Alasan Klasik 5 Saya Dilarang Untuk Berhijab

Alasan-Klasik-4-Pakai-Hijab-Gerah.jpg

Perlu untuk ditanamkan ke dada secara mendalam bahwa ketaatan mutlak hanya untuk Allah Ta’ala sang pencipta dan penguasa sekalian alam, hal ini dikarena kita semua adalah ciptaan dan hamba-hamba-Nya, maka tentulah bagi seorang hamba untuk tunduk patuh kepada tuannya. Adapun mematuhi sesama manusia, meskipun kedudukannya lebih tinggi, maka asalnya tidak boleh kecuali aturan tersebut tidak menyalahi aturan tertinggi, yaitu aturan Allah, yang menciptakan mereka semua.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فِيْ مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ إِنَّمَا الطَّاعَةَ فِي الْمَعْرُوْفِ

“Tiada ketaatan untuk makhluk dalam bermaksiat kepada sang Khalik, Sesungguhnya ketaatan hanya pada kebaikan” (HR Bukhari dan Muslim)

 

Hijab sebagaimana hukumnya wajib, maka haram untuk ditinggalkan dan tidak berhijab artinya maksiat. Jadi sepantasnya seorang muslim dan muslimah untuk mengutamakan perintah Allah dan Rasul-Nya dalam segala hal, jika halal silahkan dikerjakan, jika haram segera tinggalkan. Maka tidak ada yang boleh mengatur kehidupan seorang muslim dengan aturan yang menyalahi aturan ilahi, bahkan orangtua sekalipun, meski disatu sisi Allah Ta’ala menyeru untuk berbakti kepada orangtua, namun bakti tersebut tidak mutlak sebagaimana yang telah dijelaskan diatas, Allah Ta’ala berfirman:

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS Lukman: 15)

 

Istiqamahlah untuk hijrah ke jalan-Nya, kenakan hijab sebagai identitas muslimah mu, adapun jika kedua orangtua belum dapat menerimanya, maka itu tidak menjadi alasan bagimu untuk menanggalkannya, justru jadikan ia sebagai upaya dakwah, kenalkan hijab kepada anggota keluargamu yang masih awam, kesankan kepada mereka bahwa hijab itu sebuah fitrah wanita, untuk menjaga diri dan agamanya.

Adapun jika yang melarang adalah sebuah institusi, entah itu sekolah apalagi kantor, maka ini adalah jalannya para Nabi dan orang-orang soleh, yaitu menerima kecaman dan ditolak oleh orang lain. Maka bersabarlah, tetap kenakan, namun jika itu harus berakhir dengan resign, maka bumi Allah Ta’ala ini luas, dan rejeki dari tangan-Nya bukan dari mereka, Allah Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً ۚ وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS An Nisaa: 100 )

 

Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk memeluk hidayah, banyak dari mereka yang tenggelam terlalu dalam di kubangan kejahilan dan kemaksiatan, maka bilamana sinyal-sinyal hidayah itu datang mengetuk hatimu untuk segera bertaubat, maka raih dan genggamlah dengan erat, dan bawa hati yang berharap itu untuk segera menghamparkan diri ke hadapan-Nya, sebelum segalanya divonis terlambat.

 

Muhammad Hadhrami Achmadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: