Amalan-Amalan Dengan Keutamaan Mendapat Syafa’at.

Catatan.jpg

Mentauhidkan Allah Ta’ala dan ikhlash beribadah kepada-Nya.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ.

Orang yang paling berbahagia dengan syafa’atku pada hari kiamat nanti adalah orang yang mengucapkan kalimat laa ilaaha illallaah dengan ikhlas dari hati dan jiwanya. (HR. Al-Bukhari no. 99 dan 6570)

Membaca Al-Qur-an dan mengamalkannya.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اِقْرَءُوا الْقُرْآنَ، فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ.

Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat kelak sebagai syafa’at bagi pembacanya. (HR. Muslim no. 804)

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ: أَىْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِى فِيهِ. وَيَقُولُ الْقُرْآنُ: مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِى فِيهِ. قَالَ: فَيُشَفَّعَانِ.

Puasa dan Al-Qur’an itu akan memberikan syafa’at kepada seorang hamba pada hari kiamat nanti. Puasa akan berkata, Wahai Tuhanku, saya telah menahannya dari makan dan nafsu syahwat, karenanya perkenankan aku untuk memberikan syafa’at kepadanya’. Dan Al-Qur’an pula berkata, Saya telah melarangnya dari tidur pada malam hari, karenanya perkenankan aku untuk memberi syafa’at kepadanya. Beliau bersabda: Maka syafa’at keduanya diperkenankan. (HR. Ahmad, Hakim, Thabrani, periwayatnya shahih sebagaimana dikatakan oleh Al Haytsami dalam Majma’ul Zawaaid)

Tinggal di Madinah dan bersabar atas kesulitan yang ada padanya.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا يَصْبِرُ عَلَى لَأْوَاءِ الْمَدِينَةِ، وَشِدَّتِهَا أَحَدٌ مِنْ أُمَّتِي، إِلَّا كُنْتُ لَهُ شَفِيعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَوْ شَهِيدًا.

Tidaklah seorangpun dari kalangan umatku yang sabar terhadap cobaan dan kesusahan Madinah, kecuali aku akan menjadi orang yang memberikan syafa’at atau saksi baginya kelak di hari kiamat. (HR. Muslim no. 1378)

Berdo’a dan bershalawat setelah mendengar adzan.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ، اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ، حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

Barangsiapa yang mengucapkan ketika mendengar adzan: ‘Allaahumma Rabba hadzihid-da’watit-taaammah, wash-shalaatil-qaaimah aati Muhammadanil-wasiilata wal-fadliilah, wa-b’atshu maqaaman-mahmuuda, alladzii wa’adtahu’ (Ya Allah, Rabb pemilik panggilan yang sempurna ini dan shalat (wajib) yang didirikan. Berilah al-wasilah (derajat di surga), dan keutamaan kepada Muhammad, dan bangkitkan beliau, sehingga bisa menempati kedudukan terpuji yang engkau janjikan); maka ia berhak mendapatkan syafa’atku kelak pada hari kiamat. (HR. Al-Bukhari no. 614)

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا، ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِيَ الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ، فَمَنْ سَأَلَ لِيَ الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ.

Apabila kalian mendengar muadzin (mengumandangkan adzan), maka ucapkan seperti yang ia ucapkan. Kemudian, bershalawatlah kepadaku. Sesungguhnya barangsiapa bershalawat kepadaku sekali, niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali. Kemudian, mintalah wasilah kepada Allah untukku. Sesungguhnya al-wasilah itu suatu manzilah di surga yang tak layak ditempati melainkan oleh seorang hamba di antara hamba-hamba Allah dan aku berharap akulah orangnya. Barangsiapa meminta wasilah untukku niscaya ia berhak untuk mendapatkan syafa’at. (HR. Muslim no. 834)

Memperbanyak sujud (shalat).

عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ كَعْبٍ الأَسْلَمِىُّ قَالَ: كُنْتُ أَبِيتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَأَتَيْتُهُ بِوَضُوئِهِ وَحَاجَتِهِ، فَقَالَ لِى: سَلْ. فَقُلْتُ: أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِى الْجَنَّةِ. قَالَ: أَوَغَيْرَ ذَلِكَ. قُلْتُ: هُوَ ذَاكَ. قَالَ: فَأَعِنِّى عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ.

Dari Rabii’ah bin Ka’ab Al-Aslami ia berkata: Aku pernah bermalam bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Aku membawakan kepada beliau air wudhu dan keperluan beliau. Lalu beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku: Mintalah sesuatu. Aku berkata: Aku meminta agar dapat menemanimu di surga. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Ataukah masih ada yang lainnya?. Aku menjawab: Itu saja. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tolonglah aku agar engkau memperbanyak sujud. (HR. Muslim no. 489)

Siroj Hardian, Lc.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: