Apa yang Kita Dapatkan dari Shalat Kita?

orang-shalat.jpg

Saudaraku, mungkin di dalam hati Anda tersimpan sebuah masalah, Allah ta’ala memerintahkan kepada saya untuk shalat lima waktu sehari semalam, memang apa yang akan saya dapatkan dengan mengerjakan shalat yang diperintahkanNya tersebut?

Jawaban persoalan Anda ini adalah sebagai berikut kawan,

Yang akan Anda dapatkan dari shalatmu, maka semuanya adalah kebaikan. Anda dan saudara-saudara Anda, kaum Muslimin mendapatkan manfaatnya. Bukankah Anda suka Allah ta’ala mengampuni dosa-dosa yang Anda lakukan? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Maukah aku tunjukkan kepadamu apa yang dapat menghapus dosa-dosa dan meninggikan derajat?” Mereka menjawab, “’Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Menyempurnakan wudhu dalam kondisi tidak suka, memperbanyak langkah menuju masjid-masjid, menunggu (datangnya waktu) shalat selepas (menunaikan) shalat. Itulah ribath!” (HR. Muslim)

Bila Allah subhaanahu wata’ala mengampuni dosa Anda, maka saudara-saudara Anda, kaum Muslimin juga senang sebab mereka menyukai (kebaikan) untuk Anda sebagaimana menyukai (kebaikan) untuk diri mereka sendiri.

Sesungguhnya manfaat shalat jauh lebih agung daripada yang dapat dihitung oleh seseorang atau dicatat dengan pena. Karena ia adalah perintah ilahi, dengannya Anda menyembah Allah subhaanahu wata’ala sebagai suatu ibadah.

Allah subhaanahu wata’ala berfirman,

قُلْ لِعِبَادِيَ الَّذِينَ آَمَنُوا يُقِيمُوا الصَّلَاةَ

“Katakanlah kepada hamba-hambaKu yang telah beriman, ‘Hendaklah mereka mendirikan shalat.” (QS. Ibrahim: 31)

Sebagaimana Allah subhaanahu wata’ala juga menggabungkan semua kebaikan di dalam shalat dengan perkataan yang sangat menyentuh dan ungkapan yang sangat ringkas. Dia subhaanahu wata’ala berfirman,

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

“Sesungguhnya shalat dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut: 45)

Seseorang boleh menghitung-hitung keistimewaan shalat sekehendak hatinya dalam batasan ini, dan jika tidak mampu menghitungnya secara sempurna, maka paling tidak, menyebutkan sebagiannya.

Bila Anda berhasil mengatasi penyakit keji dari diri Anda dan memangkas habis akar-akarnya dari tingkah laku Anda, maka dien (agama) Anda akan menjadi bersih, jiwa Anda menjadi suci, hati Anda menjadi baik, seluruh anggota badan Anda menjadi sehat dan urusan Anda menjadi lurus. Dan bila Anda hilangkan kemungkaran dan memutus tali-talinya, berarti Anda telah menghabisi virus mematikan di dalam bangunan masyarakat Anda. Sehingga dengan begitu, Anda telah mengamankan dien Anda, diri Anda dan keluarga Anda.

Saudaraku, shalat adalah penolong Anda dikala dalam kesulitan dan pengurai belenggu berbagai rintangan. Allah subhaanahu wata’ala berfirman,

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu.” (QS. Al-Baqarah: 45).

Saudaraku, shalat adalah ketenangan bagi pikiran dan jasmani Anda dari berbagai kesibukan hidup dan kepenatan kerja. Ia adalah faktor utama penguat hubungan antar sesama Muslim, persamaan hak antar sesama manusia, terjaganya peraturan, timbulnya rasa tinggi di atas segala yang ada di dunia, kosongnya hati dari hawa nafsu, sucinya jiwa dari rasa permusuhan dan tipu daya, terjaganya lisan, terpeliharanya mata dan pendengaran, sikap rendah hati dan sopan, terbiasanya diri menunaikan hak-hak, dan melakukan kewajiban dalam kondisi semangat maupun terpaksa.

Saudaraku, Tidak diragukan lagi, shalat memiliki banyak manfaat secara medis, yang direfleksikan dari gerakannya yang spesial, baik ketika berdiri, ruku’, sujud dan duduk, sesuai dengan cara kita beribadah kepada Allah subhaanahu wata’ala, sekalipun faidah-faidah ini luput dari pengetahuan kita.

Kaum muslimin terdahulu menerima perintah-perintah Allah subhaanahu wata’ala tanpa mencari apa alasannya dan apa yang mewajibkannya. Mereka menunaikannya dengan tanpa bertanya dan meminta penjelasan. Akan tetapi lemahnya iman di dalam jiwa mendorong para penyuluh agama dalam rangka membimbing para pemula dan menunjukkan jalan hidayah kepada mereka untuk memberdayakan pikiran dan memaksakan diri dalam menggali keutamaan-keutamaan dan keistimewaan-keistimewaan yang tersimpan dalam agama Islam dan meletakkannya di hadapan mata mereka ibarat meletakkan uang di telapak tangan mereka. Sekalipun begitu, hanya sedikit yang mau mengambil pelajaran dan mau bersyukur. Wallahu a’lam.


Penyusun: Amar Abdullah bin Syakir

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel Hisbah di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

2,783 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: