Amar Ma’ruf Nahi Munkar Butuh Pengorbanan

perahu-kuning.jpg

Segala urusan baik duniawi maupun ukhrawi membutuhkan pengorbanan. Seorang murid yang ingin meraih nilai tinggi dalam ujian perlu untuk mengorbankan waktu, konsentrasi, dan biaya. Seorang kepala keluarga perlu untuk bekerja keras untuk menafkahi keluarganya. Ia rela mengorbankan waktu, tenaga, membanting tulang dan memeras keringat untuk memberi nafkah kepada anak istrinya.

Jika dalam urusan dunawi saja cita-cita tidak akan bisa diraih tanpa pengorbanan, maka urusan akhirat lebih butuh pengorbanan.

Amar ma’ruf nahi munkar butuh kepada waktu, tenaga dan semangat yang tinggi.

Dalam menyeru orang lain kepada kebaikan dan mencegah mereka dari kemungkaran tidak selalu mulus. Selalu terdapat rintangan dan ujian yang menghadang, namun jiwa seorang muhtasib tidak boleh lemah, ia harus selalu tegar dan sabar selama yang ia harapkan adalah keridhoan Allah ta’ala dan pahala yang tak terhingga.

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

فَوَاللَّهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ

“Maka demi Allah andai Allah memberikan hidayah kepada satu orang disebabkan karena engkau, lebih baik bagimu dari pada unta merah (lambang kekayaan orang arab). (HR. Bukhari Muslim)

Beliau juga bersabda:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ اْلإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

Barangsiapa yang menyeru kepada petunjuk (kebajikan), maka dia mendapatkan pahala sebagaimana pahala-pahala orang yang mengikutinya, hal itu tidak mengurangi pahala-pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa menyeru kepada kesesatan, maka dia mendapatkan dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya, hal itu tidak mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim)

Jika kita merenungi kehidupan Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Maka dari awal diutusnya beliau menjadi rasul hingga meninggal, akan kita dapati bahwa kehidupan beliau semuanya berkecimpung dalam bidang dakwah, hisbah dan jihad. Dan dalam semua itu Nabi shallallahu alaihi wasallam banyak mencurahkan segenap tenaga, harta, dan jiwa beliau.

Di Mekah dimana beliau mulai berdakwah, beliau dicaci-maki oleh orang-orang kafir Quraisy. Beliau dituduh dengan berbagai macam tuduhan yang samasekali tidak ada dalam diri beliau. Beliau dituduh dengan penyair, penyihir dan sebagainya. Dan semua itu telah dibantah oleh Allah ta’ala di dalam banyak ayat, salah satunya firman Allah ta’ala:

وَمَا صَاحِبُكُمْ بِمَجْنُونٍ

Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah sekali-kali orang yang gila.” (QS. At-Takwiir: 22)

Selain dicaci-maki, beliau juga sering diganggu dengan berbagai macam gangguan, diantaranya adalah duri yang selalu di taruh oleh Ummu Jamil istri Abu Lahab dijalan yang biasa beliau lewati agar kaki beliau tertusuk duri.

Allah berfirman:

وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ

Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar.” (QS. Al-Lahab: 4)

Imam Ath-Thabati menafsirkan, “Ahlu ta’wil berselisih dalam arti ayat tersebut. Sebagian berkata bahwa ia (Ummu Jamil) kerjaannya adalah menaruh duri dijalan yang biasa dilewati Rasulullah shallallahu alaihi wasallam agar duri tersebut menusuk kaki beliau ketika beliau ingin keluar rumah untuk pergi shalat.” (Tafsir Ath-Thabari 24/679)

Diantara gangguan yang menimpa beliau juga adalah ketika beliau sujud di depan ka’bah sedang disekitarnya terdapat beberapa orang Quraisy, maka Uqbah bin Abi Mu’aith menaruh kotoran unta di punggung beliau sehingga beliau tidak bisa bangun, sampai putrinya Fatimah radhiyallahuanha menyingkirkan kotoran tersebut dari punggung nabi. (Lihat Shahih Al-Bukhari No. 3641)

Ketika penduduk Mekah semakin menentang dakwah beliau, beliau pergi ke Thaif dengan harapan dakwahnya dapat diterima oleh mereka. Ternyata mereka bukan menerima, melainkan melempari beliau dengan batu sampai kaki beliau terluka.

Ini semua hanyalah sedikit dari rintangan-rintangan yang Nabi lewati selama beliau amar ma’ruf nahi munkar. Beliau adalah figur utama dalam kesabaran dan ketegaran dalam berdakwah. Walalu jalan dakwah begitu pahit, namun buah dari jerih parah beliau dalam menyampaikan risalah sangat terlihat. Di peristiwa Fathu Makkah (penaklukan kota Mekah) orang-orang kafir berbondong-bondong masuk islam. Sehingga islam saat itu semakin menguat.

Begitu juga dengan para Nabi yang lain.

Dalam menyampaikan risalah yang Allah amanahkan kepada mereka, seringkali mereka mendapatkan gangguan-gangguan dari kaum mereka, bahkan sebagian nabi dibunuh oleh kaumnya sendiri seperti Nabi Yahya dan Nabi Zakariya. Nabi Nuh telah bersabar dalam menghadapi kaumnya. Beliau berdakwah ditengah-tengah kaum beliau selama 950 tahun. Walaupun begitu hanyalah sedikit kaum beliau yang beriman.

Allah berfirman:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلا خَمْسِينَ عَامًا فَأَخَذَهُمُ الطُّوفَانُ وَهُمْ ظَالِمُونَ

Dan Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, Maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Ankabut: 14)

Demikianlah para Nabi berdakwah kepada kaum mereka. Sulit rintangan yang mereka jalani, namun mereka tetap sabar dan tegar karena yakin bahwa Allah akan menolong mereka. Seorang yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah maksiat maka ia menelusuri jalan para nabi dan rasul. Sehingga tidak heran jika akan mendapat ujian dan cobaan yang serupa dengan mereka. Dengan menyusuri jalan yang ditempuh oleh para rasul, kita mengharap agar kita dikumpulkan dengan mereka dihari kiamat kelak.

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا

“Dan Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, Yaitu: Nabi-nabi, Para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An-Nisa’: 69)

Semoga artikel kali ini dapat membangkitkan semangat saudara-saudari untuk berdakwah dan ber-ihtisab (amar ma’ruf nahi munkar)kepada orang-orang terdekat, sehingga Allah menjadikan saudara sebagai perantara Allah memberikan petunjuk kepada hambanya. Sehingga selama ia mengamalkan apa yang saudara serukan, atau menjauhi sesuatu yang haram karena seruan saudara, saudara mendapatkan pahala yang terus mengalir.

Wallahu a’lam bishshawab.

Penyusun : Arinal Haq

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel Hisbah di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

535 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: