Adil Pada Saat Ridha dan Marah

Adil.jpg

Saudariku Muslimah

Kata  adil termasuk kata yang dicintai oleh semua manusia, baik laki-laki maupun wanita, orang tua maupun pemuda.

Saudariku Muslimah

Adil pada saat ridha dan marah, yakni, keridhaanmu terhadap ini atau itu jangan sampai mendorongmu untuk bersikap cari muka atau memuji dengan pujian yang bohong atau menyerahkan hak kepada yang tidak berhak.

Begitu pula, berhati-hatilah pada saat marah, sebab ia bisa menyeretmu kepada kezhaliman, sedangkan kezaliman merupakan kegelapan pada hari Kiamat.

Dari sinilah mestinya seorang muslimah menjaga perintah Allah –subhanahu wa ta’ala– dalam dua kondisi secara berimbang, ridhanya jangan sampai mengajaknya kepada kezhaliman begitu juga kemarahannya.

Oleh sebab itu, engkau memerlukan sikap adil kepada dirimu, adil kepada keluargamu dan adil kepada tetangga-tetanggamu.

Adil terhadap diri dengan memberikan hak diri sendiri berupa dzikir kepada Allah, membaca al-Qur’an dan merenungkan keagungan dan kekuasaan Allah.

Berapa banyak engkau membebani otakmu dengan membaca hal-hal yang tidak mendatangkan manfaat kepadamu di dunia maupun di akhirat, ini termasuk sikap menzhalimi diri sendiri.

Engkau membutuhkan sikap adil terhadap diri sendiri dalam berlomba-lomba kepada kebaikan sebagaimana dulu pernah terjadi padamu, engkau berlomba-lomba dalam kejelekan.

Engkau membutuhkan sikap adil terhadap dirimu dalam berhubungan dengan suami-jika engkau bersuami- apakah dia mendapatkan hak-haknya darimu sama seperti engkau mendapatkan hak-hakmu darinya?

Engkau membutuhkan sikap adil terhadap dirimu, apakah engkau jujur dalam pembicaraanmu hari ini untuk menghapus kebohonganmu yang kemarin?

Engkau membutuhkan sikap adil terhadap dirimu, sudahkah engkau mengerjakan amal-amal shaleh yang telah engkau lalaikan dahulu atau belum?

Termasuk bersikap adil terhadap dirimu adalah hendaknya engkau memikirkan perkara-perkara akhirat sebagaimana engkau memikirkan perkara-perkara dunia dan jika tidak, maka engkau adalah orang yang zhalim terhadap diri sendiri.

Adapun bersikap adil terhadap kerabatmu maka hal itu dengan silaturrahim, berbuat baik kepada mereka, baik dengan materi, tenaga, ziarah (kunjungan), nasehat dan turut serta dalam suka dan duka.

Termasuk bersikap adil terhadap kerabatmu adalah hendaknya engkau mengunjungi kerabat yang memutuskanmu dan memberi kerabat yang tidak ingin memberimu.

Dan termasuk bersikap adil terhadap kerabatmu adalah memberikan kebahagiaan ke dalam hati orang-orang yang pernah engkau buat sedih sebelumnya.

Adapun berbuat adil kepada tetangga, hendaknya engkau memberikan pinjaman kepada yang membutuhkan sebab suatu saat nanti engkau pun akan membutuhkannya.

Termasuk berbuat adil kepada tetangga adalah apabila salah seorang di antara mereka mendapatkan kebaikan, hendaknya engkau memberinya ucapan selamat sebagaimana hal itu mereka lakukan kepadamu apabila engkau mendapatkan kebaikan.

Buah-buah Keadilan

Apabila engkau berlaku adil pada saat ridha dan marah, maka engkau akan beruntung memetik buah-buah keadilan, di antaranya :

Engkau tidak akan bersedih selamanya akibat ucapan yang engkau ucapkan sebab engkau bersikap adil pada saat mengucapkannya, dan engkau juga tidak akan menyesal terhadap keputusan yang telah engkau ambil karena engkau bersikap adil pada saat memutuskannya.

Termasuk buah manisnya bersikap adil pada saat ridha dan marah adalah bahwa ia menjadikanmu aman dalam hidupmu dan tenang dalam segala keadaanmu.

Adil Tidaklah Mudah

Saudariku…

Sesungguhnya mewujudkan sikap adil dalam hidupmu bukanlah perkara mudah seperti yang engkau bayangkan, tidak gampang sebagaimana yang engkau khayalkan, akan tetapi barangsiapa memohon pertolongan kepada Allah, niscaya ia akan mendapatkannya dan barangsiapa meminta kepadaNya taufik niscaya dia akan melihatnya.

اَلعَدْلُ

nama dari nama-nama Allah-subhanahu wa ta’ala-, Dia yang Maha suci tidak pernah menzhalimi para hamba.

Maka marilah jadikan sikap adil pada saat ridha dan marah sebagai cara bergaul dan metode hidupmu, sebab ia adalah salah satu sebab keselamatan pada hari di mana harta dan keturunan tidak berguna kecuali barang siapa yang membawa hati yang salim dan hati yang salim adalah hati yang adil.

Wallahu a’lam

Sumber :

Tuhfatu an-Nisa, Abu Maryam Majdi Fathi As-Sayyid (e.id, hal. 112-117) dengan ringkasan

Penulis : Amar Abdullah bin Syakir

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Instagram @hisbahnet,
Chanel Youtube Hisbah Tv

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: