Anjuran Makan Sahur dan Keberkahannya

sahur.jpg

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السُّحُورِ بَرَكَةً

Dari Anas bin Malik, ia berkata, Rasulullah bersabda, “Bersahurlah kalian, sesungguhnya di dalam sahur terdapat berkah.” (HR. Al-Bukhari 4/139 dan Muslim 1095)

Hadits ini merupakan dalil yang menunjukkan bahwa orang yang berpuasa diperintahkan untuk melakukan sahur sebelumnya, karena di dalamnya terdapat kebaikan yang banyak dan keberkahan yang agung baik besifat duniawi maupun ukhrawi, dan penyebutan Rasulullah dengan ungkapan “barokah” sebagai bentuk motivasi agar orang yang hendak berpuasa melakukan sahur.

Kata السّحور, dengan huruf siin di-fathah artinya sesuatu yang dikonsumsi pada waktu sahur, yaitu akhir-akhir malam. Adapun bila huruf sinnya di-dhammah, artinya adalah perbuatannya yaitu makan sahur. Jabir berkata, Rasulullah bersabda,

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَصُومَ فَلْيَتَسَحَّرْ بِشَيْءٍ

Siapa yang hendak berpuasa, maka hendaknya ia melakukan sahur dengan sesuatu.”[1]

Dan perintah ini, perintah di dalam hadits ini adalah perintah yang menunjukkan anjuran, bukan perintah yang menunjukkan wajib, menurut konsensus para ulama. Dengan dalil bahwa Nabi dan para sahabatnya melakukan wishal, yaitu melanjutkan puasa ke hari berikutnya tanpa berbuka, yakni : berpuasa siang hari bersama malam harinya.

Dalam aktivitas sahur terdapat keberkahan yang besar meliputi kemanfaatan duniawi dan ukhrawi, di antaranya yaitu,

1) Menjadikan fisik kuat untuk beribadah, membantu untuk melakukan ketaatan kepada Allah pada waktu siang hari berupa shalat, membaca Al-Qur’an dan Dzikir. karena, seorang yang lapar malas untuk beribadah seperti halnya malas untuk melakukan aktivitas sehari-hari, dan ini dapat dirasakan.

2) Menolak keburukan makhluk yang dipengaruhi oleh rasa lapar, maka orang yang makan sahur rela jiwanya, lagi baik muamalahnya.

3) Diperolehnya keinginan untuk menambah puasa karena tarasa ringannya puasa tatkala dilakukan karena sebelum berpuasa ia makan sahur. Dengan demikian, ia terdorong untuk melakukan puasa dan tidak merasa berat.

4) Mengikuti sunnah, karena bilamana orang yang melakukan sahur berniat bahwa sahur yang dilakukan tersebut sebagai bentuk ketaatan kepada perintah Nabi dan untuk meneladani perbuatan beliau, maka sahurnya tersebut merupakan ibadah. Ia memperoleh pahala dengan sebab niatnya ini. Begitu pula bila mana seorang yang berpuasa manakala meniatkan makan dan minumnya adalah untuk memperkuat fisiknya guna melakukan puasa dan qiyamullail, ia pun akan mendapatkan pahala juga.

5) Seseorang bangun di akhir-akhir malam untuk berdzikir, berdoa dan melakukan shalat, waktu tersebut merupakan waktu yang sangat berpeluang doa akan dikabulkan, dan waktu shalawat Allah dan malaikatNya kepada orang-orang yang melakukan sahur. Berdasarkan hadis Abu Sa’id al-Khudry yang akan disebutkan.

6) Hal itu (sahur) menyelisihi ahli kitab, dan seorang muslim diminta agar jauh dari perilaku menuri mereka. Nabi bersabda,

فَصْلُ مَابَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ اْلِكتَابِ أَكَلَةُ السَّحُوْرِ

Pembeda antara puasa kita dan puasa ahli kitab adalah makan sahur.” (HR. Muslim 1096 )

7) Pelakunya dapat melaksanakan shalat Subuh bersama kaum muslimin di waktu yang utama. Oleh karenanya, Anda dapati orang yang melakukan shalat fajar pada bulan Ramadhan lebih banyak daripada pada bulan lainnya, kerena mereka bangun untuk melakukan sahur.

Oleh karenanya, hendaknya orang yang hendak berpuasa bersemangat untuk melakukan sahur, tidak meninggalkannya kerena terkalahkan oleh tidur atau yang lainnya, hendaknya ia mudah tatkala bangun dari tidurnya, baik jiwanya, gembira melaksanakan perintah Rasulullah, besemangat untuk melakukan kebaikan, karena Nabi sangat menekankan untuk melakukan sahur, beliau memerintahkan hal tersebut dan beliau menjelaskan bahwa sahur merupakan syi’ar puasa kaum muslimin, pembeda antara puasa mereka dengan puasa ahli kitab, dan beliau melarang meninggalkannya.

Sahur dapat dilakukan dengan mengonsumsi makanan atau minuman, tidak harus mengonsumsi jenis makanan tertentu. Abu Hurairah berkata, Rasulullah bersabda,

نِعْمَ سَحُورُ المُؤْمِنِ التَّمرُ

“Sebaik-baik konsumsi makan sahur seorang mukmin adalah kurma.”  (HR. Abu Dawud 6/470, Ibnu Hibban 223, al-Baihaqiy 4/237 dan sanadnya shohih).

Abu Sa’id al-Khudriy, berkata, Rasulullah bersabda,

السُّحُورُ أَكْلَةٌ بَرَكَةٌ فَلا تَدَعُوهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جَرْعَةً مِنْ مَاءٍ فَإِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ

“Sahur adalah makanan yang penuh berkah. Oleh karena itu, janganlah kalian meninggalkannya sekalipun hanya dengan minum seteguk air. Karena sesungguhnya Allah dan para malaikat bershalawat kepada orang-orang yang makan sahur.” (HR. Ibnu Abi Syaibah 3/8, Ahmad 10/15, 16 al-Fathu ar Robbaniy. Dan hadis ini dalam sanadnya terdapat kelemahan. Namun hadis ini juga ada jalan periwayatan lain yang saling menguatkan satu dengan yang lainnya, dan hadis ini juga mempunyai beberapa penguat. Lihat : al-Musnad, tahqiq al-Arna-uth dkk 17/150, dan sabda beliau أكله بركة (melakukannya merupakan keberkahan).

Dan termasuk adab puasa yang disebutkan oleh ahli ilmu adalah hendaknya orang yang hendak berpuasa tidak berlebihan ketika mengonsumsi hidangan sahur, terlalu memenuhi perutnya dengan makanan, namun hendaknya makan sekedarnya, karena sesungguhnya tak ada satu tempat yang paling buruk untuk dipenuhi oleh manusia daripada perut. Dan ketika seorang kenyang saat santap sahur niscaya ia tidak dapat memanfaatkan waktunya sampai menjelang zhuhur, karena terlalu banyak makan mewariskan kemalasan dan kebosanan. Dan, pada sabda beliau, (sebaik-baik konsumsi sahur seorang Mukmin adalah kurma) mengisyaratkan kepada makna ini, karena kurma lebih ringan bagi lambung dan mudah dicerna  dibandingkan dengan jenis makanan yang lain. Dan, kekenyangan bila dibarengi dengan bergadang di malam hari dan tidur panjang di siang hari, hal tersebut menyebabkan hilangnya maksud puasa, Wallahu al-musta’an.

Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepadaMu segala bentuk kebaikan, baik yang kami ketahui maupun yang tidak kami ketahui. Kami berlindung kepadamu dari segala jenis kesyirikan yang kami ketahui dan yang kami tidak mengetahui, jauhkan kami dari segala bentuk kemunkaran akhlaq, kemungkaran perbuatan dan hawa nafsu. Berilah ampunan kepada kami ya Allah, kepada kedua orang tua kami serta kepada seluruh kaum Muslimn. Sholawat dan salam semoga tercurah kepada nabi kita Muhamamad.

Sumber : Ahaadiits ash Shiyaam, Ahkaamun Wa Aadaabun, Syaikh Abdullah bin Sholeh al-Fauzan (Dosen di al-Imam Muhammad bin Sa’ud  Islamic University, Cabang Qosim, KSA ), Pasal ketujuh, Fissahuuri Wa Aadaa-bihi, Hadis pertama, Al-Amru bi As-Sahuuri wa Barakaatuh.

Footnote :

[1] HR, Ahmad 3/367, Ibnu Abi Syaibah 3/8 dan selain keduanya. hadis in diriwayatkan dari Syarik bin Abdullah an Nakho-I, beliau lemah hafalannya akan tetapi ia mempunyai riwayat pendukung secara mursal dalam riwayat Sa’Id bin Manshuur di dalam Sunannya dengan redaksi  تسحروا ولو بلقمة (lakukanlah sahur meski sekedar satu suapan) seperti disebutkan al-Hafizh di dalam fathul Baari 4/140, dan lihat al-Musnad (yakni : Musnad karya Imam Ahmad yang diteliti oleh al-Arna-uth dan siapa yang bersama dengannya 23/208.


Artikel : www.hisbah.net

Gabung juga di Fans Page kami hisbah.net

4,271 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: