Akibat Berbuat Maksiat (1)

Akibat-Berbuat-Maksiat-1.jpg

Pada artikel yang berjudul ‘Dampak Maksiat Terhadap Manusia’ kami meyebutkan sebagian perkataan Ibnul Qayyim tentang akibat maksiat bagi manusia, kali ini kami ingin melanjutkan dampak-dampak lain yang disebutkan oleh Ibnul Qoyyim rahimahullah, diantaranya:

 

Maksiat akan menumbuhkan maksiat lain

Pada dasarnya manusia yang sudah terperangkap dalam kemaksiatan akan merasa sulit untuk keluar dan melepaskan diri darinya sebagaimana dikatakan oleh ulama salaf:

“diantara hukuman berbuat maksiat adalah terjatuh kepada maksiat yang selanjutnya, dan diantara ganjaran berbuat ketaatan adalah dimudahkannya untuk berbuat ketaatan sesudahnya. Maka, jika seorang hamba melakukan suatu kebaikan, kebaikan lainnya akan minta untuk dilaksanakan juga, begitu seterusnya hingga hamba tersebut memperoleh keuntungan yang berlipat ganda dan kebaikan yang tidak sedikit, begitu pula halnya dengan keburukan. Dengan demikian ketaatan dan kemaksiatan merupakan sifat yang kokoh dan kuat serta menjadi kebiasaan yang teguh pada diri sang pelaku.

 

Maksiat melemahkan keinginan untuk berbuat baik

Maksiat dapat melemahkan keinginan hati untuk berbuat baik sekaligus menguatkan keinginan hati untuk terus melakukan kemaksiatan dan sedikit demi sedikit melemahkan keinginan untuk bertaubat sampai keinginan untuk bertaubat tersebut hilang sama sekali. Andai separuh badannya mati ia tak akan pernah bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sesungguhnya, mungkin ia banyak beristighfar dan bertaubat dengan taubatnya orang-orang pendusta, lidahnya beristighfar tapi hatinya tetap terikat dengan cinta maksiat dan masih terus-menerus terjerat maksiat yang dijalaninya. Inilah penyakit yang paling berbahaya dan paling dekat dengan kebinasaan.

Maksiat akan terlihat suatu hal biasa

Kalau seseorang sudah terbiasa dengan maksiat, maka akan hilang dari hatinya rasa bahwa maksiat tersebut adalah hal yang buruk, maksiat akan menjadi suatu kebiasaan baginya, sehingga ia tidak lagi merasa malu jika maksiat yang ia buat dilihat atau diperbincangkan oleh orang lain. Justru ini adalah puncak kelezatan bagi orang fasik, sampai-sampai ia berbangga dengan maksiat yang ia buat, bahkan dengan bangganya ia menceritakan maksiat yang telah dilakukan kepada orang yang belum tahu, dengan berkata; “hai fulan, semalam aku telah berbuat ini…”

Orang yang seperti ini (kemungkinan besar-red) dosanya tidak diampuni, jalan dan pintu-pintu taubat akan ditutup baginya sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:

كلّ أمّتي معافى إلّا المجاهرين، وإنّ من المجاهرة أن يعمل الرّجل باللّيل عملا، ثمّ يصبح وقد ستره اللّه فيقول: يا فلان عملت البارحة كذا وكذا، وقد بات يستره ربّه، ويصبح يكشف ستر اللّه عنه

Setiap umatku akan mendapat ampunan, kecuali mujahirin (orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa). Dan yang termasuk terang-terangan berbuat dosa adalah seseorang berbuat (dosa) pada malam hari, kemudian pada pagi hari dia menceritakannya, padahal Allah telah menutupi perbuatannya tersebut, yang mana dia berkata, ‘Hai Fulan, tadi malam aku telah berbuat begini dan begitu.’ Sebenarnya pada malam hari Rabb-nya telah menutupi perbuatannya itu, tetapi pada pagi harinya dia menyingkap perbuatannya sendiri yang telah ditutupi oleh Allah tersebut.”(HR. Bukhari & Muslim).

 

Maksiat adalah warisan umat dahulu yang diadzab oleh Allah

Homoseksual adalah warisan kaum Nabi Luth alaihissalam, berbuat curang dalam takaran dan timbangan adalah warisan kaum Nabi Syu’aib alaihissalam, bersikap sombong dan berbuat kerusakan dimuka bumi adalah warisan Fir’aun dan pengikutnya, takabur dan congkak adalah warisan kaum ‘Aad. Dengan demikian, orang-orang yang melakukan kemaksiatan dizaman sekarang adalah kaum yang memakai baju umat-umat terdahulu yang bermaksiat, padahal mereka adalah musuh-musuh Allah.

Maksiat menyebabkan kehinaan

Imam Hasan Al-bashriy berkata, “mereka (ahli maksiat) hina dalam pandangan Allah sehingga mereka mudah berbuat maksiat, andai mereka mulia dalam pandangan Allah tentu Allah akan menjaga mereka. Jika seorang hamba sudah dihinakan oleh Allah maka tidak akan ada lagi yang akan memuliakannya.”

Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَمَن يُهِنِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِن مُّكرِمٍۚ

Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya.” (QS. Al-Hajj: 18).

Kalaupun pelaku maksiat secara dzahir dimuliakan oleh orang-orang sekitarnya, itu karena mereka mengharapkan pamrih, atau karena mereka khawatir terhadap kejahatan bukan karena ketulusan.

Inilah sebagian dampak buruk maksiat bagi manusia menurut Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah dan masih banyak lagi dampak lain yang beliau sebutkan yang insyallah akan kami paparkan di artikel-artikel mendatang, semoga Allah senantiasa memudahkan kita untuk melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan.

Al-Jawabul Kafi’ karya Ibnul Qoyyim rahimahullah

Penulis: Arinal Haq

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

777 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: