Connect with us

Tazkiyatun Nufus

Bagaimana Jiwa Dapat Suci ?

Published

on

Jiwa dapat menjadi suci dengan meninggalkan segala larangan Allah dan melaksanakan perintahNya.

Allah ta’ala berfirman,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّهَا

Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu) (Qs. Asy-Syams :  9)

Dan FirmanNya,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى

Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri (dengan beriman) (Qs. Al-A’la : 14)

Abu Qatadah, Ibnu Uyainah dan yang lainnya berkata tentang ayat ini, “ Sungguh beruntunglah orang yang membersihkan jiwanya dengan taat kepada Allah dan mengerjakan amal-amal shalih”.

Al-Farra’ dan az Zajjaj berkata, “sungguh beruntunglah jiwa yang telah disucikan oleh Allah dan sungguh celakalah jiwa yang dinodai oleh Allah”.

Demikian pula disebutkan oleh al-Walibi dari Ibnu Abbas dengan sanad terputus. Bukan itu yang dimaksudkan oleh ayat tersebut, tetapi yang dimaksud secara pasti adalah makna yang pertama, baik lafzh maupun maknanya.

Asal kata “az-Zakah” artinya tambahan dalam kebaikan. Dikatakan,”Tanaman atau harta itu bertambah jika tanaman dan harta itu berkembang”. Kebaikan tidak akan mungkin akan bertambah melainkan dengan meninggalkan keburukan. Tanaman tidak akan berkembang dengan baik kecuali dengan menyingkirkan apa-apa yang mengganggunya.

Seorang tidak dianggap menyucikan dirinya kecuali dengan meninggalkan keburukan, karena keburukan itu dapat mengotori dan menodai jiwa sehingga ia menjadi rendah dan hina. Orang yang bermaksiat berarti ia telah menginjak-injak harga dirinya., sedangkan orang-orang yang berbuat baik dan beramal shaleh maka ia telah mengangkat harga diri dan memuliakannya.

Allah azza wajalla berfirman,

وَلَوْلاَ فَضْلُ اللهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَى مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا

Kalau bukan karena karunia Allah dan rahmatNya kepadamu, niscaya tidak seorang pun di antara kamu bersih bersih (dari perbuatan keji dan munkar itu) selama-lamanya (Qs. An-Nur : 21)

Allah menjelaskan bahwa kesucian jia hanya dapat dicapai dengan meninggalkan perbuatan keji. Oleh sebab itu Dia berfirman,

قُلْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوْا مِنْ أَبْصَارِهِمْ

Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya (Qs. An-Nuur : 30)

Sebab meninggalkan maksiat termasuk perbuatan jiwa, karena ia mengetahui bahwa perbuatan buruk itu terkutuk dan tidak disukai. Ketika nafsu mendorong dirinya untuk melakukan kemungkaran, maka ia berusaha melawannya  jika ia benar-benar percaya kepada al-Qur’an dan beriman kepada apa yang dibawa oleh Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam-. Pembenaran, iman, kebencian dan berusaha untuk melawan nafsu merupakan perbuatan jiwa dan jika ia berhasil mengendalikan nafsunya maka dengan itu ia pun akan menjadi suci . berbeda ketika ketika seseorang didorong nafsunya untuk melakukan maksiat, maka ia telah menodai dan mengotori jiwanya sehingga menjadi hina seperti tanaman yang tumbuh disemak belukar.

Pahala hanya didapatkan dengan adanya amal nyata, demikian pula dengan dosa. Allah azza wajalla memerintahkan manusia untuk berbuat kebaikan dan melarang berbuat keburukan, dan manusia telah sepakat bahwa yang dituntut dengan perintah adalah perbuatan nyata. Jika seorang mukmin dilarang berbuat kemungkaran , berarti ia tidak boleh mendekatinya dan harus berusaha untuk menjauh sejauh-jauhnya. Sedangkan jika ia disuruh untuk melakukan kebaikan, maka ia harus melakukannya dengan tunduk dan patuh sebagai bentuk realisasi dari tauhid, keimanan dan kepatuhannya terhadap syariat.

Maka tauhid dan iman merupakan faktor terbesar dalam menyucikan jiwa kemudian disertai dengan menjalankan syariat seperti melakukan amal shaleh dan bersedekah, sementara syirik dan dosa merupakan faktor terbesar dalam mengotori dan menodainya. Para ualam salaf berkata tentang,” Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri (Qs. Al-A’la : 14)  , yaitu menyucikan dirinya dari syirik dan masiat dengan bertaubat kepada Allah.

Sementara Abi Sa’id, ‘Atha dan Qatadah, berkata, “menyucikan dirinya dengan zakat fithrah”. Namun sebagian mereka mengatakan bahwa ayat tersebut tidak hanya mencakup zakat fithrah saja, tetapi memberikan zakat fithrah dan menunaikan shalat Id termasuk dalam cakupan ayat tersebut.

Oleh karena itu, setiap kali Yazid bin Hubaib hendak melaksanakan shalat Id ia membawa zakat fithrah dan menyerahkannya sebelum shalat, dan jika ia tidak mendapatkan sesuatu apa yang hendak disedekahkannya, maka ia mengeluarkan yang lain meskipun hanya bawang putih.

Al-Hasan berkata tentang ayat yang berbunyi,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى

Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri (dengan beriman) (Qs. Al-A’laa: 14) adalah orang yang perbuatannya bersih dan suci.

Abu al-Ahwash berkata, “Kesucian semua urusan” dan az Zajjaj berkata, “Dia menyucikannya dengan ketaatan kepada Allah”.

Wallahu a’lam

Sumber :

Tazkiyyatun Nafs, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, (Edisi Bahasa Indonesia), hal. 130-132

Amar Abdullah bin Syakir

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

baru

Sikap Seorang Muslim Ketika Terjadi Bencana Gempa Dan Musibah Lainnya

Published

on

Dunia diciptakan oleh Allah Ta’ala sebagai tempat ujian, sehingga kebahagiaan yang hakiki tidak ada di dunia ini, melainkan di surga kelak.

Maka dari itu, Allah Ta’ala selain memerintahkan para hamba-Nya untuk senantiasa beribadah kepada-Nya sebagai bekal ke surga, juga Allah Ta’ala adakan di dunia ini musibah-musibah, apakah itu sebagai ujian dan cobaan yang dengan-Nya Allah Ta’ala mengangkat derajat seorang mukmin atau menghapuskan dosanya, atau bisa jadi adalah hukuman bagi para pelanggar larangan Allah Ta’ala dari maksiat dan lainnya.

Oleh karena itu, hendaklah setiap insan yang tertimpa musibah kembali mengingat dan menguatkan keimanannya akan takdir Allah Ta’ala, baik dan buruk-Nya, dan semua yang terjadi padanya atas kehendak Allah Ta’ala.

Sebagaimana firman-Nya:

قُل لَّن يُصِيبَنَآ إِلَّا مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَىٰنَا ۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُؤْمِنُونَ

Artinya: Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal”. (Surat At-Taubah Ayat 51)

Dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

لَا يُؤْمِنُ المَرْءُ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

‘Seseorang tidak beriman sampai ia mengimani takdir yang baik dan yang buruk,’” (HR Ahmad).

 

 

Dan berikut beberapa sikap seorang mukmin terhadap musibah yang menimpanya:

 

  1. Sabar Dan Rela

 

Sabar menghadapi kenyataan dan merelakan segala kehilangan, karena semua yang kita miliki, sejatinya milik Allah Ta’ala.

Sebagaimana firman-Nya:

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“Sesungguhnya kita milik Allah dan kita akan kembali kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah[2]: 156)

 

  1. Doakan Para Korban

Mati karena tertimpa bangunan termasuk yang dikatakan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai syahid, sebagaimana sabdanya:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ أَوْقَعَ أَجْرَهُ عَلَيْهِ عَلَى قَدْرِ نِيَّتِهِ وَمَا تَعُدُّونَ الشَّهَادَةَ قَالُوا الْقَتْلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الشَّهَادَةُ سَبْعٌ سِوَى الْقَتْلِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ الْمَطْعُونُ شَهِيدٌ وَالْمَبْطُونُ شَهِيدٌ وَالْغَرِيقُ شَهِيدٌ وَصَاحِبُ الْهَدَمِ شَهِيدٌ وَصَاحِبُ ذَاتِ الْجَنْبِ شَهِيدٌ وَصَاحِبُ الْحَرَقِ شَهِيدٌ وَالْمَرْأَةُ تَمُوتُ بِجُمْعٍ شَهِيدَةٌ (رواه ابي داود)

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah telah memberikan pahala kepadanya sesuai dengan niatnya. Apa yang kalian ketahui tentang mati Syahid?!” Mereka berkata, “Berperang di jalan Allah Maha Perkasa” Rasulullah Saw bersabda: “Mati syahid ada tujuh macam selain berperang di jalan Allah Maha Perkasa: Orang yang mati karena wabah pes adalah syahid, orang yang mati karena sakit (dalam) perut (nya) adalah syahid, orang yang mati tenggelam adalah syahid, orang yang mati tertimpa benda keras adalah syahid, orang yang mati karena penyakit lepra adalah syahid, orang yang mati terbakar adalah syahid dan seorang wanita yang mati karena hamil adalah syahidah” (HR. Abu Dawud)

Maka, doakanlah para korban semoga diterima di sisi Allah Ta’ala sebagai syuhada.

  1. Muhasabah

Namun perlu juga disadari untuk menghilangkan rasa tidak terima terhadap takdir dan kenyataan, bahwa bisa jadi musibah adalah teguran dan hukuman dari Allah Ta’ala akan kelalaian dan kemaksiatan, Allah Ta’ala berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ ﴿٤١﴾قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِن قَبْلُ ۚ كَانَ أَكْثَرُهُم مُّشْرِكِينَ ﴿٤٢﴾

 

“Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan dengan sebab tangan-tangan manusia, agar Allah merasakan akibat dari perbuatan mereka, agar mereka kembali kepada Allah. Katakanlah: ‘Berjalanlah kalian di muka bumi, lihatlah akibat orang-orang yang terdaulu, kebanyakan mereka berbuat syirik.’” (QS. Ar-Rum[30]: 41-42)

 

  1. Bertaubat Sebelum Tidak Sempat

Kemudian, bencana yang datang tiba-tiba haruslah dijadikan pengingat bahwa kematian tidak menunggu taubat, namun bertaubatlah untuk persiapan kematian yang bisa datang kapan saja.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّىٰ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ وَلَا الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ ۚ أُولَٰئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

 

Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang “. Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih. [An Nisaa’ : 18].

 

  1. Jangan Lalai Lagi

Selamat dari bencana berarti Allah Ta’ala masih memberikan kesempatan untuk bertaubat dan berubah lebih baik ke depannya.

Maka jangan sampai lalai kembali dengan tidak menunaikan kewajiban dan melanggar larangan-Nya.

Janganlah pernah merasa aman, karena hukuman Allah Ta’ala bisa diturunkan kapan saja.

Allah Ta’ala berfirman:

فَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَىٰ أَن يَأْتِيَهُم بَأْسُنَا بَيَاتًا وَهُمْ نَائِمُونَ ﴿٩٧﴾ أَوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَىٰ أَن يَأْتِيَهُم بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ ﴿٩٨﴾ أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّـهِ ۚ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّـهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ ﴿٩٩﴾

 

“Apakah penduduk desa/kota aman merasa aman akan datang adzab Kami kepada mereka di waktu malam di saat mereka sedang tidur? Apakah penduduk desa/kota itu merasa aman akan datang ekpada mereka adzab Kami kepada mereka di waktu dhuha disaat mereka sedang bermain? Apakah mereka merasa aman dengan makarnya Allah? Dan tidak merasa aman dengan adzab Allah kecuali orang -orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf[7]: 97-99)

 

Terakhir, semoga Allah Ta’ala memberikan kesabaran kepada saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah dan mendapatkan ganti yang lebih baik dan menerima para korban sebagai syuhada dan mendapatkan tempat terbaik di surga-Nya kelak, Aaamiin.

Artikel: www.hisbah.net
Ikuti update artikel kami di Hisbah.net
Youtube: HisbahTv
Instagram: Hisbahnet dan Al Hisbah Bogor

Continue Reading

baru

Kemudian Istiqamahlah !

Published

on

Segala puji  bagi Allah, Dzat yang memerintahkan hamba-Nya agar beristiqamah, seraya berfirman,

سجي فَٱسۡتَقِمۡ كَمَآ أُمِرۡتَﵞ

Maka istiqamahlah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu … (Qs. Hud : 112)

Istiqamah adalah seseorang tetap berada di atas syariat Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى – sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى –. Jadi, istiqamah itu adalah sikap konsisten dalam menaati Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى –.

Dalam ayat ini, perintah agar beristiqamah itu ditujukan kepada Nabi kita Muhammmad-صَلَّى اللَّه ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ-. Perintah yang ditunjukkan kepada beliau-صَلَّى اللَّه ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ-itu berlaku pula untuk beliau dan ummatnya semuanya. Kecuali, bila mana ada dalil yang menunjukkan bahwa hal tersebut khusus hanya untuk Nabi-صَلَّى اللَّه ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ-saja. Maka, ketika itu, hal tersebut hanya berlaku untuk beliau saja. Adapun bila tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa hal tersebut khusus untuk Nabi -صَلَّى اللَّه ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ-maka, hal itu berlaku untuk Nabi dan ummatnya.

Atas dasar kaedah ini, maka firman Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى – berlaku umum, untuk beliau-صَلَّى اللَّه ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ- dan untuk ummatnya. Setiap individu wajib untuk beristiqamah sebagaimana diperintahkan. Maka, tidak melakukan penggantian dalam agama Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى –, tidak pula menambah-nambahinya, tidak pula menguranginya. Oleh karena itu, Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى –berfirman di ayat lain,

ﵟوَٱسۡتَقِمۡ كَمَآ أُمِرۡتَۖ وَلَا تَتَّبِعۡ أَهۡوَآءَهُمۡۖ ﵞ

Maka istiqamahlah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu, dan janganlah kamu mengikui keinginan mereka … (Qs. Asy-Syura : 15)

***

Sebagaimana Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى –perintahkan kepada hamba-Nya agar beristiqamah, demikian pula Rasul-Nya Muhammad-صَلَّى اللَّه ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ-memerintahkan para pengikutnya untuk beristiqamah. Sebagaimana ditunjukkan dalam hadis berikut ini.

Dari Abu Amr, dikatakan juga, Abu ‘Amrah Sufyan bin Abdillah-semoga Allah meridhainya- ia berkata, ‘Aku pernah mengatakan (kepada Rasulullah), ‘Wahai Rasulullah ! Katakanlah kepadaku satu perkataan yang aku tidak akan menanyakannya kepada siapa pun selain Anda.’ Beliau pun menjawab,

قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ)

‘Ucapkanlah, ‘Aku beriman kepada Allah.’ Kemudian beristiqamahlah’. “ (HR. Muslim)

Sabda beliau,

قُلْ آمَنْتُ

‘Ucapkanlah, ‘Aku beriman.

Yang dimaksud dengan hal tersebut bukanlah sekedar perkataan dengan lisan. Karena, ada sebagian orang yang mengatakan, ‘saya beriman kepada Allah dan hari akhir’ padahal mereka itu tidaklah beriman.

Tetapi, yang dimaksud adalah ucapan hati dan begitu juga ucapan lisan. Yakni, hendaknya seseorang mengucapkanya dengan lisannya setelah ia menetapkan hal tersebut di dalam hatinya, dan menyakininya dengan keyakinan yang pasti, tidak ada keraguan di dalamnya. Karena, tidak cukup keimanan itu dengan hati saja, tidak cukup keimanan itu dengan ucapan lisan saja. Keimanan itu haruslah dengan keyakinan hati dan ucapan lisan. Oleh karena itu, Nabi-صَلَّى اللَّه ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ-mengatakan saat menyeru manusia kepada Islam,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، قُولُوا: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ‌تُفْلِحُوْا

Wahai manusia ! ucapkanlah oleh kalian ‘لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ’ (tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah), niscaya kalian beruntung (HR. Ibnu Khuzaemah, al-Baihaqi dan al-Hakim)

Beliau mengatakan,

قُولُوا

ucapkanlah oleh kalian.

Yakni, ucapkanlah dengan lisan kalian. Sebagaimana pula harus ada ucapan hati.

Perkataan beliau,

‘ آمَنْتُ بِاللَّهِ ‘

‘Aku beriman kepada Allah.’

Ini mencakup iman akan keberadaan Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى –, rububiyah-Nya, uluhiyah-Nya, nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya, hukum-hukum-Nya, berita-berita-Nya dan segala hal yang datang dari sisi-Nya, Anda harus mengimaninya.

Lalu, apabila kamu telah beriman dengan hal-hal tersebut, maka beristiqamahlah dalam agama Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى –, dan janganlah kamu melampoi batas itu, jangan melenceng ke kanan, jangan pula melenceng ke kiri.

Maka, istiqamahlah di atas agama, dan beristiqamahlah di atas persaksian bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى –dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى –. Dan, yang demikian itu dengan mengikhlashkan, memurnikan ketaatan hanya untuk Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى – dan mengikuti Rasulullah-صَلَّى اللَّه ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ-. Istiqamahlah mengerjakan shalat, istiqamahlah menunaikan zakat, puasa, haji dan seluruh syariat Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى –.

Sabda beliau,

قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ ثُمَّ

‘Ucapkanlah, ‘Aku beriman kepada Allah.’ Kemudian

Ini merupakan dalil yang menunjukkan bahwa istiqamah itu tidak akan ada kecuali setelah adanya keimanan, bahwa termasuk syarat amal shaleh, yaikni, termasuk syarat keabsahan amal shaleh dan penerimaannya adalah dibangun di atas iman. Maka, apabila seseorang melakukan amal shaleh yang zhahirnya sesuai dengan apa yang semestinya dilakukan, namun batinnya runtuh, penuh dengan keraguan, atau dalam kegoncangan, atau mengingkari dan mendustakan, maka hal yang demikian itu tidak akan memberikan manfaat kepada pelakunya.

Oleh karena ini, para ulama-رَحِمَهُمُ اللَّهُ -sepakat bahwa termasuk syarat sah dan diterimanya ibadah adalah agar orang yang melakukan amal shaleh tersebut beriman kepada Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى –, yakni, mengakui-Nya dan semua yang datang dari sisi-Nya, تَبَارَكَ وَتَعَالَى.

Faedah Hadis

Diambil faedah dari hadis ini bahwa hendaknya seseorang -ketika melakukan suatu amal shaleh- merasa bahwasanya ia tengah melakukannya semata-mata untuk Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى –, ia pun dapat melakukannya dengan pertolongan Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى –, dan hendaknya ia melakukannya dengan mengikuti syariat Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى –. Karena, seseorang tidak akan dapat istiqamah di atas agama Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى –, kecuali setelah beriman kepada Allah, تَبَارَكَ وَتَعَالَى. Dan, hal ini diambil faedah dari firman-Nya, تَبَارَكَ وَتَعَالَى,

ﵟإِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ ٥ ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ٦ﵞ

Hanya kepada Engkaulah Kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus. (al-Fatihah : 5-6)

Yang pertama adalah melakukan amal hanya untuk Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى – semata.

Yang kedua adalah melakukan amal dengan pertolongan Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى –.

Yang ketiga adalah melakukannya sesuai dengan tuntunan syariat-Nya-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى –.

Oleh karena itu, kita katakan bahwa yang dimaksud dengan ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ  (jalan yang lurus) di dalam ayat yang mulia ini adalah syariat Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى –yang akan menyampaikan kepada-Nya.

Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى –lah yang memberikan taufiq

Wallahu A’lam

Amar Abdullah bin Syakir

Sumber :

Banyak mengambil faedah dari Syarh Riyadhushsholihin, Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin-رَحِمَهُ اللَّهُ- 1/568, 571-572

Continue Reading

Tazkiyatun Nufus

Melestarikan Amal Ramadhan Pasca Ramadhan

Published

on

Istiqamah dalam ketaatan kepada Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعاَلَى -merupakan perkara yang sangat ditekankan dalam syariat Islam. Hal ini terisyartakan dalam firman-Nya.

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

Dan sembahlah tuhanmu sampai yakin (ajal) datang kepadamu (Qs. Al Hijr : 99)

Alhamdulillah, dengan taufiq Allah- kita dapat melakukan banyak amal ketaatan selama bulan Ramadhan, maka hendaklah kita berupaya dengan sungguh-sungguh melestarikan amal-amal tersebut pasca Ramadhan. Di antara amal ketaatan tersebut yaitu puasa, qiyamullail dan mencari kebaikan.

  1.  Puasa

Alhamdulillah, kewajiban puasa telah usai kita laksanakan, dan kita mohon kepada Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى- agar menerimanya. Usainya puasa Ramadhan ini, tidak berarti usai pula ibadah puasa yang sangat mulia ini. Ibadah yang mulia ini masih terus disyariatkan sepanjang tahun.

  1. Puasa Syawwal

Bila ternyata Anda masih mempunyai tanggungan puasa Ramadhan, bersegeralah Anda mengqadhanya, agar Anda segera terbebas dari tanggungan, dan agar Anda dapat segera berpuasa di bulan Syawal sebanyak 6 hari lamanya. Nabi-shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian ia mengikutinya dengan puasa 6 hari dari bulan Syawwal, maka itu bagaikan puasa satu tahun.

  1. Puasa Sehari Berbuka Sehari

Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

“…Puasa yang paling disukai di sisi Allah adalah puasa Daud. Beliau biasa tidur di pertengahan malam dan bangun pada sepertiga malam terakhir dan beliau tidur lagi pada seperenam malam terakhir. Sedangkan beliau biasa berpuasa sehari dan buka sehari.” (HR. Bukhari)

  1. Puasa Senin-Kamis

Bila Anda tidak mampu melakukan puasa sehari dan buka sehari, maka puasa di hari senin dan kamis, mungkin dapat Anda lakukan.

Abu Hurairah-رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – meriwayatkan bahwa Rasulullah-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- bersabda, “Amal-amal itu diangkat pada hari senin dan kamis, maka aku suka bila amalku diangkat sementara aku tengah berpuasa (HR. at-Tirmidzi)

  1. Puasa Tiga Hari Setiap Bulan

Bila Anda tidak mampu melakukan puasa pada hari senin dan kamis, yang berarti Anda berpuasa dua kali dalam seminggu atau delapan kali dalam sebulannya, maka, mungkin Anda dapat berpuasa tiga hari setiap bulannya.

Abu Hurairah-رَضِيَ اللهُ عَنْهُ –mengatakan :

Kekasihku berwasiat tiga hal kepadaku agar aku tidak meninggalkannya hingga aku meninggal dunia, yaitu (1) puasa tiga hari setiap bulan, (2) shalat Dhuha, dan (3) shalat witir sebelum tidur (HR. al-Bukhari)

Anda dapat melakukan puasa tiga hari setiap bulannya ini pada hari-hari yang mudah bagi Anda untuk melakukannya.

Mu’adzah-رَضِيَ اللهُ عَنْهَا-mengatakan, “Aku pernah bertanya kepada ‘Aisyah, ‘Apakah Rasulullah-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم-berpuasa tiga hari tiap bulannya ? ‘Aisyah menjawab : ‘Iya’. Lalu, aku bertanya lagi, ‘di hari apa saja beliau melakukannya ? ‘Aisyah menjawab, ‘Beliau tidak peduli pada hari apa saja beliau melakukannya.” (HR. at-Tirmidzi)

  1. Puasa pada hari Arafah

Yaitu, puasa yang dilakukan pada tanggal 9 Dzulhijjah.

Rasulullah-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-bersabda, “Puasa hari Arafah aku berharap kepada Allah akan menghapus dosa-dosa setahun sebelumnya dan setahun yang setelahnya.” (HR. Muslim)

  1. Puasa ‘Asyura

Yaitu, puasa yang dilakukan pada tanggal 10 Muharram.

Abu Qatadah al-Anshariy-رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- meriwayatkan bahwa Rasulullah-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-pernah ditanya tentang puasa pada hari ‘Asyura, maka beliau pun menjawab, ‘Menghapus dosa satu tahun yang telah lalu. ‘ (HR. Muslim)

  1. Puasa Muharram

Selain puasa di tanggal 10 di bulan ini, bulan Muharam, yang disebut dengan puasa ‘Asyura juga disyariatkan puasa di hari-hari yang lainnya dari bulan ini.

Rasulullah-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-bersabda, “Sebaik-baik puasa setelah Ramadhan ialah puasa pada bulan Allah, yaitu bulan Muharram.” (HR. Muslim)

Semoga Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memberikan taufiq pula kepada kita untuk melakukan puasa-puasa sunnah tersebut. amin

  1. Qiyamullail

Alhamdulillah, selama bulan Ramadhan, kita dapat melakukan amal ini, yakni, Qiyamullail (shalat tarawih dan shalat witirnya) bersama imam. Amal ini sepatutnya pula dilestarikan sepanjang tahun, meskipun hanya 2 rakaat saja di tambah dengan 3 atau 1 rakaat untuk shalat witirnya.

Rasulullah-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-bersabda,

يَا عَبْدَ اللهِ لَا تَكُنْ مِثْلَ فُلَانٍ كَانَ يَقُوْمُ اللَّيْلِ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ

Wahai Abdullah (hamba Allah) ! Jangan menjadi seperti si fulan. Dulu, ia biasa mengerjakan shalat malam, namun kemudian ia meninggalkan qiyamullail (shalat Malam) (HR. al-Bukhari)

  1. Mencari Kebaikan

Di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan ada peristiwa agung yang disebut dengan ‘Lailalatul Qadar’, di mana Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى -berfirman tentang malam ini,

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan (Qs. Al-Qadar : 3)

Kita sangat dianjurkan untuk mencarinya dengan maksud untuk mendapatkan kebaikannya yang sangat banyak. Kita khawatir terhalang dari mendapatkan kebaikannya,

Kata Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-,

لِلَّهِ فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

Pada bulan tersebut, Allah memiliki satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa terhalang dari kebaikannya, sungguh ia orang yang terhalang (dari seluruh kebaikan)”(HR. an-Nasai dan Ahmad)

Kini, malam itu telah kita lewati, namun tidak berarti bahwa kita berhenti mencari kebaikan itu. Tidak, tidak sama sekali. Karena, kebaikan-kebaikan masih banyak tersebar di banyak lini kehidupan kita, dan kesempatan untuk mencari dan mendapatkannya masih akan tetap  ada selagi ajal belum menjemput kita. Karenanya, sepatutnya, kita terus melestarikan amal nan mulia ini. Kita manfaatkan sisa umur kita yang masih ada untuk terus mencari kebaikan dan mendapatkannya. Bahkan, hendaknya kita berlomba untuk mencari dan mendapatkannya.

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِۗ اِلَى اللّٰهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيْعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَۙ

maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah kamu semua kembali, lalu diberitahukan-Nya kepadamu terhadap apa yang dahulu kamu perselisihkan (Qs. Al-Maidah : 48)

Akhirnya, kita memohon kepada Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى- semoga mengaruniakan kepada kita keistiqamahan dalam ketaatan, diberikan taufiq oleh-Nya untuk dapat berlomba-lomba dalam berbuat kebajikan. Amin

 

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, beserta segenap keluarganya dan para sahabatnya.

 

Wallahu A’lam

 

Amar Abdullah bin Syakir

Artikel: www.hisbah.net
Ikuti update artikel kami di Hisbah.net
Youtube: HisbahTv
Instagram: Hisbahnet dan Al Hisbah Bogor



Continue Reading

Trending