi orang yang mempersekutukan Allah, sekalipun orang yang memberikan syafa’at ini seorang nabi, orang mulia, wali dan orang yang shaleh.

Dari Abu Hurairah –semoga Alloh meridhoinya- bahwa Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ibrahim bertemu dengan bapaknya, Azar pada hari kiamat dan pada wajah Azar dipenuhi kotoran dan debu, maka Ibrahim berkata kepadanya: Bukankah aku telah berkata kepadamu agar engkau tidak menolak ajakanku?. Bapaknya berkata: Pada hari ini aku tidak menolak ajakanmu. Ibrahim berkata: Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah menjanjikan kepadaku bahwa Engkau tidak menghinakanku pada hari mereka dibangkitkan, dan adakah kehinaan yang lebih hina dari kehinaan yang menimpa ayahku yang celaka?, maka Allah berfirman: Aku telah mengharamkan surga atas orang-orang kafir, lalu dikatakan: Wahai Ibrahim lihatlah apa yang ada di bawah kedua kakimu?, lalu Ibrahim menoleh ternyata seekor anjing hutan yang menjijikkan lalu diambillah kedua kaki tangannya lalu dicampakkan ke dalam api neraka”. (HR. al Bukhori, no. 3350)

4.       Mewaspadai bergaul dengan teman yang buruk, di dalam hadits ini  Abu Jahl, Abdullah bin Abi Umayyah tetap membujuk Abu Thalib agar dia tetap ada pada millah sehingga dia meninggal dalam kafir dan hayatnya berakhir dengan keburukan. Wallohu a’lam.

Semoga sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabat beliau.

(Abu Umair)

902 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: