Aku Telah Berzina, Tegakkan Hukum Kitab Allah Kepadaku ! (Kisah Pengakuan Ma’iz al-Aslami dan Pertobatannya)

2-1.jpg

Kisah ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dari jalur periwayatan Nu’aim bin Hazzal, ia berkata :

Ma’iz bin Malik dahulu adalah anak yatim yang berada dalam pemeliharaan ayahku, lalu ia menyetubuhi salah seorang perempuan dari komplek tempat tinggalnya, maka ayahku berkata kepadanya, ‘Datanglah kepada Rasulullah kepada Rasulullah, lalu beritahulah beliau tentang apa yang telah engkau lakukan, mudah-mudahan beliau memohonkan ampunan untukmu dan mudah-mudahan akan ada jalan keluar bagimu.’ Lalu Ma’iz pun mendatangi beliau , dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah berzina, maka silakan tegakkan hukum kitab Allah kepadaku’.”

 

Dalam redaksi al-Bukhari dari hadis Abu Hurairah –semoga Allah meridhainya- disebutkan,

Lalu dia memanggil beliau, ‘Wahai Rasulullah ! sesungguhnya aku telah berzina. Dia menyebutkan kisah dirinya sendiri. Maka, Nabi berpaling darinya, lalu dia beralih ke arah beliau berpaling kepadanya, maka dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesugguhnya aku telah berzina , maka beliau berpaling darinya, lalu dia beralih ke arah beliau berpaling kepadanya, ketika ia telah bersaksi terhadap dirinya sebanyak empat kali, maka Nabi memanggilnya, lalu beliau bersabda, ‘Apakah engkau gila ? dia menjawab,’tidak wahai Rasulullah’, beliau bertanya, ‘engkau telah menikah ? Dia menjawab, ‘Ya, wahai Rasulullah. Beliau bersabda, ‘Pergilah kalian, lalu rajamlah dia.’

 

Dalam hadis Ibnu Abbas –semoga Allah meridhainya- yang juga diriwayatkan oleh al-Bukhari disebutkan bahwa Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- bertanya kepadanya “Mungkin engkau hanya mencium, menyentuh, atau memandang?

 

Di dalam riwayat Abu Hurairah di atas disebutkan bahwa Nabi bertanya kepadanya dengan lafaz yang jelas yang maknanya adalah ‘jima’ (senggama), maka dia menjawab, “ya,” beliau bertanya, “Hingga punyamu masuk semua ke dalam punyanya ? Dia menjawab,’”Ya”, Beliau bertanya,”Sebagaimana masuknya batang celak ke dalam botol celak dan tali timba ke dalam sumur ? Dia menjawab,”Ya”, Beliau bertanya,”apakah engkau mengetahui apa itu zina ? Dia menjawab,”Ya, aku melakukan dengannya perbuatan haram, sebagai mana yang biasa dilakukan suami kepada istrinya secara halal.” Beliau bertanya, “Lalu apa yang engkau inginkan dengan perkataanmu ini ? Dia menjawab,”Aku ingin engkau menyucikanku.” Maka Nabi memerintahkan agar dia dirajam.

 

Di dalam riwayat Abu Dawud dari hadis Jabir bin Abdillah, dia berkata, “Aku termasuk di antara orang-orang yang merajam laki-laki itu. Manakala kami membawanya keluar lalu kami merajamnya dan dia merasakan sakitnya lemparan batu terhadapnya, maka ia berteriak kepada kami, ‘Wahai orang-orang ! Kembalikan aku kepada Rasulullah, karena sesungguhnya kaumku ingin membunuhku dan telah menipuku, mereka memberitahuku bahwa Rasulullah tidak akan membunuhku’. Namun kami tidak menghentikan lemparan batu darinya sehingga kami membunuhnya, lalu ketika kami telah kembali kepada Rasulullah dan kami kabarkan hal itu kepada beliau, beliau bersabda,’Mengapa kalian tidak membiarkannya  dan membawanya kepadaku? Beliau ingin mencari kejelasan darinya, adapun untuk meninggalkan hukuman had, maka tidak.

 

Dalam salah satu riwayat Abu Dawud dari Abu Hurairah, ia berkata, “Maka Nabi memerintahkannya agar dia dirajam, lalu Nabi mendengar dua orang dari para sahabat beliau, salah seorang dari keduanya berkata kepada yang lain, ‘Lihatlah orang yang telah Allah tutupi aibnya, namun nafsunya tidak membiarkannya sehingga dia dirajam sebagaimana anjing dirajam. Maka, Nabi mendiamkan keduanya, kemudian beliau berjalan sejenak sehingga beliau melewati sebuah bangkai keledai yang kakinya terangkat, maka beliau bersabda,’Mana si fulan dan si fulan ? kedua orang yang dimaksud menjawab,”kami di sini wahai Rasulullah. Maka beliau bersabda, Turunlah lalu makanlah bangkai keledai ini! Keduanya berkata, ‘Wahai nabi Allah, memangnya siapa yang mau memakan ini ? Beliau bersabda, ‘Perbuatan kalian berdua yang membicarakan kehormatan saudara kalian berdua tadi lebih buruk daripada memakan bangkai ini. Demi Dzat yang jiwaku ada di Tangan-Nya, sesungguhnya dia sekarang berada di sungai-sungai Surga, dia berenang padanya’”

 

Allahu Akbar ! Alangkah indahnya tobat yang murni, meskipun harganya adalah dibunuhnya jiwa karena itu hanya sebentar saja, kemudian dia berenang di dalam sungai-sungai Surga. Memang benar bahwa rajam adalah siksaan, namun ia adalah penyuci dosa sebagaimana yang dikatakan oleh Ma’iz kepada Nabi, “Aku ingin engakau menyucikanku.”

Dan penyucian dosa di dunia menjaga diri dari azab akhirat.

وَلَعَذَابُ الْاٰخِرَةِ اَكْبَرُۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ

Dan sungguh, azab akhirat lebih besar sekiranya mereka mengetahui.(Qs. Al-Qalam : 33)

Kemudian apakah dia tahu apabila dia mati dan belum sempat dijatuhi hukuman had, kepada kehendak Allah yang manakah dia akan berpulang ?!   

 

Wallahu A’lam

Sumber :

Wa Laa Taq-rabuu al-fawaahisya, Jamal Abdurrahman Ismail (ei, hal.41-74)

Amar Abdullah bin Syakir

 

79 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: