Aqidah Kita (bag.9)

Aqidah-Kita-9-Iman-kepada-Malaikat.jpg

Iman Kepada Malaikat

Dan kita mempercayai Malaikat-malaikat Allah, dan mereka semuanya hamba-hamba Allah yang mulia, sebagaimana firmanNya,

بَلْ عِبَادٌ مُكْرَمُونَ . لَا يَسْبِقُونَهُ بِالْقَوْلِ وَهُمْ بِأَمْرِهِ يَعْمَلُونَ

Artinya, sebenarnya Malaikat-malaikat itu adalah hamba-hamba yang dimuliakan. Mereka itu tidak pernah mendahuluiNya dengan perkataan dan mereka senantiasa mengerjakan perintah-perintah Allah (Qs. Al-Anbiya : 26-27).

 

Para malaikat itu dijadikan oleh Allah –subhanahu wata’ala-, dan mereka selalu memperhambakan diri kepada Allah dan patuh akan segala perintahNya. Firman Allah dalam al-Qur’an,

وَمَنْ عِنْدَهُ لَا يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَلَا يَسْتَحْسِرُونَ (19) يُسَبِّحُونَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لَا يَفْتُرُونَ(20)

Artinya, dan para malaikat yang berada di sisiNya mereka tiada mempunyai rasa angkuh dan sombong untuk menyembahNya dan tiada pula mereka merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya. “(Qs. al-Anbiya’ : 19-20).

 

Malaikat-malaikat itu tidak dijadikan Allah dalam bentuk tubuh kasar yang dapat dilihat. Dan sewaktu-waktu Allah memperlihatkan kepada hambaNya, sebagaimana Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- pernah melihat Malaikat Jibril dengan 600 sayapnya di atas langit, dan juga waktu Jibril dalam bentuk seperti manusia berbicara dengan Maryam.

 

Dan pernah pula Malaikat Jibril datang kepada Nabi-shallallahu ‘alaihi wasallam- yang sedang bersama sahabat-sahabatnya dalam wujud seorang laki-laki yang belum dikenal sebelumnya, tidak pula terdapat tanda-tanda perjalanan pada Jibril sebagaimana orang yang datang dari tempat yang jauh, dengan wajah yang sangat putih dan pakaian yang serba putih pula dan rambut yang hitam pekat. Jibril kemudian duduk dekat Nabi Muhammad-shallallahu ‘alaihi wasallam-, menyandarkan kedua lututnya pada lutut beliau, dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas paha beliau, lalu bertanya kepada beliau dan beliau menjawab pertanyaan-pertanyaan itu kemudian beliau pun menyampaikan hal itu kepada para sahabat yang hadir (setelah Jibril pergi), bahwa yang datang adalah Malaikat Jibril untuk mengajarkan agama Allah.

Dan kita mempercayai bahwa para Maikat itu mendapat tugas yang berbeda, sesuai dengan perintah yang diberikan oleh Allah –subhanahu wa ta’ala-seperti ;

Malaikat Jibril bertugas menyampaikan wahyu kepada para Nabi dan Rasul.

Malaikat Mikail bertugas meniup terompet di hari Kiamat dan hari Kebangkitan di padang Mahsyar.

Malaikat Maut bertugas mengambil nyawa orang yang meninggal.

Malaikat penjaga gunung bertugas menjaga gunung.

Malaikat Malik penguasa Neraka.

Malaikat yang bertugas meniup ruh bagi janin dalam rahim,

Malaikat yang menjaga kiri dan kanan manusia, yang mencatat segala amal perbuatan mereka, sebagaimana firmanNya,

عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ (17) مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ(18)

Artinya, Seoarang Malaikat di sebelah kanan dan yang lain di sebelah kiri, tidak ada suatu ucapan yang diucapkan melainkan ada di dekatnya Malaikat yang selalu mengawasi dan hadir (Qs. Qaaf : 17-18).

 

Dan ada pula Malaikat yang bertugas menanyakan kepada mayat dalam kubur tentang siapa tuhannya, apa agamanya, dan siapa Nabinya, sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an,

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ

Artinya, Allah meneguhkan iman orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, dan Allah menyesatkan orang-orang yang zhalim dan Allah berbuat apa-apa yang dikehendakiNya (Qs. Ibrahim : 27).

 

Ada Malaikat yang bertugas menjaga pintu Surga, seperti disebutkan dalam al-Qur’an :

وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ (23) سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ (24)

Artinya, “Sedang Malaikat masuk ke tempat mereka di Surga dari semua pintu, sambil mengucapkan, “Salamun ‘alaikum bima shabartum! (Keselamatan atasmu berkat kesabaranmu).’ Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (Qs. Ar-Ra’d : 23-24).

 

Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- pernah menyatakan bahwa baitul Makmur ada di atas langit setiap hari tujuh puluh ribu malaikat masuk dan sembahyang di dalamnya dan tidak ada di antara mereka yang kembali.

Wallahu a’lam

Bersambung, insya Allah

Sumber :

Dinukil dari: “ Aqidah Ahlu as-Sunnah Wal Jama’ah “, Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin-semoga Allah merahmatinya. (E.I, hal. 40-44)

Amar Abdullah bin Syakir

 

2 thoughts on “Aqidah Kita (bag.9)”

  1. UmmuHurairah berkata:

    Bismillaah, Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh.
    Untuk pengurus hisbah.net yang semoga dirahmati Allaah…
    Alhamdulillah sudah dibagian 9, artikel ini sangat bermanfaat..
    Ditunggu bagian selanjutnya..
    Syukron wa jazaakumullah khayran.

    1. Rendra Sukmawirawan berkata:

      Waalaikumsallam, sebelumnya Kami ucapkan terimakasih, karna telah Menyimak, Dan membaca Artikel-artikel yang ada pada website http://www.hisbah.net.
      sehubungan hal tersebut, kami telah memposting artikel yang selanjutnya yaitu Aqidah Kita (bag.10)Aqidah Kita (bag.10). silahkan disimak, Jazakallahukhoiron

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: