Angkat Bala dan Wabah dengan Taubat

korona.jpeg

Takdir Allah Ta’ala semuanya baik, meski zahirnya terlihat sebaliknya.
Seperti menyebarnya wabah Covid-19 ini, meski karenanya aktifitas banyak dihentikan, bahkan ibadah berjamaah di masjid juga dihentikan sementara, namun darinya kita dapat ambil kesimpulan, bahwa pada saat ini, Allah Ta’ala memanggil para hamba-Nya yang selama ini jauh dari-Nya karena tertipu oleh kemewahan hidup.

Lihatlah, virus ini menimpa siapa saja, kaya atau miskin, pejabat atau rakyat, pesohor atau orang biasa, dan muda maupun tua.

Sehingga pada hari ini, semuanya berbondong-bondong kembali kepada Allah Ta’ala, berdoa kepada-Nya agar dilindungi dari ganasnya virus itu.


Bahkan, semuanya sepakat, tempat-tempat maksiat pun harus ditutup tanpa pandang bulu, dan siapapun yang berkumpul harus dibubarkan tanpa pandang siapapun itu. Padahal ini sangat sulit dilakukan pada kondisi normal jika ditegakkan atas nama Amar Makruf Nahi Munkar.

 

Berikut beberap hal mengapa kita harus bertaubat saat ini juga :

 

Pertama:

Taubat adalah seruan langsung dari Allah Ta’ala, sesuai dengan firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya.” [QS At Tahriim : 8]

 

Kedua:

Sebuah pertanda buruk, ketika seseorang masih bermaksiat padahal sedang ditimpa bala.

قال النعمان بن بشير الأنصاري رضي الله عنه :
“إن الهلكة كل الهلكة، أن تعمل السيئات في زمان البلاء”.
|[ العقوبات لإبن أبي الدنيا (176) ]|

Berkata Annu’man bin Basyir Al Anshari Radhiyallahu ‘Anhu:
“Sesungguhnya celaka yang paling celaka itu, yaitu bisa-bisanya engkau masih bermaksiat disaat bala melanda”.

(Al ‘Uqubaat, Ibnu Abi Addunya hlm 176)

 

Ketiga:

Bagi yang tertular virus ini, ini adalah teguran! Maka jadikanlah untuk muhasabah diri, dan bertaubatlah sebelum terlambat.
Allah Ta’ala berfirman:

ۚ فَإِن يَتُوبُوا يَكُ خَيْرًا لَّهُمْ ۖ وَإِن يَتَوَلَّوْا يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ عَذَابًا أَلِيمًا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۚ وَمَا لَهُمْ فِي الْأَرْضِ مِن وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

“Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan di akhirat; dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi.” [QS At Taubah : 74]

Berkata Fudhail bin Iyadh Rahimahullah:

قال الفُضيل بن عِياض – رحمه الله – :
“إنما جُعِلَت العلل يعني الأمراض، ليؤدب الله بها العباد، وليس كل مَنْ مَرِضَ مات”.
|[ حلية الأولياء (١٠٩/٨) ]|

“Sesungguhnya penyakit itu ada, agar dengannya Allah menegur hamba-hamba-Nya, karena tidak semua yang sakit sampai mati”.
(Hilyatul Auliya hlm 109/8)

 

Keempat:

Bertaubatlah dan raihlah pahala syahid

Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:

عَنْ عَائِشَةَ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا-، أَنَّهَا قَالَتْ : سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الطَّاعُونِ، فَأَخْبَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” أَنَّهُ كَانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ، فَجَعَلَهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ، فَلَيْسَ مِنْ رَجُلٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ، فَيَمْكُثُ فِي بَيْتِهِ صَابِرًا مُحْتَسِبًا يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا يُصِيبُهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ، إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ الشَّهِيدِ “.
أخرجه البخاري

Dari Aisyah Radhiyallahu Anha, sesungguhnya beliau berkata:
Suatu kali aku pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam tentang Penyakit Thaun (Wabah Menular), maka beliau mengabarkan kepadaku:
“Sesungguhnya penyakit itu merupakan azab/hukuman bagi yang dikehendaki Allah Ta’ala, namun adalah rahmat bagi kaum mukminin.


Maka tidaklah terjadi wabah Thaun, kemudian seseorang itu berdiam diri di rumahnya, seraya bersabar dan mengharapkan pahala, dan yakin bahwa tidaklah ada yang menimpanya kecuali apa yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala baginya, maka barangsiapa yang melakukan hal tersebut, baginya pahala orang yang syahid “. (HR Bukhari)

 

Kemudian, Ibnu Hajar Al Asqalani memberikan penjelasan:

قال ابن حجر رحمه الله : “اقتضى منطوقه أن من اتصف بالصفات المذكورة يحصل له أجر الشهيد وإن لم يمت “.
[فتح الباري] (194/10)
“Dan lafaz hadits diatas juga mencakup siapa saja yang melakukannya akan mendapatkan pahala syahid meskipun dia tidak meninggal(karena wabah itu)”.
(Fathul Baari 194/10)

Maka, janganlah sampai, virus ini menjadi hukuman atasmu karena dosa-dosamu yang tidak engkau bertaubat darinya.


Namun, bertaubatlah, dan meski engkau tertimpa virus ini, maka dia adalah rahmat dan pelebur dosa dan kesalahan, Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, atau penyakit, atau kehawatiran, atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karenanya” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Semoga Allah Ta’ala segera mengangkat wabah ini, dan memberikan kita karunia dapat menjalankan ibadah puasa ramadhan nantinya dengan rasa aman.

 

 

Muhammad Hadrami

Alumni Fakultas Syariah LIPIA JAKARTA

 204 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: