Apa Yang Menghalangi Engkau Shalat Sebelum Duduk ?

Pengertian-Makmum-Masbuq-dan-Tata-Cara-Sholat-Makmum-Masbuq.jpg

Dari Jabir bin Abdillah, ia berkata, “Ketika kami tengah berada di sisi Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- pada suatu hari, beliau bersabda, “ apakah engkau pernah masuk ke dalam masjid itu ? “ aku pun menjawab ,” Ya” (pernah). Lalu beliau bersabda, “apakah engkau melaksanakan shalat di dalamnya ? “ aku pun menjawab, “Tidak”. Beliau bersabda, “ jika demikian, maka pergilah engkau (ke masjid tersebut) lalu shalatlah dua raka’at “ ! (HR. Ibnu Khuzaemah. Hadis ini dihasankan isnadnya oleh syaikh al-Albani dalam ta’liqnya terhadap shahih Ibnu Khuzaemah,3/163)


Dari Abu Qatadah, sahabat Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam-, ia berkata, “aku pernah masuk ke dalam masjid ini, saat itu Rasulullah tengah duduk di sekeliling manusia, lalu aku segera duduk. Tiba-tiba Rasulullah bersabda (kepadaku),”apa yang menghalangimu untuk shalat dua rakaat sebelum engkau duduk ? aku pun menjawab,” wahai Rasulullah, aku melihat Anda tengah duduk, orang-orang pun tengah duduk. Lalu beliau bersabda, “jika salah seorang di antara kalian masuk masjid, maka janganlah ia duduk sebelum ia melaksanakan shalat dua rakaat (HR. Ibnu Khuzaemah. Diriwayatkan juga oleh imam Muslim, 5/232, hadis no. 1652)


Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata, “Sulaik al-Ghathafaniy datang (ke masjid) pada hari Jum’ah sementara Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- tengah berkhutbah, lalu ia duduk. Maka, Rasulullah berkata kepadanya, “ Wahai Sulaik, bangunlah engkau, lalu shalatlah dua rakaat, dan lakukanlah secara ringkas. Kemudian, beliau bersabda, “jika salah seorang di antara kalian datang (ke masjid) pada hari Jum’at sementara imam tengah berkhutbah, maka hendaknya ia melakukan shalat dua rakaat dan hendaknya ia melakukannya secara ringkas. (HR. Ibnu Khuzaemah. Diriwayatkan juga oleh imam Muslim, 6/402, hadis no. 2021)


@ Ihtisab di dalam Hadis


Dalam hadis-hadis ini terdapat banyak faedah dan pelajaran yang dapat dipetik yang terkait dengan masalah amar ma’ruf nahi munkar, di antaranya yang terangkum dalam  tiga poin berikut ini :


1- Ihtisab terhadap orang yang segera duduk (kala masuk masjid) dan belum melakukan shalat dua rakaat tahiyyatul masjid.


2- Pengagungan dan penghormatan seorang muhtasib terhadap rumah-rumah Allah


3- Perintah untuk melakukan kebaikan dan bimbingan serta arahan kepada hal yang  mendatangkan maslahat dilakukan dalam setiap kondisi dan tempat yang mendukung untuk melakukan hal tersebut.


& Penjelasan :


Hadis-hadis di atas menjelaskan disyariatkannya melakukan shalat tahiyyatul masjid bagi orang yang masuk ke dalam masjid kapan saja waktunya, sekalipun pada waktu yang terlarang. [1] Menunjukkan pula tidak disukainya langsung duduk tanpa melakukan shalat terlebih dahulu dan larangan melakukan tindakan demikian itu. [2] Oleh karena itu, seorang muhtasib hendaknya berihtisab  terhadap orang yang dilihatnya meninggalkan sunnah ini, mengajari orang yang belum tahu dan memberikan penjelasan kepadanya tentang sifat shalat tersebut, yaitu agar dilakukan secara ringan atau ringkas, terkhusus saat khutbah jum’at, demikian pula seorang muhtasib mengingatkan orang yang barangkali lupa tentang sunnah ini.


Seorang muhtasib hendaknya pula meneladani Nabi-shallallahu ‘alaihi wasallam- dalam hal cara mengingkari orang-orang yang meninggalkan sunnah ini, di mana Nabi tidak mencela dan berlaku kasar terhadapnya, bahkan beliau memulainya dengan bertanya kepada sahabatnya, sebagaimana tercermin dalam perkataan beliau kepada Jabir “apakah engkau telah shalat di dalamnya ?”, kemudian beliau membimbingnya dengan sabda beliau,”jika demikian, maka pergilah (engkau ke sana, yakni, masjid tersebut), lalu lakukanlah shalat dua rakaat. Dan juga tercermin dalam sabda beliau kepada Abu Qatadah,”apa yang menghalangimu untuk shalat dua rakaat sebelum engkau duduk ? , kemudian beliau membimbingnya dengan sabda beliau, “jika salah seorang di antara kalian masuk masjid, maka janganlah ia duduk sebelum ia melaksanakan shalat dua rakaat”.


Begitu pula Nabi bersifat lembut kepada Sulaik, beliau memanggil namanya, seraya mengatakan, “ Wahai Sulaik, bangunlah engkau, lalu shalatlah dua rakaat, dan lakukanlah secara ringkas” . Kemudian beliau memberikan bimbingan dan mengajarkan kepada orang-orang yang kala itu tengah berada di dalam masjid dengan sabda beliau, “jika salah seorang di antara kalian datang (ke masjid) pada hari Jum’at sementara imam tengah berkhutbah, maka hendaknya ia melakukan shalat dua rakaat dan hendaknya ia melakukannya secara ringkas.”


Demikianlah gaya dan cara beliau terhadap orang-orang yang menyelisihi sebagian sunnah. Oleh karena itu, sudah selayaknya para dai dan orang-orang yang beramar ma’ruf Nahi munkar meniti cara nabawi ini dalam mendakwahi mereka dan memerintahkan mereka untuk melakukan hal yang ma’ruf dan mencegah mereka dari perkara yang munkar; terkhusus dalam masalah perkara yang sunnah dan anjuran, bukan perkara yang wajib.


Hadis Jabir -yang disebutkan di dalamnya kasus Sulaik-, menunjukkan bahwa seorang muhtasib ia boleh untuk memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah dari kemunkaran dalam setiap kondisi dan tempat yang mendorongnya untuk melakukan hal tersebut, tentunya dengan memperhatikan situasi dan kondisi. Karena, Nabi-shallallahu ‘alaihi wasallam- saat tengah khutbah jum’at (memerintahkan kepada kebaikan), ketika Sulaik masuk masjid. Kondisi yang demikian itu tidak menghalangi beliau untuk melakukan hal yang ma’ruf dan memberikan bimbingan dan arahan kepadanya. Maka, hal itu menunjukkan bolehnya bagi seorang khatib untuk beramar ma’ruf nahi munkar di sela-sela khutbahnya. Oleh karenanya jika seorang muhtasib tengah berkhutbah sementara ia melihat sebagian jama’ah melakukan tindakan yang menyelisihi sunnah, maka ia boleh untuk mengingkari tindakan tersebut, mengajari orang yang belum mengerti, membimbing jama’ah untuk melakukan sunnah. Berkata Ibnu Hajar, “ Sorang khatib boleh untuk menyuruh dan melarang saat ia berkhutbah dan menjelaskan beberapa hukum yang dibutuhkan [3]


Sesungguhnya dua rakaat shalat tahiyyatul masjid merupakan bentuk pengagungan dan penghormatan terhadap rumah-rumah Allah. Tindakan tersebut disunnahkan berdasarkan kesepakatan para aimmah al-fatwa (para ahli pemberi fatwa) [4] Oleh sebab itu seorang muhtasib tidak selayaknya meremehkan perkara ini. Hendaknya seorang muhtasib juga memberikan penjelasan tentang keutamaan dua rakaat shalat ini kepada para jama’ah, berihtisab terhadap orang yang langsung duduk, tidak melakukan shalat dua raka’at (kala masuk masjid sementara masih ada kesempatan untuk melakukannya). Jika orang tersebut belum tahu, maka diajari. Jika orang tersebut lupa maka diingatkan.


Wallahu a’lam


Penulis : Amar Abdullah bin Syakir


Sumber :


al-Ihtisab Fii Shahih Ibni Khuzaemah”, karya : Abdul Wahab bin Muhammad bin Fayi’ ‘Usairiy, hal. 74-76

 


[1] Lihat, Syarh Shahih al-Bukhari, Ibnu Bathal, 2/93, Syarh Muslim, Imam an-Nawawi, 5/233-6/402, Fathul Baariy, Ibnu Hajar, 2/478 dan 640, dan Tharhu at-Tatsrib, al-Iraqi, 3/190)


[2] Lihat, Shahih Ibnu Khuzaemah, 3/163, dan Syarh Muslim, an-Nawawi, 5/233



[3] Fathul Baariy, 2/478. Dan, lihat juga Syarh Muslim, karya, an-Nawawiy, 6/402; Syarh Shahih al-Bukhari, karya : Ibnu Baththal, 2/517


[4] Lihat, Syarh Shahih al-Bukhari, karya : Ibnu Baththal, 2/93, Syarh Muslim, karya : an-Nawawi, 5/233-6/402, Fathul Baariy, karya : Ibnu Hajar, 2/640

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: