Connect with us

baru

Agenda Kegiatan Bersama Keluaga di Bulan Mulia

Published

on

Soal :

Pertama-tama saya mengucapkan selamat kepada Anda dengan masuknya bulan Ramadhan yang mulia, dan saya berharap agar Allah menerima dari kami dan dari Anda amalan puasa dan shalat malam kita. Saya juga berharap dapat menyibukkan kesempatan ini untuk beribadah dan memperoleh pahala sedapat mungkin, sesuai dengan kesanggupanku.

Maka dari itu, saya berharap dari Anda agar berkenan memberikan kepadaku semacam agenda kegiatan yang cocok untukku dan untuk keluargaku sehingga kita dapat memanfaatkan secara optimal bulan kebaikan dan ketaatan ini.

Jawab :

Alhmadulillah, segala puji bagi Allah.

Semoga Allah menerima dari kita semuanya berupa perkataan dan perbuatan yang baik, dan semoga pula Allah mengaruniakan kepada kita keikhlasan saat berkesendirian dan saat bersama dengan orang lain.

Berikut ini adalah jadwal agenda kegiatan yang diusulkan bagi seorang muslim untuk dilakukan di bulan yang penuh berkah ini.

Harian seorang muslim di bulan Ramadhan :

Seorang muslim memulai harinya dengan sahur sebelum shalat Subuh. Dan, yang utama adalah ia mengakhirkan sahur sampai akhir waktu dari malam yang masih memungkinkan untuk sahur.



Kemudian, setelah itu, seorang muslim bersiap sebelum adzan untuk menunaikan shalat Subuh. Ia berwudhu di rumahnya, dan keluar ke masjid sebelum adzan. Lalu, ketika ia telah masuk masjid, segera mengerjakan shalat dua rakaat (tahiyyatul masjid), kemudian duduk dan menyibukkan diri dengan berdo’a, atau membaca al-Qur’an, atau berdzikir,  hingga sang muadzin mengumandangkan adzan, ia mengucapkan seperti yang diucapkan oleh sang muadzin dan mengucapkan apa yang datang dari Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-setelah selesai dikumandangkan adzan. Kemudian, setelah itu mengerjakan shalat dua rakaat (sebagai shalat sunnah rawatib sebelum shalat Subuh), kemudian menyibukan diri dengan dzikir, doa dan membaca al-Qur’an sampai dikumandangkan iqomah untuk shalat. Kala itu ia berada dalam shalat selagi ia menunggu untuk mengerjakan shalat berikutnya.

Setelah ia mengerjakan shalat (Subuh) berjama’ah, ia membaca dzikir-dzikir yang disyariatkan untuk dibaca selesai shalat. Kemudian setelah itu, jika ia suka untuk tetap duduk di masjid sampai matahari terbit menyibukan diri dengan dzikir dan membaca al-Qur’an, maka yang demikian itu adalah yang lebih utama, di mana hal itu yang biasa dilakukan Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-setelah shalat Subuh.



Kemudian, apabila matahari telah terbit dan telah meninggi dan telah lewat dari terbitnya sekitar ¼ jam, maka jika ia suka untuk mengerjakan shalat Dhuha (minimal dua rakaat), maka yang demikian itu baik. Dan jika ia suka untuk mengakhirkannya sampai akhir waktunya yang utama, yaitu, ketika tarmudhu al-fishal, yakni, ketika panas menyengat dan matahari meninggi, maka hal itu yang lebih utama.

Kemudian, jika ia suka untuk tidur (sebentar) agar siap untuk pergi ke tempat pekerjaannya, maka hendaknya ia meniatkan tidurnya tersebut agar kuat beribadah dan mengais rizki, hal tersebut agar dirinya diberikan pahala, insya Allah. Dan, hendaknya ia bersemangat untuk mempraktekan adab tidur secara syar’i berupa tindakan dan ucapan.

Kemudian, pergi bekerja. Bila waktu shalat Zhuhur telah tiba, segera pergi ke masjid, sebelum adzan atau langsung setelahnya, dan hendaknya sebelumnya ia telah bersiap diri untuk mengerjakan shalat. Lalu, ia shalat sebanyak empat rakaat dengan dua kali salam (sebagai shalat sunnah rawatib sebelum Zhuhur), kemudian menyibukkan diri dengan membaca al-Qur’an sampai iqomah untuk shalat dikumandangkan. Lalu, ia shalat bersama jama’ah, kemudian shalat dua rakaat (sebagai shalat sunnah rwatib setelah Zhuhur).

Kemudian, setelah shalat kembali untuk melanjutkan atau menyelesaikan pekerjaannya, sampai waktu pulang kerja. Lalu, bila telah selesai bekerja ternyata tersisa waktu yang cukup lama sampai datang waktu shalat Asar dan memungkin dirinya untuk beristirahat, maka hendaknya beristirahat sejenak. Dan jika waktu tidak mencukupi dan khawatir apabila tidur akan ketinggalan mengerjakan shalat Ashar, maka hendaknya ia menyibukan dirinya dengan sesuatu yang pas dengan keadaan dirinya sampai datang waktu shalat, seperti pergi ke pasar untuk membeli sesuatu yang dibutuhkan oleh keluarganya dan lain sebagainya. Atau, langsung pergi ke masjid begitu selesai dari kerjanya, dan tetap berada di masjid sampai mengerjakan shalat Ashar.



Kemudian, setelah Ashar hendaknya seseorang melihat kepada keadaannya. Lalu, jika memungkinkannya untuk tetap duduk di masjid dan menyibukkan diri dengan membaca al-Qur’an maka ini merupakan keuntungan yang besar. Dan jika seseorang merasa kelelahan, maka hendaknya ia beristirahat di waktu tersebut, agar siap nantinya untuk mengerjakan shalat tarawih di malam harinya.

Dan, sebelum adzan Maghrib hendaknya bersiap diri untuk berbuka. Hendaknya ia menyibukkan diri pada waktu-waktu ini dengan sesuatu yang bermanfaat baginya. Bisa dengan membaca al-Qur’an, atau doa, atau bercakap-cakap dengan sesuatu yang bermanfaat  bersama keluarga dan anak-anaknya.

Dan termasuk hal yang paling baik dalam mengisi waktu ini adalah ikut andil dalam memberikan hidangan buka puasa bagi orang-orang yang berpuasa. Baik dengan cara menghadirkan makanan untuk mereka, atau ikut serta membagi-bagikannya kepada mereka dan mengatur hal tersebut, oleh karena hal itu merupakan kelezatan yang besar yang tidak akan merasakannya kecuali orang yang telah mencobanya.

Kemudian, setelah berbuka, pergi untuk menunaikan shalat berjama’ah di masjid, dan setelah shalat (Maghrib) mengerjakan shalat dua rakaat (sebagai shalat sunnah rawatib setelah Maghrib), kemudian kembali ke rumah dan makan apa yang mudah didapatkan –dengan kadar tidak terlalu banyak-, kemudian bersemangat untuk mencari metode dan hal-hal yang bermanfaat yang akan dapat memenuhi waktu ini untuk dirinya dan keluarganya, seperti membaca buku cerita, atau buku tentang hukum-hukum yang bersifat praktis, atau melakukan perlombaan, atau memperbincangkan hal-hal yang mubah, atau ide dan gagasan-gagasan lainnya yang bermanfaat yang dapat mendorong jiwa untuk merindukannya dan akan dapat pula memalingkannya dari hal-hal yang diharamkan yang ditebarkan di media-media informasi , karena waktu ini tergolong waktu-waktu puncak bagi jiwa, Anda dapatkan pada waktu-waktu ini ditebarkan lebih banyak program acara yang memikat dan menimbulkan kerinduan dalam jiwa, meski pun tidak jarang di dalamnya berisikan kemungkaran yang besifat keyakinan dan akhlak dan perilaku. Maka, bersungguh-sungguhlah Anda wahai saudaraku dalam upaya memalingkan diri Anda dari hal-hal tersebut, dan bertakwalah kepada Allah terkait orang-orang yang berada di bawah kekuasaan Anda dimana Anda bakal ditanya tentangnya pada hari Kiamat. Maka, persiapkanlah jawaban untuk pertanyaan ini.

Kemudian, bersiaplah untuk mengerjakan shalat Isya, dan segeralah menuju ke masjid. Lalu, sibukkan diri Anda dengan membaca al-Qur’an, atau mendengarkan pelajaran yang ada di masjid. Kemudian setelah itu, tunaikan shalat Isya, kemudian shalatlah dua rakaat (sebagai shalat sunnah rawatib Isya) kemudian lakukan shalat tarawih di belakang imam dengan penuh kekhusyu’an, perenungan, dan janganlah Anda menyudahinya sebelum sang imam menyudahinya. Sesungguhnya Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-pernah bersabda,

” إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ ” .

Sesungguhnya barang siapa shalat (tarawih) bersama imam sampai selesai, niscaya dituliskan baginya (pahala) shalat semalam suntuk. (HR. Abu Dawud 1370 dan yang lainnya, dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam ‘shalat at-Tarawih’, hal. 15)

Kemudian buatlah acara setelah shalat tarawih yang cocok dengan keadaanmu dan berhubungan dengan pribadimu. Dan, hendaknya Anda memperhatikan beberapa hal berikut :

Jauh dari semua bentuk perkara yang diharamkan dan hal-hal yang akan mengantarakan kepadanya.

Perhatian terhadap menjauhkan anggota keluarga Anda dari terjatuh ke dalam sesuatu hal yang diharamkan atau sebab-sebabnya dengan cara yang bijak, seperti mempersiapkan acara kegiatan yang bersifat khusus untuk mereka, atau keluar untuk berdarmawisata di tempat-tempat yang mubah, atau menjauhkan mereka dari teman yang buruk dan mencarikan teman yang baik untuk mereka.

Hendaknya Anda menyibukan diri dengan hal-hal yang utama dari yang tidak utama.

Kemudian, berusahalah untuk dapat tidur dengan melakukan adab-adab tidur yang syar’i, yang bersifat tindakan dan yang berupa ucapan. Dan, bila sebelum tidur, Anda membaca beberapa ayat dari al-Qur’an atau beberapa lembar dari buku-buku yang bermanfaat, maka ini merupakan perkara yang baik, terlebih bila mana Anda belum menyelesaikan bacaan harian dari al-Qur’an. Maka, janganlah Anda tidur sampai Anda menyelesaikannya.

Kemudian, bangunlah Anda sebelum sahur sekadar waktu yang mencukupi untuk menyibukan diri dengan doa, karena waktu ini –sepertiga malam terakhir-merupakan waktu turunnya ilahi dan Allah telah memberikan sanjungan terhadap orang-orang yang beristighfar mememohon ampunan kepada-Nya pada waktu itu. Sebagaimana Dia telah menjanjikan adanya ijabah atas doa yang dipanjatkan oleh orang-orang yang berdoa pada waktu tersebut, dan adanya penerimaan taubat orang-orang yang bertaubat. Maka, janganlah Anda lewatkan begitu saja kesempatan nan agung ini.

Hari Jum’at :

Hari Jum’at adalah hari yang paling utama dalam seminggu, maka hendaknya untuk hari ini Anda memiliki agenda kegiatan khusus dalam hal ibadah dan ketaatan, dengan memperhatikan beberapa hal berikut ini :

Datang lebih awal ke shalat Jum’at

Tetap berada di masjid setelah shalat Asar dan menyibukkan diri dengan membaca al-Qur’an dan berdoa sampai waktu terakhir dari hari ini, karena sesungguhnya saat itu merupakan waktu yang sangat diharapkan akan diijabahinya doa.

Jadikan hari ini sebagai kesempatan untuk menyempurnakan sebagian pekerjaanmu yang belum Anda sempurnakan dalam rentang waktu seminggu, seperti menyempurnakan bacaan rutin mingguan dari al-Qur’an, atau menyempurnakan bacaan sebuah kitab, atau mendengarkan kajian, dan amal shaleh yang lainnya.

Sepuluh Terakhir :

Pada sepuluh malam terakhir ada lailatul qadar yang merupakan malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Karena itu, disyariatkan bagi seseorang untuk beri’tikaf pada sepuluh terakhir ini di masjid, seperti yang biasa dilakukan oleh Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- untuk mencari lailatul qadar. Maka, barang siapa yang dimudahkan untuk beri’tikaf pada sepuluh terakhir ini, maka hal itu merupakan karunia yang besar dari Allah.

Dan barang siapa yang tidak memiliki kemudahan untuk beri’tikaf pada sepuluh terakhir seluruhnya, maka hendaknya ia berusaha beri’tikaf pada sebagian dari sepuluh hari terakhir tersebut.

Dan jika tidak memiliki kemudahan  untuk beri’tikaf sama sekali, maka hendaknya ia bersungguh-sungguh untuk menghidupkan malamnya dengan beribadah dan amal ketaatan, berupa shalat, membaca al-Qur’an, dzikir, dan doa. Hendaknya ia mempersiapkan diri untuk melakukan hal-hal tersebut sejak siang harinya dengan mengistirahatkan fisiknya agar memungkinkannya untuk bergadang di malam harinya.

Perhatian :

Agenda kegiatan ini merupakan usulan. Masing-masing individu dapat menyesuikan dengan keadaan pribadinya.

**

Seorang muslim hendaknya bersungguh-sungguh dan bersemangat untuk menata waktunya di bulan yang penuh berkah ini, sehingga ia tidak kehilangan kesempatan dan peluang besar untuk menambah kebaikan dan amal shaleh. Misalkan, seseorang membeli kebutuhan keluarganya sebelum awal bulan. Begitu pula kebutuhan harian, diusahakan untuk dibeli pada waktu-waktu yang tidak terlalu ramai di pasar-pasar. Contoh yang lainnya, kunjungan-kunjungan pribadi dan keluarga hendaknya diatur, sehingga hal tersbut tidak menyibukan seseorang dari ibadah-ibadahnya.

Jadikanlah banyak beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah sebagai prioritasmu di bulan yang penuh berkah ini.

Kuatkanlah tekad sejak awal bulan untuk selalu pergi gasik (lebih awal) ke masjid di waktu-waktu shalat, mengkhatamkan al-Qur’an dengan membacanya, menjaga shalat malam dan infak semudah yang dapat dilakukan dari hartamu.

Manfaatkan sebaik mungkin kesempatan bulan Ramadhan untuk memperkuat hubunganmu dengan kitabullah, di antaranya dengan hal-hal berikut :

Memperbaiki bacaan ayat dengan cara membacakannya kepada seorang yang baik bacaannya. Jika tidak mungkin, maka dengan mengikuti bacaan qari-qari yang mutqin yang direkam dalam kaset.

Memuraja’ah kembali hafalan dan berupaya menambahnya.

Membaca tafsir ayat-ayat dibaca, dengan merujuk kepada kitab-kitab tafsir, seperti tafsir al-Baghawi, tafsir Ibnu Katsir, tafsir as-Sa’di, dll.

Berupaya untuk menerapkan perintah-perintah yang Anda baca di dalam kitabullah.

Kita mohon kepada Allah-عَزَّوَجَلَّ-agar menyempurnakan kepada kita nikmat mendapatkan bulan Ramadhan, dengan menyempurnakan puasanya dan qiyamullail-nya. Dan, semoga pula Allah-عَزَّوَجَلَّ- menerima amal kita dan mengampuni keteledoran kita. Amin

Wallahu A’lam

Sumber :

Jadwal Muqtarah Lil Muslim Fi Syahri Ramadhan, Muhammad Shaleh al-Munajid-حَفِظَهُ اللهُ. https://islamqa.info/ar/answers/26869/جدول-مقترح-للمسلم-في-شهر-رمضان.

Amar Abdullah bin Syakir

Artikel: www.hisbah.net
Ikuti update artikel kami di Hisbah.net
Youtube: MDH tv (Media Dakwah Hisbah )
Instagram: Hisbahnet dan Al Hisbah Bogor

About Author

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

baru

Jangan Lewatkan Pahala Puasa Setahun Penuh

Published

on

By

Pada bulan Syawwal ini terdapat sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang pahalanya dapat menyempurnakan puasa bulan Ramadhan sehingga bernilai pahala puasa setahun penuh. Puasa sunnah yang dimaksud adalah puasa 6 hari di bulan syawwal.
Keutamaannya berdasarkan hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعُهُ بِسِتٍّ مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Artinya: Barang siapa berpuasa Ramadhan kemudian dilanjutkan dengan enam hari dari Syawal, maka seperti pahala berpuasa setahun (HR Muslim).

Bagaimana bisa puasa ramadan dan syawal bernilai pahala puasa setahun?
Jawabannya adalah karena setiap kebaikan bernilai pahala sepuluh kali lipat, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

مَن جَآءَ بِٱلْحَسَنَةِ فَلَهُۥ عَشْرُ أَمْثَالِهَا ۖ وَمَن جَآءَ بِٱلسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَىٰٓ إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

Artinya: “Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).” (QS Al An’am: 160)

Kemudian, dalam pelaksanaannya juga terdapat kemudahan, yaitu boleh berpuasa sunnah 6 hari syawal secara acak jika tidak mampu melaksanakannya 6 hari berturut-turut, namun lebih utama jika bisa berurutan, sebagaimana yang difatwakan oleh para ulama, seperti Al Khatib Al Syirbiny dalam kitabnya Tuhfatul Muhtaj 184/2.

Maka, ini adalah kesempatan emas yang sangat disayangkan jika terlewatkan. Karena perjalanan kita di dunia ini adalah untuk mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya untuk akhirat.

Semoga Allah Ta’ala senantiasa menaungi kita dengan taufik dan hidayah-Nya.

Artikel: www.hisbah.net
Ikuti update artikel kami di Hisbah.net
Youtube: Hisbahtv
Instagram: Hisbahnet dan Al Hisbah Bogor

About Author

Continue Reading

baru

Jangan Sia-siakan Sepuluh Akhir Ramadhan

Published

on

By

Khutbah Pertama :

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي فَضَّلَ رَمَضَانَ عَلَى غَيِرِهِ مِنَ الشُّهُوْرِ

واَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذَي جَعَلَ فِيْهِ لَيْلَةَ الْقَدْرِ خَيْرَا مِنْ أَلْفِ شَهْر

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَيركَ لَهُ  لَهُ الْمُلْكُ  وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْر

وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ وَلَدِ الْبَشَر

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ  [آل عمران : 102]

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا [النساء : 1]

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا (70) يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا (71) [الأحزاب : 70 ، 71]

Ibadallah !

Bertakwalah kepada Allah. Bekalilah diri dengan bertakwa kepada Allah, kapan saja dan di mana saja kita tengah berada. Sesungguhnya ketakwaan kepada Allah merupakan bekal terbaik kita dalam mengarungi samudera kehidupan dunia nan fana, menuju kehidupan akhirat yang kekal abadi. Allah azza wa jalla berfirman,

 

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ [البقرة : 197]

Berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal (al-Baqarah : 197).

Ibadallah !

Bertakwalah kepada Allah, dengan mengerjakan perintah-perintah-Nya dan meninggalkan larangan-larangan-Nya.

Bertakwalah kepada Allah, dengan senantiasa mengingat-Nya, tidak melupakan-Nya.

Bertakwalah kepada Allah, dengan mensyukuri segala bentuk nikmat-Nya, janganlah kita mengkufuri-Nya. Dan, janganlah pula kita menyia-nyiakan waktu dan kesempatan yang berharga dengan melakukan hal-hal yang tidak berguna untuk urusan dunia dan akhirat kita. Manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya setiap kesempatan yang Allah berikan kepada kita untuk melakukan berbagai bentuk kebaikan dan ketaatan.

Ibadallah !

Terlebih, ketika kesempatan itu merupakan peluang yang sangat besar untuk meraih sebanyak-banyaknya pahala dari Allah azza wa jalla.

Ibadallah !

Ketahuilah bahwa disampaikannya seorang hamba ke sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan ini, merupakan kesempatan yang istimewa dan peluang yang sangat berharga untuk meraih pahala yang sangat banyak dari Allah azza wa jalla. Terkhusus adalah di malam-malamnya. Nabi-ضَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-bersabda,

فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرُهَا فَقَدْ حُرِمَ

Pada bulan Ramadhan itu ada satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Barang siapa terhalangi dari kebaikannya, sungguh ia telah terhalangi (dari mendapatkan kebaikan yang banyak) (HR. an-Nasai)

Ibadallah !

Oleh karena itu, dulu Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-dan para sahabatnya mengagungkan sepuluh akhir ini dan mereka bersungguh-sungguh di dalam mengisinya lebih dari kesungguhan mereka dalam mengisi hari-hari lainnya.

Imam Ahmad di dalam Musnadnya dan imam Muslim di dalam shahihnya meriwayatkan dari Aisyah- رَضِيَ اللهُ عَنْهَا-, ia berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مَا لَا يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ

Rasulullah- صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-biasa bersungguh-sungguh pada sepuluh akhir (dari bulan Ramadhan) tidak sebagaimana beliau bersungguh-sungguh pada selainnya.

Dan, asy-Syaikhan (Bukhari dan Muslim) meriwayatkan juga dari Aisyah- رَضِيَ اللهُ عَنْهَا-ia berkata,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

Apabila sepuluh akhir (dari bulan Ramadhan) telah masuk, Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.

Ibadallah !

Makna ((شَدَّ مِئْزَرَهُ)) (mengencangkan ikat pinggangnya) yakni beliau-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-bersungguh-sungguh dan mengerahkan segenap kesungguhan untuk beribadah dan menjauhkan diri dari istri ; maka pada malam-malam itu beliau tidak bernikmat-nikmat melainkan dengan bermunajat kepada Rabbnya dan mendekatkan diri kepada-Nya. Maka, apa yang diperbolehkan oleh Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-bagi beliau-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-berupa melakukan hubungan intim suami istri pada malam-malam Ramadhan menjadi tersibukkan oleh selainnya berupa ibadah dan ketaatan karena sangat mendambakan untuk mendapatkan pahala sepuluh malam ini dan diberi taufik untuk mendapatkan lailatul qadar.

Ibadallah !

Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- menghidupkan malamnya, yakni, beliau -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- bergadang menyibukkan diri dengan melakukan ketaatan. Maka, beliau-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-menghidupkannya dengan hal tersebut. Dan, beliau-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-menghidupkan diri dan jiwanya pada malam itu dengan mendekatkan diri dan merendahkan diri dan beribadah kepada Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-. Karena tidur itu adalah saudara kematian, dan tidak akan hidup ruh, tidak pula badan, tidak pula waktu, dan tidak pula umur melainkan dengan ketaatan kepada Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-. Inilah dia kehidupan yang sejatinya. Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-berfirman,

{ أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا } [الأنعام:122]

Apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, seperti orang yang berada dalam kegelapan sehingga dia tidak dapat keluar dari sana? (al-An’am : 122) ?

Ibadallah !

Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-menamakan jasad-jasad ini sebagai ‘mayat’ padahal ia bergerak di atas muka bumi, makan dan minum. Hal demikian itu karena jauhnya jasad-jasad tersebut dari iman dan ketaatan kepada Dzat yang Maha Penyayang (Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-) dan kesibukannya dengan kesesataan, kefasikan, dan kedurhakaan serta kezhaliman.

Ibadallah !

Selain bahwa Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- menghidupkan malamnya, Nabi -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- juga (( أَيْقَظَ أَهْلَهُ ))  (membangunkan keluarganya), yakni, membangunkan mereka untuk menunaikan shalat dan ibadah pada malam-malam ini.

Ibadallah !

Hal ini-wahai hamba-hamba Allah- sesungguhnya termasuk kesempurnaan kesungguhan beliau-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-terhadap keluarganya agar mendapatkan kebaikan dan juga kesempurnaan perhatian beliau-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- terhadap mereka sebagai bentuk penunaian kewajiban memperhatikan hal-hal yang Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى- wajibkan kepada beliau-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-untuk diperhatikan.

Ibadallah !

Hal ini juga menunjukkan kesemangatan dari beliau-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-untuk menunjukkan mereka kepada kebaikan. Dan, orang yang menunjukkan kepada kebaikan adalah seperti pelakunya. Ditambah lagi dengan pahalanya yang diusahakannya karena kesungguhanya dengan dirinya sendiri.

Ibadallah !

Dalam tindakan beliau-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-ini juga sebagai pensyariatan untuk umatnya agar mereka mengambil langkahnya dan meneladani beliau-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-dalam hal tersebut.

Ibadallah !

Di dalamnya juga terdapat arahan bagi para ayah dan ibu dan motivasi bagi mereka agar perhatian dengan pendidikan anak-anak mereka dan agar benar-benar memperhatikan keadaan mereka, terkhusus pada bulan nan mulia ini, memantau keadaan mereka dan mengawasi mereka dalam hal ibadah mereka, dan sungguh-sungguh dalam upaya menjaga mereka, mendorong dan memotivasi mereka untuk berlomba dalam melakukan ketaatan dan menjauhi perkara yang terlarang, dan mendayagunakan sarana yang dapat digunakan untuk menakut-nakuti dan memberikan motivasi kepada mereka.

Ibadallah !

Aisyah- رَضِيَ اللهُ عَنْهَا-mengatakan,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

Apabila sepuluh akhir (dari bulan Ramadhan) telah masuk, Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.

Ibadallah !

Ibnu Hajar-رَحِمَهُ اللهُ-berkata, ‘Di dalam hadis ini terdapat anjuran untuk bersemangat dalam mendawamkan atau merutinkan shalat malam pada sepuluh akhir ini sebagai sebuah isyarat kepada dorongan untuk memperbagus penutupan. Semoga Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-menutup amal dan kehidupan kita dengan kebaikan.’ Amin

أَقُوْلُ مَا تَسْمَعُوْن وَأَسْتَغْفِرَاللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْن وَالمُؤْمِنِيْن اَلمُوَحِّدِيْن مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khutbah kedua :

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَيركَ لَهُ

وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Ibadallah !

Di antara ibadah yang agung, yang Allah pertintahkan kepada kita, hamba-hamba-Nya yang beriman adalah bershalawat kepada Nabi kita Muhammad-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-. Di dalam al-Qur’an, Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى- berfirman,

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا  [الأحزاب : 56]

Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman ! Bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya (al-Ahzab :  56)

Sementara Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-telah bersabda, mengkhabarkan kepada kita salah satu di antara sekian banyak keutamaan bersalawat kepadanya, dalam sabdanya,

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا

Barang siapa bershalawat kepadaku satu kali, nicaya Allah bershalawat kepadanya 10 kali.

Oleh karena itu, hendaknya kita perbanyak ibadah ini, yaitu, bershalawat kepadanya di hari ini, hari Jum’at, sebagaimana yang diperintahkan oleh Nabi kita Nabi Muhammad-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- dalam sabdanya,

إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَأَكْثِرُوا عَلَىَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِيهِ

Sesungguhnya hari Jum’at termasuk hari-hari kalian yang sangat utama. Maka, berbanyaklah oleh kalian bershalawat kepadaku di hari tersebut…(HR. Abu Dawud)

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْم وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْم إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْد ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْم وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْم إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْد .

وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْن اَلْأَئِمَّةِ الْمَهْدِيِّيْن ؛ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيْق ، وَعُمَرَ الْفَارُوْق ، وَعُثْمَانَ ذِي النُّوْرَيْن ، وَأَبِي السِّبْطَيْن عَلِيٍّ . وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ وَعَنِ التَّابِعِيْن وَمَنْ اتَّبَعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرِمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِيْن .

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْن ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْن ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْن, وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْن ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْن,

اَللَّهُمَّ احْمِ حَوْزَةَ الدِّيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْن ,

اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ  وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْن ،

اَللَّهُمَّ انْصُرْ دِيْنَكَ وَكِتَابَكَ وَسُنَّةَ نَبِيِّكَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعِبَادَكَ الْمُؤْمِنِيْن ،

اَللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الدِّيْن ،

اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ يَا حَيُّ يَا قَيُّوْم يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَام ،

اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وِلِيَّ أَمْرِنَا لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى ، اَللَّهُمَّ وَأَعِنْهُ عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَسَدِّدْهُ فِي أَقْوَالِهِ وَأَعْمَالِهِ وَأَلْبِسْهُ ثَوْبَ الصِّحَّةِ وَالْعَافِيَةِ .

اَللَّهُمَّ يَا ذَا الْجَلَالِ وَاْلِإكْرَامِ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا زَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا ،

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ.

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ .

اَللَّهُمَّ أَجِرْنَا مِنَ النَّارِ ، اَللَّهُمَّ أَجِرْنَا مِنَ النَّارِ ، اَللَّهُمَّ أَجِرْنَا مِنَ النَّارِ ،

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا اَلَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا ، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيْهَا مَعَاشُنَا ، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا اَلَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا ، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ وَالْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ ،

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالسَّدَادَ ،

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعِفَّةَ وَالْغِنَى ،

رَبَّنَا إِنَّناَ ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخاسِرِيْن ،

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرِةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار .

عِبَادَ اللهِ : اُذْكُرْوا اللهَ يَذْكُرْكُمْ ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ ، ( وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ )

Wahai hamba-hamba Allah ! Ingatlah Allah, niscaya Allah mengingat kalian. Bersyukurlah kepada-Nya atas nikmat-nikmatNya, niscaya Dia menambahkan nikmat-Nya kepada kalian. Sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lainnya). Dan Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan.

Artikel: www.hisbah.net
Ikuti update artikel kami di Hisbah.net
Youtube: Hisbahtv
Instagram: Hisbahnet dan Al Hisbah Bogor

About Author

Continue Reading

baru

Membangunkan Keluarga Pada 10 Malam Terakhir Bulan Puasa

Published

on

By

عَنْ عَائِشَةَ – رَضِىَ اللهُ عَنْهَا – قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ أَحْيَا اللَّيْلَ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ وَجَدَّ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ

Dari ‘Aisyah-رَضِيَ اللهُ عَنْهَا-, ia berkata :

Adalah Rasulullah-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- apabila sepuluh (hari terakhir bulan Ramadhan) telah masuk, beliau menghidupkan malam, membangunkan keluarganya, bersungguh-sungguh dan mengencangkan ikat pinggang (HR. Muslim)

***

Di antara kebiasaan Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- pada sepuluh malam terakhir pada bulan Ramadhan adalah membangunkan keluarganya (istri-istrinya). Kebiasaan seperti ini tidaklah beliau lakukan pada kesempatan-kesempatan lain.

Dalam hadis Abu Dzar-رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-diriwayatkan bahwa Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- shalat mengimami mereka pada malam kedua puluh tiga, kedua puluh lima dan kedua puluh tujuh. Lalu disebutkan bahwa beliau mengajak serta istri-istrinya untuk beribadah khusus pada malam kedua puluh tujuh.

Keterangan ini memberi penegasan bahwa sangat diprioritaskan membangunkan keluarga untuk beribadah pada malam-malam ganjil. Karena besar kemungkinan malam-malam tersebut adalah saat terjadinya Lailatul Qadar.

Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dari hadis Ali bahwa Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- biasa membangunkan keluarganya (untuk beribadah) pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Dan semua orang, baik kecil maupun besar, mampu melaksanakan shalat.

Sufyan ats-Tsauri-رَحِمَهُ اللهُ–berkata, “Aku sangat menyukai bagi seseorang jika telah masuk sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan hendaknya ia sungguh-sungguh beribadah pada waktu malam, dan hendaklah ia membangunkan istri dan anak-anaknya agar turut beribadah jika mereka mampu melakukan hal itu.”

Telah diriwayatkan secara shahih dari Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ –bahwa biasanya beliau mengetuk pintu rumah Fathimah dan Ali pada waktu malam. Beliau berkata kepada keduanya, “Tidakkah kalian berdua bangun lalu melaksanakan shalat ?”

Demikian pula beliau-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ –biasa membangunkan ‘Aisyah pada waktu malam jika telah selesai tahajjud dan hendak melaksanakan shalat Witir.

Dalam kitab al-Muwatho’ diriwayatkan bahwa Umar bin Khathob-رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا-biasa shalat pada waktu malam sebagaimana yang dikehendaki Allah. Hingga apabila telah sampai tengah malam, ia membangunkan keluarganya untuk shalat. Ia berkata kepada mereka, “Tunaikan shalat…tunaikan shalat.” Lalu beliau membaca firman Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-,

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا  [طه : 132]

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu untuk mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.“ (Thaha : 132)

Diceritakan bahwa istri Habib Abu Muhammad-رَحِمَهُ اللهُ-biasa berkata kepada suaminya pada malam hari, “Malam telah berlalu, di depan kita terbentang jarak yang demikian jauh, rombongan para shalihin telah berangkat lebih dulu sementara kita tertinggal jauh.”

Wahai orang yang lelap, betapa lama engkau tertidur

Berdirilah kekasihku, waktu itu telah dekat.

Pergunakanlah sedikit waktu malam untuk berdzikir.

Pada saat orang-orang asyik terlelap

Barangsiapa yang tidur hingga malam berlalu

Ia tak akan sampai tujuan dan tidak pula berusaha

Katakan kepada orang yang berakal para ahli takwa

Pahala yang besar sedang menantimu

Wallahu A’lam

Amar Abdullah bin Syakir

Sumber :

Bughyatu al-Insan Fii Wadha-if Ramadhan, Ibnu Rajab al-Hanbali, ei, hal. 98-100.

Artikel: www.hisbah.net
Ikuti update artikel kami di Hisbah.net
Youtube: Hisbahtv
Instagram: Hisbahnet dan Al Hisbah Bogor

About Author

Continue Reading

Trending