Amalan-amalan pada Bulan Muharram

waktu1.jpg

Buletin Hisbah Th. III / Jum’at  IV / 29 Dzulhijjah 1432 H / 25 November 2011 M

Bulan Muharram adalah salah satu bulan Haram (al-asyahrul hurum) dimana didalamnya terkandung keistimewaan dan kesucian dan Allah menjadikan bulan ini sebagai bulan pilihan di antara bulan yang ada. Allah Ta’ala berfirman :

Sesungguhnya bilangan bulan disisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat bulan haram…” (QS. At Taubah:36)

Ibnu Jarir ath Thabari Rahimahullah meriwayatkan melalui sanadnya, dari Ibnu Abbas Radhiyallahuanhu sehubungan dengan pengagungan Allah terhadap kesucian bulan-bulan ini, beliau berkata, “Allah Ta’ala telah menjadikan bulan-bulan ini sebagai (bulan-bulan yang) suci, mengagungkan kehormatannya dan menjadikan dosa yang dilakukan pada bulan-bulan ini menjadi lebih besar dan menjadikan amal shalih serta pahala pada bulan ini juga lebih besar.” (tafsir ath thabari)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عن أبي هريرة  قال: قال رسول الله : أفضل الصيام بعد رمضان شهر الله المحرم وأفضل الصلاة بعد الفريضة صلاة الليل

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah (puasa) di bulan Allah (bulan) Muharram, dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib (lima waktu) adalah shalat malam” (HR. Muslim/no. 1163).

Ibnu Rajab Rahimahullah mengatakan, “Nabi Shalallahu ‘Alahi Wassalam menamakan Muharram dengan bulan Allah (syahrullaah). Penisbatan nama bulan ini dengan lafazh ‘Allah’ menunjukkan kemuliaan dan keutamaan bulan ini, karena sesungguhnya Allah tidak menyandarkan (menisbatkan) lafazh tersebut kepada-Nya kecuali karena keistimewaan dan kekhususan yang dimiliki oleh makhluk-Nya tersebut dan seterusnya. (Laathaif Al Ma’aarif).

Sebagian ulama memberikan alasan yang mengaitkan tentang keutamaan puasa pada bulan ini. Maksudnya, bahwa sebaik-baik bulan untuk melakukan puasa sunnah secara penuh setelah bulan Ramadhan, adalah Muharram. Karena berpuasa sunnah pada sebagian hari, seperti hari ‘Arafah atau enam hari di bulan syawal lebih utama (afdhal) daripada berpuasa pada sebagian hari-hari bulan Muharram. (laatha if al ma’aarif)

Diantara keberkahan bulan Muharram berikutnya, jatuh pada hari kesepuluh, yaitu hari ‘Asyura. Hari ‘Asyura ini merupakan hari yang mulia dan penuh berkah. Hari ‘Asyura ini memiliki kesucian dan kemuliaan sejak dahulu. Dimana pada hari ‘Asyura ini allah ta’ala menyelamatkan seorang hamba sekaligus Nabi-Nya, Musa ‘Alaihis Salam dan kaumnya serta menenggelamkan musuhnya, Fir’aun dan bala tentaranya. Sesungguhnya Nabi Musa ‘Alaihis Salam berpuasa pada hari ini sebagai bentuk syukurnya kepada Allah. Sedangkan orang-orang Quraisy di zaman Jahilliyah juga berpuasa pada hari ini, begitu juga Yahudi. Mereka dulu berpuasa pada hari ‘Asyura. Berdasarkan pendapat kebanyakan ulama, puasa ini pada mulanya wajib bagi kaum muslimin sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan, kemudian (berubah) menjadi sunnah. Sebagaimana yang tedapat dalam ash Shahihain dari ‘Aisyah Radhiallahu Anha, ia berkata:

“Dahulu orang-orang quraisy berpuasa ‘asyura pada zaman jahilliyah. Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wassalam sendiri juga berpuasa ‘Asyura. Ketika beliau hijrah ke Madinah, beliau terus melaksanakan puasa ‘Asyura, dan memerintahkan orang-orang untuk berpuasa. Lalu ketika diwajibkan berpuasa pada bulan Ramadhan, beliau bersabda:’Barangsiapa yang mau berpuasa ‘Asyura, berpuasalah dan barangsiapa yang ingin meninggalkannya, tinggalkanlah.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan juga tertera dalam Ash-Shahihahin dari Ibnu ‘Abas Radhiallahuanhuma, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alahi wassalam datang ke Madinah dan beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘asyura. Maka Rasulullah shalallahu ‘alahi wassalam bertanya pada mereka, “Hari apakah ini, yang kalian berpuasa di dalamnya? Mereka menjawab: “ini adalah hari yang agung, pada hari inilah Allah menyelamatkan musa ‘alaihis salam dan kaumnya, dan menenggelamkan Fir’aun dan bala tentaranya. Maka Musa berpuasa pada hari ‘Asyura ini sebagai tanda syukurnya.” Kemudian Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassalam bersabda: “Maka, kami lebih berhak terhadap musa ‘alaihis salam dan lebih diutamakan daripada kamu sekalian.” Lalu Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassalam berpuasa ‘asyura dan memerintahkan kaum muslimin agar berpuasa. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan puasa pada hari ini memiliki keutamaan yang besar, dimana puasa ini dapat meleburkan dosa-dosa setahun yang lalu, sebagaimana tertera dalam shahih Muslim, dari Abu Qatadah al Anshari Radhiallahu Anhu. Sesungguhnya Rasulullah shalallahu ‘alahi wassalam ditanya tentang puasa pada hari ‘Ssyura, maka beliau bersabda, “dia akan menggugurkan (dosa-dosa) setahun yang lalu.” (HR. Muslim)

Sebagian ulama berpendapat sunnah berpuasa pada hari kesembilan bersamaan dengan hari kesepuluh karena Nabi Shalallahu ‘alahi Wasallam berpuasa pada hari kesepuluh dan berniat akan berpuasa pada hari kesembilan. Imam Nawawi Rahimahullah menyatakan, “barangkali sebab dari puasa dua hari ini agar tidak tasyabbuh (serupa) dengan Yahudi yang berpuasa hanya di hari kesepuluh.” (Syarhun Nawawi li Shahih Muslim)

Tidak ada lagi yang disyari’atkan pada hari ‘Asyura ini selain puasa. Namun sebagian orang mengada-adakan perkara baru (bid’ah) yang tidak ada dasarnya sama sekali, atau hanya bersandar pada hadits-hadits maudhu’ (palsu) atau hadits-hadits dha’if (lemah). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah menyebutkan beberapa perkara mungkar, yang diada-adakan oleh ahlul ahwaa’ (pengikut hawa nafsu), yaitu kaum Rafidhah yang pada hari ‘Asyura pura-pura haus dan sedih, serta perkara-perkara baru lainnya yang tidak disyari’atkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Dan tidak pula dilakukan oleh seorang pun dari generasi salaf dan dari ahli bait Rasulullah ‘Alahi Wassalam maupun dari yang lainnya. Sesungguhnya musibah terbunuhnya al Husain bin Ali bin Abu Thalib pada hari ‘Asyura ini, wajib disikapi seperti penyiikapan terhadap berbagai musibah dengan mengembalikannya kepada penyikapan yang disyari’atkan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah juga menyebutkan bahwa sebagian orang mengada-adakan perkara baru (bid’ah) dalam masalah ini dengan bersandar pada hadits-hadits palsu yang tidak berdasar seperti fadhilah mandi pada hari ‘asyura, bercelak atau berjabat tangan, atau menampakkan rasa senang dan bahagia, dan meluaskan nafkahnya pada hari itu. (lihat iqtidhaa-ush shiraathil mustaqiim li mukhaalafatil ash haabil jahiim).

Hadits yang mulia ini menunjukkan dianjurkannya berpuasa pada bulan muharram, bahkan puasa di bulan ini lebih utama dibandingkan bulan-bulan lainnya, setelah bulan Ramadhan.

Kesimpulan :

  1. Puasa yang paling utama dilakukan pada bulan Muharram adalah puasa ‘aasyuura’ (puasa pada tanggal 10 Muharram), karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melakukannya dan memerintahkan para sahabat radhiyallahu ‘anhuma untuk melakukannya (HR. al-Bukhari/No. 1900 dan Muslim/No. 1130), dan ketika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang keutamaannya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “puasa ini menggugurkan (dosa-dosa) di tahun yang lalu”. (HR. Muslim/No. 1162)
  2. Lebih utama lagi jika puasa tanggal 10 Muharram digandengankan dengan puasa tanggal 9 Muharram, dalam rangka menyelishi orang-orang Yahudi dan Nashrani, karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa sallam ketika disampaikan kepada beliau bahwa tanggal 10 Muharram adalah hari yang diagungkan orang-orang Yahudi dan Nashrani, maka beliau bersabda: “Kalau aku masih hidup tahun depan maka sungguh aku akan berpuasa pada tanggal 9 Muharram (bersama 10 Muharram)“. (HR. Muslim/No. 1134)
  3. Adapun hadits “berpuasalah pada hari ‘aasyuura’ dan selisihilah orang-orang yahudi, berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya” (HR. Ahmad (1/241), al-Baihaqi /No. 8189), maka hadits ini lemah sanadnya dan tidak bisa dijadikan sebagai sandaran dianjurkannya berpuasa pada tanggal 11 muharram.
  4. Sebagian ulama ada yang berpendapat dimakruhkannya (tidak disukainya) berpuasa pada tanggal 10 muharram saja, karena menyerupai orang-orang yahudi, tapi ulama lain membolehkannya meskipun pahalanya tidak sesempurna jika digandengkan dengan puasa sehari sebelumnya. ( “as-Syarhul mumti’” (3/101-102)
  5. Sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan puasa tanggal 10 Muharram adalah karena pada hari itulah Allah ta’ala menyelamatkan Nabi Musa ‘Alaihis Salam dan umatnya, serta menenggelamkan Fir’aun dan bala tentaranya, maka Nabi Musa ‘Alaihis Salam pun berpuasa pada hari itu sebagai rasa syukur kepada-Nya, dan ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar orang-orang Yahudi berpuasa pada hari itu karena alasan ini, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kita lebih berhak (untuk mengikuti) Nabi Musa ‘Alaihis Salam dari pada mereka” (HR. al-Bukhari (3216) dan Muslim (1130). Kemudian untuk menyelisihi perbuatan orang-orang Yahudi, beliau menganjurkan untuk berpuasa tanggal 9 dan 10 Muharram. (syaikh Muhammad al-Utsaimin Rahimahullah dalam “Syarhu Riyadhis Shalihin” (3/412).
  6. Hadits ini juga menunjukkan bahwa shalat malam adalah shalat yang paling besar keutamaannya setelah shalat wajib yang lima waktu.

Artikel: ibnuabbaskendari.wordpress.com


Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

532 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: