Aku Lihat Tangan Kalian Seperti Ekor Kuda Syumus !

22-1.jpg

Dari Jabir bin Samurah[1], ia berkata, “dulu, ketika kami shalat di belakang Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam-, kami menggerakkan tangan-tangan kami (ketika salam) ke kanan dan ke kiri sambil mengucapkan “as-Salaamu ‘alaikum.” Maka, Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- mengatakan : mengapa saya melihat tangan-tangan kalian seperti ekor kuda Syumus, hendaknya salah seorang di antara kalian tenang ketika shalat [2]

 

  • Faedah :

Dalam hadis ini terdapat banyak faedah dan pelajaran yang dapat dipetik yang terkait dengan masalah amar ma’ruf nahi munkar, di antaranya yang terangkum dalam  poin berikut ini :

Pertama, pengingkaran terhadap orang yang menggerakkan tangannya ke arah kanan dan ke kiri ketika salam saat menyudahi shalatnya.

Kedua, Seorang muhtasib hendaknya berupaya untuk melakukan sebab-sebab yang akan mendatangkan kekhusyu’an dan ketenangan serta merasa tengah menghadap Allah ketika shalat.

 

  • Penjelasan :
  • Hadis yang mulia ini menunjukkan pelarangan terhadap orang yang memberikan isyarat atau menggerakkan tangannya ke kanan dan ke kiri ketika salam saat menyudahi shalatnya [3] , Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- telah melarang orang yang melakukan perbuatan tersebut dan beliau menyerupakan tindakannya tersebut dengan kuda asy-Syumus, yaitu kuda yang tidak bisa diam, di mana ekor dan kakinya selalu saja bergerak. Tindakan tersebut tentunya menafikan kekhusyu’an di dalam shalat. Oleh kerena itu, seorang muhtasib hendaknya mengingkari terhadap orang yang melakukan tindakan tersebut dan memberikan penjelasan kepadanya tentang sesuatu yang sesuai dengan sunnah (dalam hal itu), yaitu meletakkan kedua tangan di atas kedua paha, sebagaimana zhahir sabda Nabi-shallallahu ‘alaihi wasallam- : tidakkah cukup salah seorang di antara kalian untuk meletakkan tangannya di atas pahanya [4]
  • Sesungguhnya berisyarat dengan tangan ketika salam mengakhiri shalat menafikan ketenangan dan kekhusyu’an di dalamnya, oleh karena itu seorang muhtasib berupaya untuk melakukan hal yang akan mengantarkan diperolehnya ketenangan di dalam shalatnya [5] jikalau hati itu khusyu’ niscaya akan khusyu’ pula anggota tubuh. Nabi telah memerintahkan para sahabatnya agar tenang, seraya bersabda, “ hendaknya salah seorang di antara kalian tenang ketika shalat.” Berkata syaikh al-Bassam-semoga Allah merahmatinya- setelah mendefinisikan makna khusyu’ : dan berdasarkan pada pengertian-pengertian ini muncullah perbedaan pendapat di kalangan ahli ilmu apakah khusyu’ termasuk amalan hati ataukah amalan anggota badan, seperti sikap tenang ataukah hal itu merupakan gabungan dari dua hal (yaitu ketenangan hati dan anggota badan-pen) ?

Ar-raziy mengatakan : pendapat ketiga : bahwasanya (khusyu’ itu) merupakan sifat umum bagi hati dan anggota badan, dalilnya apa yang valid dari perkataan Sa’id bin al-Musayyib  : kalaulah saja hati ini khusyu’ niscaya anggota badan akan khusyu’. Ungkapan ini menunjukkan kepada keabsahan makna secara bahasa dan secara syar’I, bahwa khusyu’ itu berlaku bagi hati dan anggota badan. Maka, yang paling utama adalah keselarasan antara hati dan anggota badan,di mana hati dengan menghadirkan kekhusyu’an dan merasa sedemikian membutuhkan di hadapan Allah, sedangkan anggota badan menampakkan ketenangan dan diam, merasa hina di hadapan Allah ta’ala. Kesemuanya ini kembali kepada makna seseorang merasa dalam pengawasan Allah ta’ala [6]

 

Wallahu a’lam

Penulis : Amar Abdullah bin Syakir

Sumber :

Al-Ihtisab Fii Shahih Ibni Khuzaaemah, Abdul Wahhab bin Muhammad bin Fa-yi’ ‘Usairiy (hal.114-115)

 

[1] Beliau adalah Abu ‘Abdillah-ada yang mengatakan : Abu Khalid- Jabir bin Samurah bin Junadah bin Jundub as-Suwaa-iy, beliau seorang Sahabat yang masyhur, ikut serta dalam penaklukan Madaaa-in, menetap di Kufah dan meninggal dunia di sana. Beliau meninggal dunia pada tahun 76 H. Ada juga yang mengatakan selain itu. Lihat, Tahdziibu al-Kamal, 1/424, Siyar A’lam an-Nubala, 3/186-188

[2] Diriwayatkan juga oleh Imam Muslim –dengan isnad ini – sekalipun terdapat perbedaan redaksional pada beberapa redaksinya- 4/374, hadis no. 969, 970

[3]  Lihat, Ibnu Khuzaemah, 1/361, Syarh Muslim, an-Nawawiy,4/373

[4]  HR. Abu Dawud, 1/425, hadis no. 999, al-Baihaqiy di dalam al-Kubra, 2/180, hadis no. 2817

 

[5] Lihat, Syarh Muslim, an-Nawawiy, 4/374

[6] Taudhiih al-Ahkam, al-Bassam, 1/497

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: