Akhlaq Kepada Allah (2)

Akhlaq-Kepada-Allah-2.jpg

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Pembaca yang budiman, pada bahasan kita yang lalu terkait dengan masalah akhlaq kepada Allah, kita telah mengetahui bahwa, mentauhidkanNya dalam ibadah merupakan cerminan akhlaq baik seorang hamba kepada RobbNya. Berikut ini adalah kelanjutannya.

Saudaraku… salah satu bentuk implementasi pengesaan seorang hamba kepada Robbnya dalam hal ibadah adalah ia menunaikan ibadah semata-mata karenaNya, bukan karena yang lainnya. Inilah yang kita kenal dalam terminologi agama kita dengan “ Ikhlash “ dalam Niat. Apa yang menjadi motivasinya adalah Karena Allah. Ia beribadah karena Allah ta’ala dan hanya untukNya, bukan karena tendensi atau tujuan yang lainnya.

Saudaraku…fungsi niat dalam ibadah sangatlah penting. Karena itu setiap muslim harus senantiasa memperbaiki niat dalam ibadahnya, yaitu ikhlash untuk Allah semata. ‘Umar ibnul Khaththab berkata: Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Amalan-amalan itu hanyalah tergantung dengan niatnya. Dan setiap orang hanyalah mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan. Maka siapa yang amalan hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya itu karena Allah dan Rasul-Nya.Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin ia peroleh atau karena wanita yang ingin ia nikahi maka hijrahnya itu kepada apa yang dia tujukan/niatkan.” (HR. al Bukhori dan Muslim ).

Saudaraku… dari hadits di atas kita pahami bahwasanya setiap orang akan memperoleh balasan dari amalan yang dilakukan sesuai dengan niatnya. Dalam hal ini Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah telah berkata: “Setiap amalan yang dilakukan seseorang baik  berupa kebaikan ataupun kejelekan tergantung dengan niatnya. Apabila ia tujukan dengan perbuatan tersebut niatan/maksud yang baik maka ia mendapatkan kebaikan, sebaliknya bila maksudnya jelek maka ia mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” Beliau juga mengatakan: “Hadits ini mencakup di dalamnya seluruh amalan, yakni setiap amalan harus disertai niat. Dan niat ini yang membedakan antara orang yang beramal karena ingin mendapatkan ridha Allah ta’ala dan pahala di negeri akhirat, dengan orang yang beramal karena ingin dunia, baik berupa harta, kemuliaan, pujian, sanjungan, pengagungan dan selainnya.” (Makarimul Akhlaq, hal. 26 dan 27)

Ibnu Rajab al Hambali mengatakan di dalam kitabnya, Jami’ul ‘Ulum wal Hikam,
Di sini kita bisa melihat arti pentingnya niat sebagai ruh amal, inti dan sendinya.Amal menjadi benar karena niat yang benar dan sebaliknya amal menjadi rusak karena niat yang rusak.
Dinukilkan dari sebagian salaf ucapan mereka yang bermakna: “Siapa yang senang untuk disempurnakan amalan yang dilakukannya maka hendaklah ia membaikkan niatnya. Karena Allah ta’ala memberi pahala bagi seorang hamba apabila baik niatnya, sampaipun satu suapan yang dia berikan (akan diberi pahala).”

Saudaraku… oleh karena itu, kita harus terus berupaya memperbaiki niat dan meluruskannya agar apa yang dia lakukan berbuah kebaikan. Dan memperbaiki niat ini perlu mujahadah (kesungguh-sungguhan dengan mencurahkan segala daya upaya). Karena sulitnya meluruskan niat ini sampai-sampai Sufyan Ats-Tsauri berkata : “Bagiku, tidak ada suatu perkara yang paling berat untuk aku obati daripada meluruskan niatku, karena niat pada diriku itu bisa berubah-ubah.”. Allahu a’lam ( Abu Umair )

Bersambung…

Ikuti update artikel Hisbah di Fans Page Hisbah
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

450 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: